Kopi Flores “Nyasar” di Makassar

Pesawat Trans Nusa yang membawa saya tiba juga di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa sore, 21 Mei 2019.

Penerbangan dari Maumere ke Makassar memakan waktu kurang lebih 2 jam, dan saya tiba dengan selamat.

Salah seorang rekan saya pun telah menanti di area penjemputan. Untuk sebuah pertemuan yang terbilang singkat.

Sebab, saya hanya transit sebentar di daerah yang dulunya dikenal dengan nama Ujung Pandang ini. Kota tujuan saya adalah Yogyakarta.

Namun, makna sebuah pertemuan tentu tak selamanya diukur dari panjang pendeknya durasi waktu. Yang terpenting ialah bagaimana penjalanan laku suasana di dalamnya.

iklan

Pertemuan boleh saja panjang, tapi jika proses yang terjadi hanya sekenanya saja, ia bisa tampak sia-sia.

Untuk rekan tersebut, saya membawakan sebuah ole-ole. Bukan sebuah lemari, melainkan sebotol kopi Flores (Bajawa) yang didapatkan dari pasar Mataloko, Kabupaten Ngada, beberapa bulan lalu.

Botol kopi itu, sebuah tupperware sehingga kehangatan kopi tentu dapat terjaga. Saya juga memang sengaja jadikan itu sebagai bekal perjalanan.

Berbicara tentang kopi, ada satu cerita atau mungkin juga masalah yang menggerogoti saya sebelum perjalanan ini dilakukan.

Nun jauh di ujung barat Flores, di kota Labuan Bajo, Manggarai Barat, perusahan kopi internasional Starbucks menancapkan kaki usahanya dengan membuka sebuah gerai. Operasinya dimulai sejak Sabtu, 18 Mei 2019 lalu.

Keberadaan Starbucks ini lalu timbulkan beberapa pergunjingan, pro dan kontra, yang pada intinya berkutat pada manfaat bisnis termaktub bagi kepentingan masyarakat lokal.

Meskipun patut diketahui bahwa dalam sebuah bisnis, keuntunganlah yang jadi keutamaan. Apa pun bentuknya, atau siapa pun yang bakalan terlibat di dalamnya.

Tentu, saya memang menaruh harap agar kehadiran Starbucks di Labuan Bajo bisa menjaring para petani kopi lokal sehingga kualitas produksi para petani itu dapat bertambah.

Artinya, ada jalinan kerja sama yang terjadi. Walaupun saya sendiri belum tahu bagaimana sistem kerja dan produksi dari raksasa usaha minum kopi asal Amerika itu.

Makanya, harapan ini mungkin dapat terejawantahkan, tapi mungkin juga masuk dalam kardus sampah. Saya butuh penelusuran lanjutan.

Namun, ada satu hal yang pasti. Bahwasanya konsumen Starbucks rata-rata datang dari kalangan kelas menengah ke atas karena harga satu gelas atau cup-nya saja terbilang mahal untuk level perekonomian masyarakat NTT.

Hanya dalam konteks tertentu, kehadirannya di Labuan Bajo dapat dimaklumi karena kota ini sebetulnya telah menjelma jadi bandar pariwisata yang di dalamnya para investor lintang pukang berkelindan.

Dan tujuan Starbucks memang lebih difokuskan kepada para wisatawan.

Saya tak hendak membahas lebih jauh soal ini. Di Bandara Makassar sendiri, sejauh amatan saya, terdapat beragam usaha perkopian dengan varian merk.

Tentu saja Starbucks termasuk di dalamnya. Siapa pun yang ada di sekitaran bandara boleh saja datang bertandang. Asal punya uang. Yang cukup.

Saya tak memilih untuk singgah di kedai-kedai kopi itu. Sebab, saya sudah punya satu botol tupperware kopi Flores yang pembuatannya tak memerlukan seliweran mesin panjang lebar.

Bijinya cukup disangrai, ditumbuk/dihaluskan kemudian diseduh dengan air panas. Alamiah dan tentu lebih nikmat.

Kawan tadi kemudian saya suguhi minuman dari Flores itu. Kopi yang masih hangat diteguknya langsung dari mulut botol.

“Joss,” begitu dia bilang. Entah maksudnya apa. “Mantap betul ini,” lanjutnya. Saya pun paham.

Saya kemudian bilang bahwa kopi ini memang sengaja dibawa dari Maumere, Flores sebagai ole-ole untuk dia dan bekal untuk minum santai saat transit di Makassar.

Mendengar itu, kawan saya pun tertawa terbahak-bahak.

Rupanya, dia sudah punya rencana untuk mengajak saya mencari kopi di tempat-tempat ngopi sekitaran Bandara Sultan Hassanudin.

Tapi, rencana akhirnya terbatalkan. Kemungkinan besar karena kopi Flores tadi. Kemungkinan kecil, dia lupa membawa dompet.

Minum kopi asli merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada para petani, sebab para penikmat memperolehnya langsung tanpa banyak perpanjangan tangan.

Toh apabila sudah masuk ke ranah industri, silang sengkarut kepentingan dapat saja terjadi. Bukan berarti industri itu buruk, melainkan mesti disadari bahwa salah satu watak buruk sistem kapitalisme adalah penghisapan sebesar-besarnya demi keuntungan mereka yang punya modal.

Pada ranah ini, para petani kopi sudah barang tentu tak punya modal karena yang mereka punyai adalah tenaga dan atau jasa dan atau barang.

Pada ranah lainnya, para petani (kopi) itu juga terjebak dalam persaingan dengan usaha-usaha serupa dalam skala yang lebih variatif dan besar, seperti Starbucks.

Untuk konteks Labuan Bajo, saya tak mau memberikan penghakiman terlalu jauh. Namun, beberapa awasan, entah tersirat ataupun tersurat, di atas mesti jadi perhatian sekaligus kesadaran bersama.

Kita barangkali tak bisa melawan hegemoni kapitalisme yang tentakelnya memiliki banyak wujud. Akan tetapi, hal-hal kecil seperti ini bisa kita lakukan: Tiba di bandara, dan nikmati kopi asli langsung dari tangan petani.

Hari mulai malam, dan saya harus segera segera check-in lagi.

TERKINI
BACA JUGA