Anak Kecil, Kakak-kakak yang Pacaran di El Tari hingga Tuan Besar Bernama ‘Oligark’

Suatu siang yang terik, saya sedang duduk makan di sebuah angkringan di salah satu sudut Kota Maumere. Babo, bocah kelas I SDK Santo Yoseph Maumere, hilir mudik dan kemudian duduk menemani saya makan.

Saya memberinya tahu dan tempe. Ia segera makan dengan lahap.

“Apa cita-citamu, Ade?”

“Saya mau jadi polisi. Eh, bukan! Saya mau jadi Satpol PP.”

“Kenapa mau jadi Satpol PP?”

iklan

“Saya mau tangkap kakak-kakak yang pacaran di El Tari.”

“Memangnya kamu sering lihat mereka pacaran?”

“Iya, sering.”

“Dari mana kamu tahu kalau mereka sedang pacaran? Bisa saja mereka hanya duduk ngobrol biasa. Lagian kamu masih terlalu kecil untuk tahu tentang pacaran.”

“Mereka saling pegangan tangan dan berciuman. Saya pernah lihat Satpol PP usir mereka. Mereka lari sampai ke rumah. Itu kakak saya.”

Saya tertawa. Namun, Babo berbicara serius sekali. Mungkin saja dia memang hendak sungguh-sungguh menceritakan pengalamannya.

Setelah makan tahu dan tempe, Babo berlalu dan segera tenggelam dalam keasyikan bermain mendorong ban sepeda di jalanan Maumere yang lengang.

Salah satu kisah dalam kitab suci Nasrani yang paling saya ingat adalah perkataan Yesus Kristus tentang anak kecil. Pada waktu itu, 12 murid-Nya sedang berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Kemudian, Yesus berkata kepada mereka, “barang siapa hendak menjadi terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi seperti salah seorang dari anak-anak kecil ini.”

Pada kesempatan lain Sang Guru Agung berkata, “barang siapa menyambut seorang anak kecil, ia menyambut Aku.”

Saya tidak tahu, apa yang sedang ada dalam pikiran Yesus saat mengucapkan kalimat-kalimat di atas. Saya menafsir, Yesus menganggap besar seorang anak kecil karena kepolosan, ketulusan, dan kesucian hatinya.

Hati siapa yang tidak tersentuh mendengar tangisan bayi yang menggemaskan atau ocehan seorang bocah yang tak pernah pikir panjang? Seorang anak kecil melakukan sesuatu berdasarkan pikiran dan hatinya yang masih bening dan lembut. Sebening embun pagi dan selembut benang sutera, tetapi dengan cinta setua gurun pasir.

Dengan pikiran dan hati yang bening dan lembut, ia bisa tampil apa adanya. Tiada kemunafikan dan kepalsuan dalam dirinya.

Hari-hari ini, masyarakat kita sedang dilanda krisis kepolosan, ketulusan, dan kesucian hati seorang anak kecil. Krisis itu tidak jatuh dari langit. Krisis disebabkan oleh relasi sosial produksi dalam masyarakat yang timpang.

Dalam masyarakat kita, terdapat segelintir elite yang menguasai alat-alat produksi dan sebagian besar rakyat biasa yang kurang atau bahkan tidak memiliki alat produksi sama sekali. Contoh, dalam debat presiden bulan April lalu, terkuak fakta, seorang calon presiden menguasai ratusan ribu hektare tanah.

Sementara itu, nun jauh dari Jakarta, di Nangahale, Maumere, Flores, terdapat 17 kepala keluarga (KK) yang tidak memiliki tanah sama sekali sehingga mereka terpaksa “ambil paksa” tanah Hak Guna Usaha (HGU) Nanghale yang selama puluhan tahun dikelola oleh Gereja Katolik Keuskupan Maumere melalui PT Krisrama Maumere.

Relasi sosial produksi yang timpang selanjutnya membidani lahirnya jurang antara si kaya dan si miskin yang kian menganga lebar saban tahun. Jeffrey Winters, Penulis Buku “Oligarchy” mengatakan, di Indonesia, 50 orang terkaya memiliki kekayaan 35.000 kali lebih besar dari pada rakyat biasa.

Lebih tragis lagi, orang-orang superkaya ini menggunakan kekayaan mereka untuk mempertahankan dan menganak-pinak-kan kekayaannya. Caranya? Mereka mencaplok wilayah politik dengan kuasa uang. Uang yang berlimpah ruah memampukan mereka untuk mendirikan partai politik atau membiayai partai politik dan politisi yang bertarung merebut kursi kekuasaan.

Ongkos politik elektoral yang mahal bukanlah petaka, melainkan berkah bagi orang-orang kaya ini untuk merebut kekuasaan politik. Kemenangan mereka dalam dunia politik akan memudahkan mereka untuk melipatgandakan harta kekayaan.

Mengapa? Sebab, bisnis pribadi mereka berjalan mulus berkat dukungan politik dari penguasa di lembaga politik dan lembaga birokrasi negara. Jadi, Puan dan Tuan tak perlu merasa heran berlebihan jika Pemilu 2019 ini berlangsung dengan sangat kasar dan membuat bangsa ini terbelah dengan amat sangat tajam: Memilih 01 berarti membenci 02. Memilih 02 berarti membenci 01.

Pemilu 2019 ini adalah medan pertarungan bebas di antara orang-orang superkaya di Indonesia untuk mengeruk sumber daya alam. Siapa pun pemenangnya, orang-orang superkaya yang punya banyak duit inilah yang akan tampil sebagai jawara Pemilu.

“Barang siapa hendak menjadi terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi seperti salah seorang dari anak-anak kecil ini,” sabda Yesus. Kita masih punya harapan. Mari kita memiliki hati seorang anak kecil yang sebening embun pagi dan selembut kain sutera dengan cinta yang setua padang gurun.

Namun, itu tidak cukup! Kita hidup di dunia, bukan di surga. Untuk dapat melawan kekuasaan oligark, yaitu orang-orang kaya yang mempertahankan kekayaannya dengan kekayaannya, kita perlu bersatu dalam sebuah wadah organisasi yang kokoh. Organisasi buruh tani, buruh toko, buruh restoran, buruh nelayan, buruh bangunan, dan lain-lain.  Mengapa kita mesti berorganisasi?

Sebab, kita hanyalah “anak kecil” di hadapan para tuan besar yang menggunakan kekayaan untuk mempertahankan kekayaannya itu.

TERKINI
BACA JUGA