Yanuarius Yan, Menyulap Bambu Jadi Rupiah

Maumere, Ekorantt.com – Kejelian melihat potensi di lingkungan sekitar belum banyak ada pada kita. Sebagian besar masyarakat tidak sadar dengan hal itu.

Hanya segelintir orang yang mampu menggali potensi di lingkungan sekitar dengan kreativitasnya.

Adalah Yanuarius Yan (46), Kepala Dusun Natar Lorong, Desa Nele Barat, Kecamatan Nele, Kabupaten Sikka mampu mengubah bambu menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.

Di tangannya, bambu dapat disulap menjadi rupiah. Ia memiliki bengkel kerajinan bambu yang sudah lama ia rintis.

“Awalnya saya cuma bantu kakak di bengkel. Tahun 1998 ada magang dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Sikka selama enam bulan di Gianyar-Bali,” tutur Yan saat ditemui Ekora NTT beberapa waktu lalu.

iklan

“Kakak ditawarkan tetapi ditolaknya karena alasan sakit. Saya diminta menggantikannya,” tambah Yan.

Baginya, pengalaman selama di Bali sangat berharga karena mampu meningkatkan keterampilannya. Sejak saat itu, ia serius menekuni kerajinan meubel bambu.

Ada beranekaragam olahan bambu yang ia buat diantaranya meja, kursi, lemari, tirai, sampiran dan asesoris berbahan baku bambu lainnya.

Hasil olahan bambu ini kemudian dijual ke pasaran dengan harga yang variatif. Harga yang paling mahal 7,5 juta rupiah yaitu sofa bambu per set.

Sementara sampiran (sekat ruangan) dijual  dengan harga 150 ribu rupiah. Sedangkan kursi bambu dipasarkan dengan harga 1,5 juta rupiah per set.

Kata dia, hasil kerajinannya ini direspon positif oleh konsumen. Banyak yang tertarik dan membeli hasil kerajinannya.

Pasarannya tidak hanya di lingkup wilayah kabupaten Sikka tetapi juga di beberapa kabupaten tetangga seperti Lembata, Ende, Nagekeo, dan di pulau Timor.

Dalam beberapa kesempatan ia juga pernah mengikuti pameran ekonomi kreatif yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ia juga selalu diminta menjadi tutor bagi pelatihan meubel oleh dinas ketenagakerjaan dan transmigrasi kabupaten Sikka.

“Pernah kami ikut pameran di gelora Samador, Pa Bupati Yoseph Ansar Rera lewat di depan stan kami. Beliau langsung pesan satu set kursi seharga Rp5 juta rupiah. Sejak 2013 saya juga dipercayakan Disperindag dan BPMD Sikka untuk memberikan pelatihan di 36 desa,” tutur Yan.

Suami dari Susi Maryati berusaha menghasilkan kerajinan yang berkualitas. Selain itu, ia tidak puas dengan apa yang telah ia buat. Lantas ia terus berinovasi

. Beberapa tahun terakhir ia bersemangat untuk membuat dekorasi bambu dan rumah bambu.

“Saya pernah buat satu rumah bambu buat bapak Petu Da Silva. Persis di samping pom bensin Waidoko. Ukurannya 4 X 6 meter dengan harga 25 juta rupiah,” ungkapnya.

Dengan kerajinan bambu ini, bapak empat anak ini bisa menafkai hidup keluarganya. Ia juga bisa membiayai pendidikan istri dan anak-anaknya. Disadari juga bahwa usahanya ini tidak berjalan mulus. Ada lika liku yang harus ia hadapi. Ia sering terkendala dengan bahan baku.

“Bambu ia beli dari para pedagang seharga 15 ribu rupiah per batang. Kalau rotan hanya satu toko di Maumere yang jual dengan 320 ribu per kilogram. Itupun didatangkan dari Surabaya. Kami sering kewalahan jika pesanan banyak sementara stok rotan tidak ada,” imbuhnya.

Hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk melestarikan kerajinan bambu yang telah ia kembangkan. Ia tetap mau pada jalur itu.

Bahkan, ia bermimpi untuk membuka bengkel meubel besar di kota Maumere. Itulah mimpi yang sedang ia selipkan dalam setiap kerjanya.  Ia pun membutuhkan dukungan dan kerja sama semua pihak untuk terus mengembangkan usahanya ini.

TERKINI
BACA JUGA