Sumber: Seminariledalero.org

Kapten Tasuku Sato duduk merenung di atas sebuah batu di bantaran kali dekat Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.

Komandan Pasukan Pengawal Angkatan Laut Jepang di Pulau Flores, Hindia Belanda itu terpesona melihat burung-burung dara liar bercumbu-cumbu di atas dahan.

Betapa tempat yang lengang ini menjadi tambah romantis.

Lalu, melintaslah pikiran ini di benaknya, “Menara gereja seminari menjulang tinggi mengatasi pohon-pohon kelapa, masih terbayang segar dalam ingatanku. Dalam perjalanan ini, saya telah melihat hampir separuh dari Pulau Flores. Di mana-mana saya menemukan gereja-gereja megah seperti ini dengan menara yang hampir mencakar langit sebagai petunjuk bagi umat beriman…”

Lalu, dia meneruskan, “Banyak kali saya berpikir, apakah yang dipikirkan oleh rakyat tentang gereja beton, sedangkan mereka sendiri tinggal dalam gubuk-gubuk beratapkan alang-alang atau daun kelapa? Pondok-pondok mereka yang reyot, mungkin karena memang miskin, kebanyakan tersembunyi di antara pohon-pohon belukar atau di bawah bayangan pohon-pohon kelapa. Apakah rakyat mungkin mengeluh atau menyesalkan berdirinya gereja yang megah, sedangkan rumah-rumah mereka tidak lebih dari sebuah gubuk? Masalah ini memusingkan kepalaku…” (Kapten Tasuku Sato & P. Mark Tennien, I Remember Flores: Aku Terkenang Flores, 2005, pp. 123-124).

Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan, 11,5% Balita Indonesia berstatus gizi sangat pendek dan 19,3% berstatus gizi pendek.

Sementara itu, 12,8% Baduta Indonesia berstatus gizi sangat pendek dan 29,9% berstatus gizi pendek.

Dengan demikian, di tingkat nasional, prevalensi Balita stunting mencapai angka 30,8%. Artinya, 3 dari 10 Balita Indonesia menderita stunting.

Di NTT,  prevalensi Balita stunting mencapai angka 42,6%. Artinya, 4 dari 10 Balita NTT menderita stunting. Lebih tinggi dari rata-rata nasional dan paling tinggi dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak heran kalau 13 dari 22 kabupaten/kota di NTT masuk dalam daftar “100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting)” Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Sekretariat Wakil Presiden Indonesia untuk tahun 2017 dan tahun 2018.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak Balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir.

Akan tetapi, kondisi stunting baru tampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah Balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006.

Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah Balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (severely stunted) (TNP2K, 2017).

Kabupaten Sikka memang tidak termasuk dalam daftar “100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting)” TNP2K.

Namun, Bupati Robby kepada EKORA NTT beberapa waktu lalu mengakui, dari ratusan kabupaten di Indonesia, terdapat 72 kabupaten/kota dengan angka stunting terbesar. Termasuk Kabupaten Sikka.

60 Balita stunting di Nita adalah sampel tentang tingginya jumlah penderita stunting di Kabupaten Sikka.

EKORA NTT ambil sudut pandang “Stunting di Sekeliling Tembok Biara” karena berpendapat, stunting mesti jadi kepedulian bersama semua elemen. Negara, agama, dan adat.

Dan yang terbesar di antaranya adalah Negara.

Negara bertugas penuhi (obligation to fulfill) hak warga negara untuk hidup sehat. Pertanyaannya, seberapa besar anggaran APBDes, APBD I, APBD II, dan APBN dialokasikan untuk mengentas persoalan stunting? Berapa persen dana desa dialokasikan untuk pencegahan dan penanggulangan stunting? Sudahkah rezim infrastruktur Jokowi-JK beri perhatian optimal pada persoalan stunting?

Sementara itu, sebagai penjaga nilai moral yang utama, lembaga agama dan adat bertugas mengadvokasi Negara untuk jalankan tugas sebaik mungkin dan ambil bagian dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Kapten Tasuku Sato akhirnya temukan jawaban atas pertanyaan yang bikin kepalanya mumet di atas.

Umat Katolik di Flores mau susah payah bangun gedung gereja megah karena, “Melalui iman, mereka tidak pernah ragu dan memandang menara gereja yang menjulang tinggi itu sebagai lambang kekekalan. Sudah pasti, mereka menghendaki sebuah gereja yang megah, besar, dan indah. Semua manusia sedang mencari-cari sesuatu yang dapat mengangkat hati dan pikiran mereka mengatasi dunia yang fana ini. Suatu yang niskala, sesuatu yang mengatasi tempat tinggal sementara mereka sendiri. Karya tangan mereka menciptakan keindahan abadi yang akan bertahan melampaui usia mereka. Semuanya itu akan merupakan suatu pernyataan impian dan harapan mereka kepada hal-hal abadi” (Ibid., pp. 124-125).

Kapten Tasuku Sato tampaknya punya pandangan positif tentang Gereja Katolik di Flores pada masa tugasnya dahulu.

Namun, kita tahu, harapan akan hidup kekal di alam surga mesti harus diwujudkan sekarang. Stunting adalah kondisi yang menentang harapan akan hidup kekal. Maka, melawan stunting adalah sebuah ibadah segenap umat beriman di Nita untuk memperoleh hidup kekal.

“Tiba-tiba, saya melihat seorang bocah telanjang bulat menceburkan diri ke dalam kali. Saya pun sadar. Memang waktunya telah tiba untuk berangkat meneruskan perjalanan,” Kapten Tasuku Sato tutup ceritanya yang berjudul “Ledalero Dekat Nita” itu.

Kita pun berdoa, semoga bocah – boleh jadi nenek moyang orang Nita – dalam penglihatan Kapten Tasuku Sato pada tahun 1943 itu bukan bocah stunting.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here