Seorang pengendara motor melintasi Tugu Bambu di tengah Kota Bajawa di Perlimaan Kota Bajawa, Selasa (4/2/2020). BELMINRADHO/EKORANTT

Sangat mencengangkan membaca jumlah uang yang dihabiskan beberapa Pemda di NTT untuk membangun taman, tugu, dan patung. Sebagai contoh, di Belu, Pemda setempat menghabiskan uang Rp24,1 Miliar untuk membangun Patung Bunda Segala Bangsa setinggi 25 meter dan berat 45 ton yang digadang-gadang sebagai patung tertinggi di Asia Tenggara. Termutakhir, Pemda Ngada menghabiskan uang Rp1 ½ Miliar lebih untuk membangun taman di Lapangan Kartini Bajawa dan tugu di beberapa titik di Kota Bajawa. Semangat menggebu-gebu pemerintah membangun taman, tugu, dan patung itu menguntungkan siapa? Mengapa?

Terdapat banyak argumen dari perspektif hukum, ekonomi, politik, sosial, dan budaya untuk membenarkan proyek pembangunan taman, tugu, dan patung di Flores. Namun, tanpa riset dan analisis yang mendalam tentang kondisi objektif masyarakat Flores, proyek pembangunan monumen-monumen fisik itu hanya akan melahirkan ironi yang tragis.

Ironi tersebut bisa dirumuskan seperti ini: mayoritas penduduk Flores miskin, tetapi pemerintahnya gemar menghabiskan uang rakyat untuk membeli liabilitas berupa taman, patung, dan tugu. Pada 2018, jumlah penduduk miskin di Flores mencapai angka 407.180 jiwa (12,78%) dengan rincian Kabupaten Lembata 36.950 (26.45%), Flores Timur 27.990 (11.05%), Sikka 44.020 (13.82%), Ende 66.010 (24.20%), Ngada 20.790 (12.94%), Manggarai 69.320 (20.83%), Manggarai Barat 48.530 (18.14%), Nagekeo 18.690 (12.98%), dan Manggarai Timur 74.880 (26.50%). Persentase kemiskinan semua kabupaten di Flores lebih tinggi dari persentase kemiskinan nasional sebesar 9,66% atau 25,67 juta jiwa dengan Gini Ratio 0,389. Sementara itu, persentase kemiskinan tiga kabupaten di Flores, yaitu Manggarai Timur, Lembata, dan Ende, lebih tinggi dari persentase kemiskinan Provinsi NTT sebesar 21,35% dengan Gini Ratio 0,351 (BPS, 2018).

 Dengan demikian, terdapat dua kritik publik yang utama dari kasus maraknya proyek pembangunan taman, patung, dan tugu di Flores. Pertama, perlu dilakukan riset dan kajian ilmiah yang mendalam tentang suatu rencana proyek pembangunan. Kedua, di tengah mayoritas penduduk Flores yang miskin dan berpendidikan rendah, pemerintah mestinya fokus bikin program pengentasan kemiskinan dan pembukaan akses ke pendidikan yang memadai, dari pada sibuk bangun monumen fisik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here