Sepenggal Cerita dari Dua Toru Iligetang (1)

Maumere, Ekorantt.com -Selasa 23 Juli 2019, suasana sore hari di Youth House SOS Children’s Flores-Maumere kelihatan lebih ramai.

Sekelompok kaum muda dan pelajar (anak SMA dan anak kuliahan) nampak asyik bersenda gurau bersama dalam nuansa yang santai di teras Youth House SOS Children’s Flores Maumere, tepatnya di Jalan Dua Toru Iligetang.

Mereka asyik berdiskusi tentang “menulis di koran”. Yang menarik adalah nuansa kekeluargaan sebagai karakter khas dari komunitas sosial SOS Children’s sangat menonjol.

Sebagai seorang educator/young coach yang sehari-hari menemani mereka dalam pergulatan hidup mereka, saya hanya menatap mereka dalam diam tanpa kata, seolah tak peduli apa yang mereka perbincangkan.

Seperti seorang penikmat seni, saya duduk santai di beranda rumah sambil meneguk secangkir kopi asli khas Flores.

iklan

Saya sangat menikmati irama perbincangan mereka yang kedengarannya seperti sebuah syair lagu baru, yang belum selesai ditulis dan diselaraskan dengan nada musik. 

Namun bagi saya, setiap kata dan kalimat dari perbincangan mereka yang terdengar sedikit lucu dan sedikit tak beraturan itu, adalah sebuah irama impian yang pastinya akan rangkum pada saatnya.

Mereka bukan seperti anak-anak lain di luar sana yang hidup berdampingan dengan keluarga biologisnya, (red: keluarga kandung).

Mereka juga bukan anak-anak panti asuhan yang  mungkin oleh kebanyakan orang ketika mendengar kata “panti asuhan” dan “anak panti asuhan” terasa hambar dalam hati, karena dipengaruhi oleh sebuah paradigma berpikir yang keliru tentang istilah panti asuhan itu sendri.

Ah, mungkinkah itu hanya sebuah ilusi yang tak berdasar? Berharap iya.

Tapi jika benar, biarlah itu menjadi konsumsi mereka. Toh, mereka tidak memahami secara tuntas tentang kehidupan anak-anak yang sebenarnya dalam komunitas sosial seperti itu.

Nantilah, akan ada saatnya juga paradigma berpikir yang keliru itu akan dibenarkan. Menunggu waktu untuk menjawabnya. Ya, mungkin demikian.

Yang pasti bahwa anak-anak ini tinggal dalam komunitas sosial yang sangat menjamin hak-hak hidup mereka, termasuk hak untuk mendapat kasih sayang sebagaimana kebanyakan anak yang tinggal dengan orang tuanya.

Dan satu hal yang paling penting adalah bahwa mereka adalah anak-anak istimewa yang diberikan oleh Sang Khalik kepada komunitas SOS Children’s, sebuah komunitas sosial kemanusiaan yang mengemban misi mulia yakni misi kemanusiaan.

istimewah (Sumber: www.sos.or.id)

Mungkin kebanyakan dari masyarakat kita pernah mendengar nama SOS Children’s sebagai salah satu dari sekian lembaga sosial kemanusiaan, yang menitikberatkan karyanya untuk mengasuh anak-anak istimewa titipan dari sang empunya kehidupan ini.

Akan tetapi identitas khas lembaga sosial SOS Children’s yang didirikan oleh Herman Gmeiner, seorang pensiunan tentara di Austria pada akhir perang dunia II ini justru terletak pada pola parenting.

Di dalamnya, setiap anak adalah bagian dari keluarga, meski mereka datang dari tempat dan latar belakang keluarga serta adat-istiadat yang berbeda. Di dalamnya, setiap anak tumbuh dengan cinta, rasa hormat, serta rasa aman.

Di sini peran SOS Children’s adalah membangun keluarga bagi anak yang kehilangan pengasuhan serta membantu anak untuk membangun masa depannya sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing.

SOS Children’s mengasuh anak-anak ini sejak kecil bahkan ada yang berusia 0 bulan ketika mereka masuk ke SOS Children’s. Pengasuhan ini berlanjut sampai anak-anak menjadi mandiri, dalam artian bisa makan dan hidup dari hasil kerja mereka sendiri.

Pengabdian semacam ini memang berat, tapi orang-orang tangguh yang terpilih untuk tugas mulia ini selalu siap untuk melayani mereka dengan semboyan I am here to serve you.

Ada banyak sebutan tentang para pengasuh tangguh ini. Ada ibu rumah yang mengasuh maksimal 8 anak, baik laki-laki maupun perempuan yang dibantu oleh seorang tante.

Ada sebutan pembina village yang mendampingi anak-anak usia sekolah SD dan SMP, ada sebutan educator/pembina yang mendampingi anak-anak usia sekolah SMA dan Perguruan Tinggi, dan tentunya ada karyawan-karyawati baik di kantor, di kebun, di taman dan lainnya, yang dikepalai oleh seorang pimpinan (Village Director).

Bidang pelayanan SOS Children’s difokuskan pada Parenting (pengasuhan), education (pendidikan) dan healting (kesehatan).

Di sini, SOS berusaha memberi kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua.

Sekadar untuk diketahui, bahwa lembaga sosial kemanusiaan yang diberi nama SOS Children’s Villages ini, kini berusia 70 tahun (1949-2019) dan telah ada di 53 negara termasuk di Indonesia dengan 8 Villages dan salah satunya ada di NTT, tepatnya di Maumere ibu kota Kabupaten Sikka yang beralamat di Jln. Trans Magepanda- Waturia.

Rian D. Labaona, Youth Care co-Worker of SOS Children’s Village-Flores

TERKINI
BACA JUGA