Salah satu kolam di Kampung Lebo, Desa Golo Meni, Kota Komba, Manggarai Timur.

Borong, Ekorantt.com – Sore itu, Minggu (28/7/2019) tepatnya pukul 15.30 WITA, saya bersama beberapa teman bergegas menuju sebuah kampung guna menelusuri sekaligus melihat secara langsung keberadaan kolam “ajaib” yang selama ini masih sangat tersembunyi keberadaannya. Dikatakan “ajaib” karena mampu memberikan kesembuhan bagi kaum penyakit, terutama yang sakit kulit.

Saking penasarannya, kami pergi ke situ mengarungi daerah persawahan juga areal Sungai Wae Mokel. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 16.20 WITA.

Sampai di lokasi, kami langsung menyambangi keberadaan kolam “ajaib” ini. Meskipun kami harus beranikan diri melewati semak belukar yang sangat menantang.

Kalau tidak berhati-hati, kaki atau badan bisa terluka akibat terkena duri dan kayu di sekitar kolam itu. Sementara letak kolam itu sendiri berada di tengah hutan.

Obyek kolam “ajaib ini berada di Kampung Lebo,  Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Jarak dari Kota Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, ke Kampung Lebo sekitar 100 kilometer. Dari Kota Borong Anda akan melintasi akses jalan provinsi menuju Kampung Pedak, Desa Mokel. Terdapat cabang perempatan sebelum Kampung Deru, lalu Anda belok kanan menuju Kampung Lebo.

Kolam ini memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda. Ada yang berbentuk bulat dan ada pula yang berbentuk lengkung menyerupai sabit. Masyarakat setempat memberi nama ‘Loka’.

Penyebutan ‘Loka’ oleh masyarakat setempat karena hampir setiap saat airnya selalu mendidih dan terasa asin. Kolam “ajaib” ini memiliki diameter berbeda. Ada yang berukuran 6 meter dan ada juga yang berukuran setengah meter dengan kedalaman kurang lebih ribuan kilometer.

Sayangnya, lokasi obyek wisata ini belum mendapatkan sentuhan penataan dari pemerintah setempat. Akses jalan masih sulit dengan kondisi medan yang sangat menantang, membuat para pengunjung harus ekstra hati-hati untuk bisa sampai ke lokasi kolam ajaib ini.

Hal inilah yang membuat obyek ini masih sangat sepi untuk dikunjungi dan dinikmati oleh para wisatawan. Padahal, kolam ini memiliki keunikan tersendiri untuk dinikmati.

Sekadar informasi, para pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat harus berhati-hati saat mengendarai kendaraannya karena akses transportasi menuju lokasi ini masih terbilang cukup parah.

Saat ini akses jalan menuju lokasi ini masih sangat sulit dan para pengunjung yang hendak berkunjung ke tempat ini harus membutuhkan tenaga yang ekstra. Kalau tidak hati-hati, Anda bisa jatuh. Memang sepanjang perjalanan, Anda bakal disuguhi pemandangan persawahan dan tanaman kakao milik petani.

Foris Berdin, salah seorang warga, ketika ditemui Ekora NTT di lokasi, Minggu (28/7/2019) sore, menjelaskan, tempat ini memang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas apalagi masyarakat yang berada di luar Kampung Lebo.

Hal itu, kata dia, lantaran tempat ini berada di tengah hutan ditambah jalur transpotasi yang belum diperhatikan.

Dijelaskannya, tempat ini sebenarnya menjadi obyek wisata yang luar biasa bagi pemerintah desa karena tempat ini cukup unik.

“Kalau tempat ini ditata atau dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin tempat ini akan membawakan hasil yang positif bagi pemerintah setempat. Selama ini saya tidak pernah lihat pemerintah desa memerhatikan tempat ini. Padahal tempat ini memiliki keunikan tersendiri,” ungkapnya

Sebagaimana dikatakan di atas, air kolam tersebut bisa menyembuhkan orang yang menderita penyakit, di antaranya penyakit kudis.

“Dulu ada orang kampung yang berasal dari kampung ini menderita penyakit kudis. Setelah dia mandi air dari kolam ajaib ini tiba-tiba penyakit kudisnya sembuh,” katanya.

Namun, kalau ada orang baru yang datang berkunjung ke kolam ini, tidak boleh melakukan tindakan sembarangan.

Uniknya, lanjut Foris, walaupun air yang terdapat di kolam ini selalu mendidih juga terasa asin, pada waktu pagi dan malam hari kondisi atau rasanya bisa berubah-ubah.

“Kami meyakini bahwa tempat  ini dibuat oleh darat (bidadari),” beber dia.

Foris pun berharap, mudah-mudahan ke depannya tempat ini bisa diperhatikan secara serius oleh pemerintah desa. Mulai dari penataan jalur transportasi sampai pada fasilitas-fasilitas lain, seperti pembuatan lopo sebagai tempat persinggahan. Semuanya demi pembangunan desa itu sendiri.

Mul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here