Suasana lomba melukis bulan Kitab Suci Nasioal ‘Mewartakan Kabar Sukacita di Tengah Krisis Ekologi’ di Kurubhoko.

Ngada, Ekorantt.com – Mengakhiri kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) pada bulan September 2019 paroki Kurubhoko menggelar lomba melukis bagi anak Sekolah Dasar. Kegiatan lomba yang berlangsung pada Senin (07/10/2019) di Kurubhoko itu mengangkat tema BKSN 2019: ‘Mewartakan Kabar Sukacita di Tengah Krisis Ekologi.’

Sekitar 40 siswa dari dua sekolah yakni SDI Kurubhoko dan SDK Tanawolo terlihat bersemangat mengikuti kegiatan ini. Peserta lomba melukis yang adalah siswa kelas I, II dan III itu didampingi guru kelas masing-masing.

Sebelum melukis, anak-anak diajak menonton video animasi tentang manusia pertama dan taman Eden. Fasilitator kegiatan menonton menjelaskan, taman Eden merupakan suatu gambaran kehidupan yang harmonis antara manusia dengan alam dan pencipta-Nya. Namun, manusia akhirnya jatuh dalam dosa, dan keluar dari taman yang indah, dan damai karena ketidaksetiaan.

Usai nonton, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab bersama anak-anak tentang video animasi sebagaimana digambarkan dalam Kitab Kejadian itu. Baru setelah tanya jawab, anak-anak diarahkan untuk menyiapkan diri mengikuti kegiatan lomba melukis.

Lomba meriahkan BKSN tahun 2019 itu diselenggarakan atas kerjasama Paroki Kurubhoko dengan Yayasan Puge Figo dan Rumah Literasi Cermat (RLC). Selain lomba lukis, di paroki ini juga digelar lomba Baca Kitab Suci, Lomba Mazmur dan Kuis Kitab Suci yang melibatkan siswa SD dan SMP.

Pastor Paroki Kurubhoko, RP. Tobias Harman, di sela-sela pengumuman pemenang lomba, Minggu (06/10/2019) mengatakan, kegiatan ini menanggapi tema BKSN tahun 2019 dengan tema ‘Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Krisis Ekologi.’ Melalui kegiatan ini diharapkan anak semakin mengakrabi Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari dan mencintai lingkungan tempat tinggalnya.

Pater Tobias berharap, tema BKSN tahun ini juga semakin menumbuhkan kesadaran ekologis bagi anak-anak dan mendorong mereka mencintai dan merawat lingkungan. 

“Karena merusak alam berarti merusak ciptaan Tuhan sendiri dan itu dosa,” kata Pater Tobias.

Hadiah Anakan Pohon

Sementara Ketua Yayasan Puge Figo (YPF), Emanuel Djomba mengatakan, kegiatan lomba melukis ini sangat positif dalam memberi edukasi kepada anak-anak tentang pelestarian lingkungan. Dengan demikian, dalam diri anak akan tumbuh kesadaran ekologis dan mereka mulai terbiasa menjaga lingkungan agar lestari, terus menanam dan tidak merusak.

Selain itu, kata Emanuel, proses melukis sangat baik bagi perkembangan anak usia dini, baik perkembangan motorik, perkembangan imajinasi maupun perkembangan kognisi. Karena itu, sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan, pemberdayaan dan edukasi ekologi, kegiatan lomba semacam ini akan memberi manfaat positif bagi anak.

“Jika ingin lingkungan kita lebih baik di masa depan, maka mulai saat ini kita melibatkan anak, remaja dan orang muda dalam giat-giat pelestarian dan edukasi ekologi. Merawat lingkungan sama dengan merawat masa depan generasi kita,” kata Emanuel.

Para pemenang lomba, kata dia, diberikan hadiah seperti alat tulis, Kitab Suci dan anak pohon. Hadiah anakan pohon juga diberikan kepada setiap anak dan akan dilakukan penanaman  pada saat memasuki musim hujan tahun 2019 di lingkungan sekolah. Menyongsong musim hujan, Emanuel berharap para guru ikut mengedukasi siswa dengan menyiapkan tempat tanam.

Hadiah anakan pohon adalah terobosan pendidikan ekologi bagi anak-anak sehingga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menanam pohon bagi kehidupan. Program ini didukung oleh Yayasan Puge Figo. Bahkan kata Ketua YPF, pihaknya sedang menjajaki tiga sekolah di wilayah paroki ini menjadi sekolah contoh berbasis ekologi. 

Untuk mencapai harapan itu perlu proses mulai dari sekarang dengan menumbuhkan kesadaran terlebih dahulu, sehingga anakan pohon yang nanti anak bawa pulang ke sekolahnya dapat dirawat dengan baik.

Belmin Radho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here