Jetho Lawet

Oleh Jetho Lawet*

Langit tampak masih pekat saat saya dibangunkan oleh kokokan ‘alarm’ telepon genggam.

Hampir tak pernah terdengar suara ayam yang ‘meraung-raung’ membangunkan warga seperti lazimnya di desa-desa.

Di kota seanggun dan semegah Jakarta, tak terdengar suara ayam berkokok membangunkan warga kota.

Kamu hanya akan menjumpai ayam terpajang telanjang tanpa balutan bulu di warung-warung makan, bahkan restoran-restoran.

Atau bahkan ayam-ayam yang parkir di kampus.

Yang terdengar hanyalah desingan kendaraan hilir mudik mengisap dan memuntahkan penumpang tak kenal lelah.

Tak kenal waktu istirahat.

Waktu benar-benar menjadi ‘barang mewah’ yang begitu sayang untuk dibuang.

Menjadi beralasanlah jika ada pepatah yang mengatakan, “waktu adalah uang.”

Membuang waktu berarti membuang uang.

Telunjuk jam memeluk angka 05.30 WIB dengan begitu mesra di dinding kamar.

Saya harus segera bangun.

Menyiapkan diri sesegera mungkin sehingga tak terjebak dalam kepadatan penumpang commuterline rute Jurangmangu Tanah Abang.

Hari itu, 26 September 2019, saya akan melakukan interview di Media Bisnis Indonesia yang terletak di Jl. KH. Mansyur, Karet Tengsin, Jakarta Pusat.

Di pucuk percakapan yang sengit itu, sang narasumber merekomendasikan kepada saya untuk mengunjungi makam Pramoedya, yang letaknya tak jauh dari Wisma Bisnis Indonesia.

Makam Pramoedya Ananta Toer di Blok AA1 No. 63 TPU Karet Bivak Jakarta. Foto: Jetho Lawet.

Sebagai salah satu pecandu tulisan Pram, saya tentu sangat senang.

Saya tak membuang kesempatan emas tersebut.

Sebab, sudah sangat lama saya merindu sosok Pram yang menggelitik hati dengan tulisan-tulisannya meski yang dilihat hanya makamnya dan meski ia mungkin sudah kembali menjadi tanah.

Sekitar 2013 silam, Kak Hengky Ola Sura memberikan hadiah sebuah novel yang berjudul “Bumi Manusia” dengan nama penulisnya Pramoedya Ananta Toer.

Ia lantas menganjurkan kepada saya untuk melahap roman tersebut.

Ia berpesan,“roman ini sangat memukau.”

Pesan tak segera kutanggapi.

Saya kemudian membiarkannya terbaring beberapa bulan di rak buku kamar.

Lambat laun, pesan itu kembali terngiang dan saya dirasuki oleh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.

Apa gerangan yang diceritakan Penulis?

Rasa penasaran itu mendorong saya untuk membuka dan melahap lembar demi lembar roman yang penuh dengan kejutan.

Melalui roman Bumi Manusia, Pram berhasil membuat saya, dan mungkin pembaca lain, ‘jatuh cinta’ padanya.

Tak ayal, saya kemudian semakin rajin untuk berburu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca serta karya-karyanya yang lainnya.

Pramoedya dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya.

Ayahnya adalah seorang guru dan ibunya seorang penjual nasi.

Nama aslinya Pramoedya Ananta Mastoer sebagaimana tertera dalam cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.

Terkesan terlalu aristokratik pada nama keluarga ayahnya Mastoer, ia kemudian memutuskan untuk memenggal awalan Jawa ‘Mas’ sehingga menjadi ‘Toer’.

Pram mengenyam pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk salah satu surat kabar Jepang di Jakarta.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru, Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan di Pulau Nusakambangan (Agustus 1969 – 12 November 1979), dan Pulau Buru (November – 21 Desember 1979 di Magelang).

Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Ia kemudian dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat Gerakan 30 September.

Namun demikian, ia masih berstatus sebagai tahanan rumah. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 30 April 2006 silam.

Berbagai penghargaan diraup Pram dalam dunia kesusastraan.

Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995.

Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra.

Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia.

Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Pramoedya Ananta Toer

Meski mendapatkan sederet penghargaan, tak banyak yang mengenal siapa itu Pram.

Bahkan satpam yang bertugas di pintu gerbang pemakaman pun tak mengenal Pram.

Bisa jadi, ia bukan salah seorang pembaca yang baik.

Hal ini benar saya alami ketika menginjakkan kaki di halaman depan TPU Karet Bivak tempat Pram dimakamkan.

Pemakaman yang terletak di jantung kota Jakarta tersebut memiliki luas mencapai 16,2 hektare.

“Permisi, Mbak?” sapaku kepada salah seorang satpam.

“Ia Mas. Ada yang bisa dibantu?” sahut satpam.

“Di sini ada makamnya Pramoedya Ananta Toer yah?”

Tampaknya, ia kebingungan dengan pertanyaan yang kutodongkan kepadanya.

Dahinya berkerut, seperti sedang berusaha keras mencari tahu siapa itu orang yang kucari.

Tak tega membiarkannya terus kebingungan, saya mencoba untuk menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas sosok Pram.

Penjelasan yang tidak menghapus kebingungannya.

Ia akhirnya menyerah dan menganjurkan kepada saya untuk menanyakan kepada pihak informasi.

Berdasarkan keterangan pihak informasi, akhirnya, saya memperoleh gambaran lokasi makam Pram yang terletak di Blok AA1 No. 63.

Letaknya persis di samping pagar yang bersebelahan dengan jalan raya.

Jika dilihat secara sepintas, makam Pram tak semegah dan seindah kata-kata yang dituangkannya dalam sederet novel.

Bukan karena ketidakmampuan membangun tempat perisitirahatan abadi bagi Pram, tetapi kebijakan pihak pengelola kuburan yang menggariskan agar semua bentuk kuburan diseragamkan.

Bentuk makamnya persegi panjang dengan bagian tengah ditimbuni segunduk tanah.

Ditanami rumput pancasila.

Di atasnya, terdapat sebuah vas bunga kumal dengan tiga tangkai bunga mawar yang telah kering.

Entah sudah berapa lama parkir di pusara Pram.

Tidak sedikit pula rumput liar yang lolos disiangi oleh para penjaga kuburan karena keluarganya tak rutin membayar biaya pembersihan.

Bersih tidaknya kuburan tergantung pada kelancaran pembayaran.

“Setiap hari kami bertugas untuk membersihkan makam,” demikian kata Margono, salah satu petugas kebersihan TPU Karet Bivak.

Batu nisan yang tertanam di atas makam tak begitu mewah.

Bagian teratas nisan ada tulisan dalam bahasa Arab.

Di bawahnya, tertera dua nama penghuni makam tersebut: Pramoedya Ananta Toer dan Hj. Maemunah Thamrin binti H. Abdillah Thamrin.

Nama yang kedua merupakan sang istri.

Bagian depan makam, terdapat ‘teras kecil’ yang disediakan bagi setiap pengunjung yang ingin nyekar atau sekadar sowan.

Bagian belakang makam terdapat pula batu nisan lain berwarna hitam dengan tulisan tinta keemasan “Sastrawan Indonesia”.

Ini semacam ‘tanda pengenal’ bagi setiap pengunjung.

Sama halnya seperti tiang besi berbendera merah putih pada setiap makam para pahlawan.

Ujung bawah bagian kiri terpampang kata-kata terakhir Pram: “Pemuda Harus Melahirkan Pemimpin.”

TPU Karet Bivak di Jakarta. Foto: Jetho Lawet.

Pram memang telah tiada.

Namun, tulisan-tulisannya tetap hidup.

Karya-karyanya terus memberikan nafas bagi perjuangan kaum muda untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

Dalam perspektif Pram, pemuda adalah penggerak revolusi Indonesia.

Tanpa peran dan kerja pemuda, revolusi Indonesia hanyalah menjadi slogan kosong tanpa makna.

Hal itu dialaminya sendiri ketika menjadi seorang pemuda yang mati-matian berjuang demi revolusi Indonesia.

Kita dapat mencium aroma itu dengan membaca beberapa karyanya yang berjudul Arus Balik, Mangir, Tertalogi Pulau Buru, dan Sekali Peristiwa Di Banten Selatan.

Pembacaan terhadap karya-karya tersebut memberikan gambaran yang cukup gamblang tentang eksistensi pemuda yang berjuang dari suatu masa ke masa yang lain.

Pemuda tidak serta merta didefinisikan sebagai orang dengan batas usia tertentu.

Pemuda adalah suatu kekuatan yang terlahir di tengah kondisi sosio-politis yang melukai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Pemuda menjadi kekuatan yang berdiri di depan demi memperjuangkan kehidupan bersama yang adil dan demokratis.

Jangan heran jika wacana R-KUHP dan UU KPK yang digagas oleh DPR RI dengan maksud untuk disahkan harus berhadapan dengan kaum muda.

Sejumlah mahasiswa bahkan anak-anak SMA tak segan-segan turun ke jalan, berdiri di garda terdepan untuk memperjuangkan keadilan atas nama rakyat.

]Bahwa aksi yang pecah pada September 2019 lalu ditunggangi oleh kepentingan politik segelintir orang yang tak bertanggungjawab itu persoalan lain.

Meski banyak orang memvonis aksi tersebut sebagai sebuah aksi tanpa nalar, tetapi suatu hal yang patut dicatat adalah bahwa kekuatan yang terlahir dari pemuda itu setidaknya menjadi ‘alarm’ bagi para pengambil kebijakan untuk memperhitungkan kepentingan rakyat.

Tentu kita juga masih ingat betapa perjuangan para mahasiswa yang adalah kaum muda menumbangkan rezim Orde Baru pada 1998 silam.

Peristiwa itu menjadi sebuah sejarah bangsa Indonesia yang tak terlupakan.

Melalui catatan sejarah itu, kita disadarkan, ada satu kekuatan yang bisa mematahkan kebijakan yang hendak menodai hak rakyat.

Kekuatan itu berasal dari kaum muda.

*Alumnus Sanata Dharma Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here