Cara Kades Dion Kembangkan Potensi Desa Detubela

Ende, Ekorantt.com – Desa Detubela secara administratif berada di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende. Ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam dari Kota Ende, Desa Detubela terletak di daerah yang terpencil.

Kendati demikian, desa yang 90 persen penduduknya bermatapencaharian sebagai petani ini memiliki potensi pertanian yang menjanjikan.

Sebut saja potensi kemiri. Kemiri telah menjadi komoditi primadona di desa yang memiliki empat dusun ini. Setiap tahun, sekitar 50 ton kemiri dipanen. Dari kemirilah, orang Detubela bisa hidup dan menyekolahkan anak-anaknya. 

Selain kemiri, warga Detubela menggantungkan hidup dari hasil pertanian sawah. Area sawah membentang di daerah Nioboko dan Bhetolepe. Dataran sawah di dua area ini menjadi sumber beras warga Desa Detubela. Sistem drainasenya dibangun permanen menggunakan dana desa.

Untuk menopang kehidupan para petani, sebuah gapoktan dibentuk sebagai wadah untuk membangun kerja sama diantara petani. Namanya Gapoktan Insani.

iklan
Rumah adat Detubela

Yang tak kalah menariknya, Desa Detubela juga memiliki potensi budaya yang kaya. Hal itu terlihat dari keteguhan warga desa mempertahankan adat dan budaya warisan leluhur. 

Secara kultural, mereka tergabung dalam persekutuan adat Detubela dan persekutuhan adat Boa. Mosalaki (Kepala suku) dari dua persekutuan adat tersebut rutin menyelenggarakan ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.  

Setiap tahun, mosalaki (kepala suku) bersama warga suku menyelenggarakan upacara adat Tu Tau Tedo (tanam)dan  Tu tau Keti  (upacara pada saat panen)

Mata air Lowo Boa yang menjadi sumber PLTA di Desa Detubela

Kehadiran Bumdes

Kepala Desa Detubela, Dioniusius Dala (40), punya cara tersendiri untuk mengembangkan potensi Desa Detubela. Sejak dilantik 31 Januari 2016, Kades Dionisius hadir dengan konsep yang cerdas yakni membangun kampung. 

Mantan tenaga pemberdayaan masyarakat pada program PNPM mandiri perdesaan ini meramu potensi dan setiap kendala sebagai peluang demi kemajuan desa.

Salah satunya adalah mendirikan Badan Usaha Milik Desa bernama Tanggo Sama. Hanya bermodal awal 50 juta rupiah, Bumdes Tanggo Sama milik Desa Detubela kini perlahan berkembang. Selain unit usaha usaha simpan pinjam, ada juga unit usaha yang mengelola Pembangkit Listrik tenaga Air ( PLTA)

Unit usaha PLTA menjadikan Desa Detubela sebagai satu-satunya desa di Kabupaten Ende yang menggunakan air sebagai pembangkit listrik. PLTA dimanfaatkan mengingat listrik PLN belum masuk desa.

PLTA di Detubela mampu menerangi listrik di 102 rumah pelanggan yang adalah warga desa. Iurannya juga kecil. Setiap pelanggan dipatok harga 15 ribu rupiah setiap bulannya. Selanjutnya, dana iuran digunakan untuk membiayai operasional unit pengelola dan tenaga operator PLTA.

Menurut Ketua Unit Pengelola PLTA, Falente Medeira, PLTA ini sangat membantu warga desa. Walau minim perhatian pemerintah, pihaknya tetap setia mengelola untuk membantu warga desa.

“Kita bersyukur bisa ada potensi air terjun yang dapat dijadikan PLTA. Dan sekarang sudah menjadi unit usaha Bumdes sehingga lebih profesional mengelolanya,” kata Medeira kepada  Ekora NTT.

Kades Dionisius mengakui, desanya masih membutuhkan perhatian untuk penanganan fisik baik jalan desa, jalan produksi pertanian, tembok pengaman pemukiman.

Namun dirinya optimis ia bersama BPD akan terus membangun dan memperkuat posisi Bumdes dan fokus memberdayakan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan fisik dan pengembangan sumber daya manusia harus selaras sehingga pembangunan itu bisa berkeberlanjutan.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA