Tersangka saat melakukan rekonstruksi. Foto; Adeputra Moses/Ekorantt.com.

Ruteng, Ekorantt.com – Peristiwa pilu pembuangan bayi yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswi di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/10/2019) menimbulkan pertanyaan publik tentang motif yang melatari peristiwa tersebut.

Kapolres Manggarai, AKBP Cliffri Steinly Lapian, S.I.K melalui Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak PPA, Bripka Antonius Abun menjelaskan, SA membuang bayinya lantaran laki-laki yang menghamilinya enggan bertanggung jawab terhadap bayi mereka.

“Laki-lakinya sekarang bekerja di Bali,” kata Bripka Antonius kepada awak media di ruang kerjanya, Selasa (29/10/2019).

Laki-laki yang tidak disebutkan namanya itu sudah lama bekerja di Bali. 

Bripka Antonius menyampaikan, laki-lakinya sempat datang ke Manggarai dan berhubungan badan dengan SA. Setelah itu, si lelaki kembali ke Bali untuk lanjut bekerja di sana.

“Tetapi, setelah itu mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaan mereka sampai sekarang,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kata Bripka Antonius, laki-lakinya nanti akan dipanggil untuk dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, sembari kepolisian mendalami informasi-informasi awal yang telah diperoleh dari pelaku.

“Jika laki-laki tidak terlibat langsung saat tindakan pembuangan bayi itu dilakukan, ia tentu belum bisa diproses,” katanya.

Dikatakan Bripka Antonius, selain karena ayah dari bayinya tidak mau bertanggung jawab, SA pun mengaku bahwa dirinya takut jika kehamilannya diketahui oleh pihak kampus dan orangtuanya. Karena rasa takut itulah SA mengambil keputusan untuk membekap dan membuang bayinya di tepi Kali Ngali Leok.

Untuk diketahui, SA telah menjalani rekonstruksi kasus pembunuhan dan pembuangan bayinya pada Selasa (29/10/2019) di rumah kediamannya di Ngencung-Ruteng, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong.

Mahasiswi semester akhir di UNIKA St. Paulus Ruteng itu menjalani 29 adegan rekonstruksi. 

Selama proses rekonstruksi, ia didampingi oleh pengacara dan konselor dari Universitas St.Paulus Ruteng.

Kedua orangtuanya juga turut menyaksikan seluruh rangkaian rekonstruksi tersebut. 

Kedua orang tua serta keluarga yang hadir tampak menangis, mengeluarkan air mata saat menyaksikan reka ulang kejadian pembuangan bayi yang dilakukan buah hati mereka.

Adeputra Moses

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here