Proyek penataan Taman Pancasila di Simpang Lima Kota Ende (Foto Ansel Kaise)

Ende, Ekorantt.com – Proyek-proyek infrastruktur ‘menyerang’ Kota Ende, Kabupaten Ende. Proyek baik berskala besar maupun kecil bertebaran di sudut-sudut kota berjuluk kota pelajar ini.

Kota yang berada di pesisir pantai selatan ini berusaha merias wajah dalam semangat visi pemerintahan sekarang yakni “membangun desa, menata kota”.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende tak tanggung-tanggung menggandeng  PT Konindo Panorama Jakarta untuk menyusun master plan pengembangan Kota Ende pada masa depan.

Salah satu goal  dari perencanaan besar ini adalah Kota Ende harus diarahkan menjadi kota pariwisata.

Di tengah gegap gempita pembangunan di kota pancasila ini, fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah persoalan sampah. Warga Kota Ende melihat masalah sampah sebagai hal lumrah yang terjadi setiap tahun.

“Masalahsampahdi Kota Ende menjadi hal klasik. Jika musim penghujan tiba, kami kerap menyaksikan pemandangan ini. Berbagai upaya telah dilakukan warga dan komunitas pemerhati sampah,” keluh sejumlah warga .

Pemandangan seronok sampah hampir terlihat di sudut-sudut kota. Kalau diibaratkan seperti wajah manusia, Kota Ende penuh dengan bopeng yang merusak kemolekannya.

Kondisi drainase Jalan Anggrek-Kota Ende yang dipenuhi sampah dan sedimen tanah (Foto Ansel Kaise)

Yang menggelikan juga sampah memenuhi drainase di beberapa titik jalan Kota Ende. Misalnya; area Jalan Durian Ende depan Kantor Kesbangpol Kabupaten Ende, titik Drainase pertemuan antara Jalan Anggrek dan Jalan Gatot Subroto, titik drainase Lampu 5 Ende, titik pertemuan Jalan Samratulangi dengan area Pasar Wolowona, titik pertemuan Jalan Melati Ende dengan Jalan Gatot Subroto serta beberapa daerah lainya.

Setiap tahun, pada awal musim hujan, daerah-daerah ini menjadi langganan meluapnya berbagai jenis sampah.

“Di sini kalau awal musim hujan sudah tradisi kami harus waspada karena drainasenya pasti meluap,” ungkap Jainudin, warga yang tinggal sekitar Kantor Kesbangpol Ende.

Menurut Jainudin, penyebabnya adalah drainase tidak mampu menampung volume sampah yang terbawa air dari hulu.

“Sampah itu dari atas, yah sekitar jalan Wz Yohanes. Di atas itu saluran besar. Sementara ke sini salurannya sudah kecil. Itu penuh sampah. Sekarang  kan awal musim hujan kita minta ada gerakan bersama baik RT/RW, kelurahan, Dinas Lingkungan Hidup dan sekolah-sekolah untuk tentukan 1 hari menjadi hari bersama bersih sampah. Secepatnya mesti dibuat. Sebab kalau tidak, kita akan alami hal yang sama lagi,” usul Jainudin.

Hal senada juga disampaikan Melki, warga yang tinggal di Jalan Anggrek Ende. Jika musim penghujan tiba, ia dan tetangganya mengeluhkan kondisi saluran yang kecil dan penuh sampah.

“Itu di ujung Jalan Anggrek bawah selalu berserakan sampah,” ujar Melki.

Menurut Melky, pemandangan meluapnya sampah pada awal musim penghujan disebabkan drainase yang ada selain menampung sampah, juga sedimen pasir dan tanah.

“Mesti dikeruk, sudah banyak pasir dan tanah di dalam saluran. Kalau tidak dikeruk nanti musim hujan pasti meluap. Di Dinas PU kan ada exsavator kecil. Bisa gunakan itu. Jangan tunggu musibah dulu,” pinta Melki.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende, Abdul Haris Madjid mengakui, persolan sampah di Kota Ende menjadi tanggung jawab instansinya.

Menurutnya, pemerintah saat ini membutuhkan lokasi Tempat Pembuangan Aakhir (TPA) baru. TPA baru dibutuhkan karena TPA Rate di Kelurahan Tanjung saat ini tidak layak lagi digunakan.

“Kita butuh 5 hektare lahan. Sekarang sedang ada survei di Nangaba dan Nangakeo,” kata Abdul Haris saat rapat kerja bersama DPRD Ende beberapa waktu  lalu.

Menurutnya, upaya sosialisasi kepada masyarakat untuk sadar sampah terus dilakukan. Namun menurutnya, perilaku dan cara pandang masyarakat mesti disadarkan secara berkelanjutan tentang membuang sampah pada tempatnya.

“Kita punya Perda penanganan sampah, Perda No 8 tahun 2014, namun belum dijalankan secara optimal,” ujar Haris.

Anggota DPRD Ende Dapil Kota, Sabrin Indradewa sependapat dengan permintaan warga. Menurutnya, menyelesaikan masalah sampah di Kota Ende harus bersifat preventif sekaligus melibatkan banyak pihak.  

Ia juga meminta kolaborasi dinas-dinas di Kabupaten Ende dalam mengurus masalah sampah dan drainase, terutama Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum.

“Saya setuju itu. Masalah klasik ini harus diminimalisir dari awal. Musim penghujan sudah di depan mata, jadi mesti direspon cepat. DPRD secara lembaga dukung langkah pemerintah mengadakan TPA baru, termasuk evaluasi dan peremajaan kembali kendaraan pengangkut sampah,” tandas Sabrin.

Hal ini, kata Sabrin, penting mengingat Pemkab Ende saat ini membangun Kota Ende sebagai kota pariwisata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here