Foto: republika.co.id

Kupang, Ekorantt.com – Badan Pusat Statistik (BPS) NTT dalam laporannya baru-baru ini menyebutkan jumlah pengangguran terbuka di NTT mencapai 8,3 ribu orang.

“Penganggur di NTT pada Agustus 2019 bertambah 8,3 ribu orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun  2018 tercatat 74,7 ribu orang,” kata Kepala BPS Provins NTT Darwis Sitorus di Kupang, Selasa (5/11/2019).

Dilansir dari Antaranews.com, Darwis  menjelaskan, penduduk di provinsi NTT yang bekerja pada Agustus 2019 mencapai 2,39 juta atau tercatat berkurang sekitar 16,9 ribu orang dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 sebesar 2,41 juta orang.

Dia menyebutkan, dari sisi distribusi pekerjaan, sebagian besar penduduk bekerja pada kategori pertanian mencapai sebanyak 1,17 juta orang atau 48,7 persen, diikuti perdagangan besar-eceran 10,97 persen, dan industri pengolahan 10,2 persen.

Dia menyebutkan, distribusi pekerjaan sektor pertanian sendiri mengalami kontraksi atau pengurangan dengan share terbesar mencapai 6,03 persen.

Menurut Darwis, kondisi iklim berupa kemarau panjang dan ekstrim yang melanda sebagian besar wilayah setempat turut memberikan andil besar terhadap berkurangnya tenaga kerja di bidang pertanian.

“Para petani kita tidak bisa berbuat banyak selama kemarau ekstrim sehingga banyak yang menganggur seperti yang terlihat di daerah-daerah,” katanya.

Dia mengatakan, namun jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Tanah Air, tingkat pengangguran terbuka di NTT berada pada urutan kelima terendah.

Dia menambahkan, NTT memiliki potensi besar terutama dari sektor pariwisata yang jika dikembangkan secara pesat maka akan berdampak positif untuk mengurangi jumlah tingkat pengangguran.

“Kalau pariwisata berkembang pesat di NTT seperti di Bali maka lowongan pekerjaan semakin terbuka sehingga bisa bealih, dengan begitu bisa menekan angka pengangguran secara signifikan,” katanya.

Para petani dari kelompok Mekar Tani Magepanda mengakui kondisi cuaca yang ekstrim turut memengaruhi sejumlah petani tidak masuk ke sawah dan terpaksa meninggalkan areal pertanian karena ketiadaan air untuk mengairi sawah.

“Kalau BPS bilang jumlah pengangguran terbuka bertamabah dan penyumbangnya para petani, ya kami kira benar karena banyak petani di sini yang terpaksa meninggalkan areal pertanian itu benar. Ada petani juga yang gagal panen,” demikian kata Tin Supriyatin selaku Ketua kelompok Mekar Tani Magepanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here