Kemasan minyak kelapa murni yang olah Yosef Hendarsyah

Maumere, Ekorantt.com – Kabupaten Sikka kaya akan kelapa. Itulah sebabnya Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka dikenal luas sebagai kota nyiur melambai.

Potensi kelapanya tersebar merata di sejumlah kecamatan, termasuk Kecamatan Nita dan Koting. Sudah warisan turun-temurun, para petani bergantung sepenuhnya pada kebun kelapa.

Mereka mengandalkan kopra sebagai satu-satunya olahan kelapa yang dikeringkan, dijual demi mendapatkan rupiah, untuk selanjutnya membiayai hidup dan pendidikan anak.

Beberapa tahun terakhir, harga kopra anjlok. Para petani kelapa tradisional keteteran. Mereka tidak tahu, harus berbuat apa. Tenaga yang mereka keluarkan tak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.   

Melihat situasi ini, Yosef Hendarsyah, warga Ribang-Koting, Kabupaten Sikka memikirkan cara untuk keluar dari lilitan masalah petani kelapa. Pria campuran Tasikmalaya-Koting ini mencari olahan alternatif kelapa yang bisa dijual dengan harga yang bersahabat.

Yosef memaksimalkan kerativitasnya dengan mengolah kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni. Kerja ini dimulainya sejak tahun 2005 di Dusun Woloara, Desa Ribang, Kecamatan Koting, Sikka.

Flores Virgin Coconut Oil (VCO), begitu nama minyak kelapa murni olahan Yosef Hendarsyah. Langkah awal mengolah VCO tidak menemui kendala yang berarti. Malahan banyak orang berminat dengan VCO buatannya.

Kendati demikian, Yosef tidak jumawa. Ia terus belajar. Untuk menambah keahliannya, ia mengikuti pelatihan pengolahan minyak kelapa murni di Yogyakarta.

Sekembali dari Jogyakarta, Yosef mengajarkan pengolahan VCO kepada keluarga dan masyarakat sekitar.  Mereka bekerja sama menghasilkan minyak kelapa murni.

Untuk menguji kualitasnya, Yosef membawa beberapa sampel minyak kelapa murni untuk dari uji coba dan diteliti di Fakultas MIPA Universitas Gajah Mada.

“Saya bawa tiga sampel, sampel kelapa pinggir, kelapa tengah dan kelapa dalam. Hasil laboratorium, kandungan paling tinggi adalah asam laurat yang merupakan kandungan utama minyak kelapa murni. Asam laurat memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan anti jamur,” tutu Yosef awal November lalu.

Semula, produk Flores VCO masih dikonsumsi oleh kalangan sendiri. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Flores VCO melebarkan pasarnya di Kabupaten Sikka, bahkan menyebar hingga ke wilayah di luar Flores.

Yosef Hendarsyiah

Tahun 2005-2009, Yosef membawa produk ini ke puncak Gunung Jaya Wijaya.

“Dengan satu senduk FVCO saja membuat saya bukan hanya bisa berjalan mendaki gunung bahkan berlari. Manfaatnya yang luar biasa ini akhirnya mulai dipromosikan dan mendapat sambutan positif dari masyarakat,” cerita Yosef yang pernah bekerja di Freeport Timika ini.

Tidak hanya ke Papua, Yosef juga mengirimkan 300 botol Flores VCO ke Kalimantan, khususnya di Balikpapan dan Samarinda. Untuk daerah Jawa, Flores VCO dikirim sesuai dengan permintaan pasar. Respon pasar sangat positif.

Hingga saat ini, produk Flores VCO terus berkembang dan menembus pasar nasional. Ada dua merek yang sementara dipasarkan yakni Rahmat Virgin Coconut Oil dan Flores Virgin Coconut Oil.

“Mencukupi,” demikian jawabannya ketika ditanya soal keuntungan yang didapat dari pengolahan minyak kelapa murni.

Flores VCO, jelas Yos, kaya akan sumber nutrisi karena kelengkapan unsur Omega. Jauh lebih baik tinggi dari minyak ikan.

Agar usahanya legal, Yosef telah mengurus dan mendapat Izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Dengan izin ini, ia lebih leluasa untuk mengembangkan usaha.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here