Istimewa

Maumere, Ekorantt.com – KSP Kopdit Pintu Air lahir 1 April 1995. Dimulai oleh 50 anggota perintis di Rotat, Pintu Air tumbuh dan berkembang dalam semangat kebersamaan.

Tak terasa, Pintu Air akan merengkuh usia perak, 25 tahun. Dalam rentang usia ini, pelayanannya sudah menjalar ke seluruh Provinsi NTT, bahkan di beberapa wilayah di luar NTT.

Anggotanya sudah mencapai angka 251 ribu lebih dan demi mendekatkan pelayanan, Pintu Air telah membuka 51 cabang. Ada juga Kantor Cabang Pembantu, Unit dan Kelompok yang hadir dalam semangat yang sama yakni pendekatan pelayanan.

Dalam lokakarya pendampingan manajerial bagi pengurus, pengawas,  dan tim manajemen Pintu Air kantor pusat di Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Sikka 10 Desember 2019 lalu, Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano merefleksikan dua hal.

Pertama, perjalanan Pintu Air diwarnai banyak hal prestasi, baik dari sisi organisasi maupun dari sisi anggotanya.

Kedua, tak bisa dimungkiri juga, pembenahan tata kelola organisasi menjadi kebutuhan. Sebagai badan usaha yang dimiliki anggota, koperasi harus dikelola secara profesional.

Jano mengakui, tata kelola organisasi Pintu Air selama ini jauh dari kata sempurna. Manajemen sumber daya manusia pengelola masih harus dibenahi lagi.

“Banyak hal yang belum kita kerjakan secara profesional. Lembaga milik rakyat harus dikelola secara profesional,” kata Jano.

Meski demikian, Jano optimis bahwa Pintu Air akan lebih baik dan lebih hebat dari kondisi saat ini lewat sejumlah pembenahan.

“Kami akan membenahi SDM, baik kepada pengurus, pengawas maupun tim manajemen, agar kedepannya mengelola koperasi ini secara terukur dan profesional,” pungkas Jano.

Pendampingan Manajerial

Lokakarya yang berlangsung dua hari (9-10 Desember 2019) ini menghadirkan narasumber Suster Margaretha Ada, SSpS,S.Pd,MSHR. Suster Margaretha memberikan materi tentang manajemen sumber daya manusia, yang dampaknya adalah tata kelola organisasi koperasi yang lebih berkualitas dan profesional.

Menurut Suster Margaretha, tim manajemen yang sudah bekerja harus diberi satu suntikan baru, diupdate pengetahuannya sehingga tetap mengikuti alur kerja secara optimal.

Diakuinya, lokakarya ini masih bersifar pendampingan manajerial secara umum. Lebih dari itu, Human Resouces Management sudah menjadi resep mutlak dalam sebuah organisasi, baik swasta, koperasi maupun pemerintah.

Selama lokakarya, bersama peserta, Suster Margaretha berusaha menggali kebutuhan manajerial di Pintu Air. Lalu, atas kebutuhan tersebut, dicarilah solusinya untuk selanjutnya dirumuskan.

Suster Margaretha menilai, Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola Pintu Air sudah bagus. Hanya yang menjadi persoalan adalah belum terkoneksinya sistem manajerial dan SDM-nya.

“Efeknya pada pekerjaan dan pelayanan kepada masyarakat,” kata Suster Margaretha.

Hasil yang mau dicapai dari lokakarya ini, jelas Suster Margaretha, adalah dokumen tertulis. Tidak sampai di situ saja, dibuat juga pakta integritas yang melahirkan rangkaian program kerja setahun, yang kemudian dilaksanakan dan dievaluasi.

Ia berharap, kemampuan manajerial bisa melahirkan sumber daya manusia yang mampu mengalirkan pelayanan dengan porsi yang sama banyak kepada anggota tanpa pandang bulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here