Kamis, 13 Agustus 2020

Maria Goreti: Merupiahkan Serat Batang Pisang

Maumere, Ekorantt.com – Sore itu, suasana Desa Wailamung cukup lengang. Entah warganya masih di kebun menyiapkan lahan menjemput musim hujan atau sedang berurusan ke luar desa. Beberapa kendaraan motor dan pick up melintasi jalan desa. Mayoritas penduduk desa yang berjarak kurang lebih 50 Km arah timur Kota Maumere itu adalah petai plus nelayan musiman.

Berbeda dengan Maria Goreti. Selain ibu rumah tangga dan petani, wanita paruh baya ini menekuni kerajinan tangan menyulam serat batang pisang menjadi tas dan topi. Di depan rumahnya, berdiri sebuah pondok kecil tanpa dinding tempat ia dan 9 orang rekannya belajar menyulam topi dan tas dari serat patang pisang yang dikeringkan.

Maria Goreti adalah Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tani Nelayan Desa Wailamung. Di bawah kepemimpinannya, KUB ini perlahan bertumbuh. Ia menyadari, ketersediaan bahan baku yang melimpah di desa menjadi faktor penentu keberhasilan dan keberlanjutan usaha yang digeluti kelompoknya.

“Saya mau mengubah kebiasaan kami di sini yang cuma mengandalkan buah pisang untuk mendatangkan uang. Padahal, serat batangnya justru jauh lebih mahal harganya ketimbang satu tandan pisang bila dijual,” tutur Maria.

Semangat dan motivasi Maria Goreti kian bertambah ketika pemerintah melalui Kementerian Desa menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk pengembangan program inovasi desa. Baginya, program itu dapat memperbaiki pendapatan orang desa dengan cara mengelola potensi yang ada di desa.

Maria menuturkan, pilihan usaha kerajinan tangan didukung oleh potensi hamparan pohon pisang di Wailamung. Bahan baku dari daun lontar terlebih dahulu dikeringkan, diberi warna, dan baru kemudian dianyam.

Berkat serat batang pisang itu, Maria dan teman-temannya ikut ambil bagian dalam ajang pameran inovasi desa tingkat Kecamatan Tabibura beberapa waktu lalu. Dalam pameran itu, Maria berhasil meraup uang dari hasil penjualan produknya sebesar satu juta rupiah lebih.

Dia memberikan contoh. Bila satu tandan pisang dijual di desa seharga Rp25 ribu, berarti untuk mendapatkan Rp1,5 Juta diperlukan 60 tandan pisang. Padahal, dari 2-3 pohon pisang yang diambil seratnya sudah dapat menghasilkan sebuah topi yang dijual dengan harga Rp150 Ribu. Jadi, untuk menghasilkan Rp1,5 Juta hanya memerlukan 30 pohon pisang.

“Nah, coba dibandingkan, mana yang lebih menguntungkan?” katanya.

Manjawab Ekora terkait kesulitan yang dihadapinya, Maria mengatakan, sejauh ini, belum ada permasalahan yang berarti. Pemasaran masih aman karena permintaan cukup tinggi. Di samping itu, usaha ini tidak membutuhkan modal yang besar.

“Modal utamanya adalah kemauan dan ketekunan untuk menyelesaikan sulaman setiap hari. Kadang sudah ada yang pesan sehingga ketika sudah selesai langsung ada yang bayar,” tutur Maria penuh semangat sambil memperlihatkan hasil karyanya.

TERKINI

Seorang Anggota DPRD di Ngada Diduga Terkonfimasi Positif Covid-19

Bajawa, Ekorantt.com - Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ngada bernisial PN diduga terkonfirmasi positif Covid-19. Anggota dewan tersebut terkonfirmasi positif Covid-19...

Pendidikan Karakter dan Kesadaran Hukum Jadi Materi Pembelajaran di SMPN 1 Maumere

Maumere, Ekorantt.com - Lembaga Pendidikan SMPN 1 Maumere memasukkan pendidikan karakter, pola hidup bersih dan sehat, dan kesadaran hokum sebagai materi pembelajaran sekolah. Demikian...

Investasi Pendidikan dan Keberlanjutan Mata Rantai Pembangunan

Bajawa, Ekorantt.com - Ada konsensus umum bahwa investasi nasional dalam pendidikan mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Negara-negara yang membelanjakan persentase...

Heboh Anak Babi Berkepala Dua di Wailiti

Maumere, Ekorantt.com - Warga RT 027/ RW 002 Kelurahan Wailiti Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka dihebohkan dengan bentuk fisik anak babi yang baru dilahirkan...

BACA JUGA

Pendidikan Karakter dan Kesadaran Hukum Jadi Materi Pembelajaran di SMPN 1 Maumere

Maumere, Ekorantt.com - Lembaga Pendidikan SMPN 1 Maumere memasukkan pendidikan karakter, pola hidup bersih dan sehat, dan kesadaran hokum sebagai materi pembelajaran sekolah. Demikian...

Calon Sarjana FKIP-IKTL Harus Mampu Beradaptasi

Larantuka, Ekorantt.com – Calon sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Institut Keguruan dan Teknologi Waibalun harus mampu beradaptasi dengan dinamika di tengah masyarakat....

Heboh Anak Babi Berkepala Dua di Wailiti

Maumere, Ekorantt.com - Warga RT 027/ RW 002 Kelurahan Wailiti Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka dihebohkan dengan bentuk fisik anak babi yang baru dilahirkan...

Tambah Satu, Total Pasien COVID-19 di Nagekeo Jadi Tiga

Nagekeo, Ekorantt.com - Jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kabupaten Nagekeo bertambah jadi tiga orang, setelah hasil 2 sampel swab - yang sebelumnya masih...

Terapkan Pembelajaran Daring, SMAK Regina Pacis Bajawa Bantu Biaya Pulsa untuk Siswa

Bajawa, Ekorantt.com - Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Regina Pacis Bajawa, Kabupaten Ngada, memberi bantuan biaya pembelian pulsa bagi siswa-siswi, selama penerapan sistem pembelajaran...

Pemprov NTT Akan Lakukan Kajian untuk Mengaktifkan KBM di Sekolah

Kupang, Ekorantt.com – Pasca-pemberlakuan masa adaptasi kebiasaan baru pada 15 Juli 2020 di Provinsi NTT, aktivitas kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan sekolah menengah...

Diberhentikan Tanpa Kejelasan, 26 Karyawan Barata Kupang Mengadu ke DPRD NTT

Kupang, Ekorantt.com - Sebanyak 26 karyawan PT Barata Guna Indo Ganesa Cabang Kupang mendatangi kantor DPRD NTT pada Rabu (12/8/2020) sore. Mereka ingin mengadu...

Investasi Pendidikan dan Keberlanjutan Mata Rantai Pembangunan

Bajawa, Ekorantt.com - Ada konsensus umum bahwa investasi nasional dalam pendidikan mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Negara-negara yang membelanjakan persentase...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here