Trauma Gempa dan Tsunami 1992, Warga Pantura Flores Bermalam di Kebun

Larantuka, Ekorantt.com — Pasca gempa dengan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah Larantuka, NTT pada Selasa, [14/12/2021] pukul 11.20 WITA,  warga di pesisir Pantai Utara [Pantura] Kabupaten Flores Timur memilih mengungsi di pondok-pondok kebun mereka yang berada di dataran tinggi.

“Tadi memang kami sudah mengetahui dari BMKG bahwa sudah mencabut status siaga bencana tsunami. Namun, guncangan gempa siang tadi buat kami ingat kembali tsunami waktu kecil dulu. Warga di pantai selatan tidak lihat dan rasa tsunami tahun 92 [1992], tapi kami disini, sendiri yang rasa dan alami bagaimana tsunami menghancurkan desa kami. Kami yang rasa sendiri gempa dan tsunami dulu. Jadi kami pilih mengungsi dan bermalam disini untuk keselamatan kami jika ada gempa susulan,” tutur Pit Tukan, salah satu tokoh muda Dusun Koliwutun, Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, saat dihubungi oleh Ekora NTT via telepon seluler pada Selasa [14/12] malam.

Pit Tukan menjelaskan setidaknya melalui kelompok siaga bencana desa, warga setempat dibagi dalam enam titik pos pengungsian. Mereka bermalam dengan persiapan seadanya.

“Kami bawa seadanya saja. Pakaian di badan, tikar, selimut, dan beras seadanya untuk bisa makan malam hari. Karena pondok kebun menampung banyak orang jadi tidak bisa bawa perlengkapan yang lain. Untuk penerangan kami gunakan lampu petromax,” ungkap Pit.

Warga di Larantuka nampak tidur gabung di sebuah pondok antisipasi gempa susulan [Foto : dok ist]

Sementara itu, Yohanes Kelen, Kepala Desa Lewobele, Kecamatan Lewolema menuturkan melalui kelompok siaga bencana desa, dirinya menghimbau warganya yang tinggal di daerah pesisir untuk mengungsi di kebun yang berada di dataran tinggi.

iklan

“Guncangan tadi siang sangat besar. Hal ini buat ingatan kami kembali pada peristiwa gempa dan tsunami 92. Jadi, saya himbau warga yang ada di pesisir untuk mengungsi sementara dulu di dataran tinggi,” ungkap Yohanes saat dihubungi oleh Ekora NTT.

Yohanes menjelaskan kelompok siaga bencana desa setempat menyiapkan sebanyak 2 titik pos pengungsian.

“Kami seadanya saja. Terpal robek juga dipakai saja. Intinya warga kami bisa selamat jika ada gempa susulan,” jelas Yohanes.

“Tadi siang memang ada tim Tagana yang datang cek keadaan disini. Tapi, sampai sekarang dari pihak Pemda belum ada tindak lanjut,” tambah dia saat dikonfirmasi terkait respon pemerintah daerah terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat dipesisir utara Flores.

Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh media Ekora NTT, masyarakat pesisir di wilayah Pantura, Flotim seperti Kecamatan Tanjung Bunga, Lewolema, Demon Pagong, dan Titehena memilih mengungsi di kebun-kebun yang berada di dataran tinggi demi mengantisipasi gempa susulan.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA