Ikhtiar Gesti Menantang Karang

Kupang, Ekorantt.com – Kagum. Begitu perasaan yang muncul saat mengunjungi lahan pertanian milik Gestianus Sino, 38 tahun, di Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pertengahan November 2021 lalu. Lahan pertanian itu tampak hijau di tengah kering kerontangnya topografi Kota Kupang yang didominasi oleh bebatuan karang. Sekitar 90 persen lahan Kota Kupang berbalut batu karang kering karena rendahnya curah hujan.

Meski begitu, lahan pertanian tersebut tidak disulap dalam waktu semalam. Ayah satu anak ini mesti berjuang untuk mengubah lahan tandus jadi lahan yang layak untuk pertanian. Usaha yang tidak gampang hingga ia dibilang gila.

“Awal sekali pada tahun 2013 saya dikira gila. Bagaimana mungkin saya bisa buat lahan batu karang untuk pertanian. Memang agak aneh juga. Apalagi saya ini seorang sarjana,” kata Gesti, demikian sapaan akrabnya.

Gesti bercerita, dirinya mulai bertani sejak tahun 2013. Hidup menjadi petani merupakan pilihannya setamat kuliah dari Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang. Bila teman-temannya yang lain bekerja di kantor, sebagaimana cita-cita lumrah anak NTT, Gesti mau ‘berkotor tangan’ sebagai petani.

“Saya melihat sektor pertanian itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak makan. Artinya bahwa pertanian adalah salah satu produk utama yang tidak bisa digantikan,” jelasnya.

iklan

Pekerjaan pertama yang dilakukannya adalah mencungkil karang di permukaan tanah seluas 1,2 hektare miliknya. Lubang bekas karang ditambal dengan tanah, kemudian digembur, membentuk bedeng-bedeng berjejer rapi.

“Kita beli tanah. Bukan tanah kapling, tapi beli tanah bertruck-truck untuk mengisi lubang. Kalau tanahnya kurang, kita tambah dengan serbuk gergaji untuk mengisi pori-pori batu supaya tambah humus tanah,” jelas Gesti.

Mengingat Gesti telah mengikrarkan diri untuk mengembangkan pertanian organik, dia kemudian meracik pupuk kompos setelah menyiapkan lahan. Kotoran hewan dan dedaunan diolah menjadi pupuk organik, untuk kemudian ditabur ke lahan.

Tidak hanya organik, Gesti memadukan beberapa kegiatan yakni pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu lahan yang sama. Ia menanam beraneka macam sayuran sembari membudidayakan lele, itik, dan kambing. Itulah yang ia namakan sebagai pertanian organik terpadu.

Gesti juga menerapkan sistem tumpang sari khusus untuk pertanian. Misalnya; menanam pada saat bersamaan cabai yang usianya tiga bulan dengan bayam hijau, kangkung, dan selada yang masa pemeliharaannya hanya satu bulan.

“Sambil tunggu panen cabai tiga bulan, kita panen kangkung. Kangkung kan usianya cuma 24 hari. Kita panen kangkung tiga kali baru kita panen cabai satu kali,” terang Gesti.

Saat masa panen tiba, sayur-sayuran segar dan buah dipetik lalu dijual. Sementara yang tidak terpakai, diolah kembali untuk makanan hewan dan pupuk. Demikian pula kotoran hewan akan dijadikan pupuk.

“Buah-buahan yang tidak laku akan diolah jadi pupuk cair. Kita punya mesin untuk mengolahnya. Air bekas kolam lele juga disiram ke bedeng, jadi pupuk cair. Artinya kita bentuk ekosistem yang punya dampak bagi lingkungan,” jelasnya.

Lanjut Gesti, dia memberlakukan rotasi tanaman demi menghindari hama. Satu jenis tanaman tidak boleh ditanam pada satu bedeng untuk lebih dari satu masa tanam. Harus diganti dengan tanaman lain.

“Bila setiap petak diganti dengan jenis tanaman lain, hama bingung. Karena hama pada tomat tidak mungkin kena pada kangkung. Begitu pun sebaliknya. Jadi setiap tanaman itu hamanya beda-beda,” jelas Gesti.

Khusus pemasaran, Gesti tidak kesulitan. Ada yang datang langsung ke kebun. Ada pula yang memesan lewat pasar digital bernama GS Organik yang tersedia di aplikasi handphone.

Salah satu lahan pertanian milik Gesti di Matani-Kupang

Tanah Sehat, Tanaman Sehat, Manusia Sehat

Dorongan Gesti untuk mengembangkan pertanian organik terpadu muncul setelah dirinya berdiskusi dengan sang istri, Kristiani Paskalita Pati yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Mereka sepakat untuk menghasilkan sendiri pangan yang sehat.

“Faktor kesehatan keluarga paling pertama. Kalau mau sehat kita harus siapkan makanan sendiri ke depan,” ujar Gesti mengutip kesepakatan kecil antara dia dan sang istri.

Motivasi Gesti juga tidak terlepas dari spiritnya untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan. Baginya, lahan harus direkayasa bukan saja untuk hari ini tapi untuk masa depan.

Semasa kuliah dulu, Gesti belajar tentang pestisida. Dari jenis-jenis pestisida, manfaat, hingga cara menggunakannya. Tapi yang dilupakan adalah apakah penggunaan pestisida bisa menciptakan pertanian berkelanjutan?

“Kami sekolah di kampus diajarkan bagaimana menghafal aplikasi bahan kimia. Kami itu diajarkan bagaimana dosis pupuk kimia, bagaimana mengaplikasikan herbisida. Jadi hafal, tapi tidak pernah berpikir ketika barang-barang itu ada, apakah ekosistem berlanjut atau tidak,” tuturnya.

Seharusnya, jelas Gesti, para sarjana pertanian memanfaatkan sesuatu yang ada di lingkungan sekitar untuk keperluan pertanian. Tapi malangnya, pihak kampus telah menggiring dan mencekoki mahasiswa dengan pengetahuan tentang cara memakai pestisida secara besar-besaran.

Padahal, lanjut Gesti, unsur hara ada juga pada dedaunan yang tumbuh di alam. Tinggal saja bagaimana cara meraciknya sesuai dengan kebutuhan tanaman. Malah, penggunaan bahan alam lebih ramah lingkungan.

“Penggunaan pestisida bikin tumbuhan tumbuh sehat. Tapi apakah tanahnya sehat? Apakah kita yang makan sayur hasil dari pupuk pestisida akan sehat?” tanya Gesti retoris. “Berperang melawan pestisida ini kan sama seperti orang-orang hukum melawan koruptor.”

Gesti meyakini bahwa pertanian organik akan melahirkan tanah yang sehat, tanaman yang sehat, dan tentu saja manusia yang mengonsumsi produk pertanian organik pun akan sehat.

Sayuran organik yang dipanen dari lahan pertanian milik Gesti

Gaya Hidup

Mengonsumsi produk pertanian organik harus menjadi gaya hidup masyarakat Kota Kupang. Harapan itu terpatri dalam hati Gesti.

Produk pertanian organik sudah menjadi hidangan harian keluarga kecilnya. Selain tak merogoh kocek untuk beli sayuran di pasar, panenan segar dari lahan sendiri diakui lebih sehat.

Dirinya berharap semakin hari semakin banyak yang mengonsumsi produk organik. Menukil data GS Organik, sebut Gesti, sejumlah orang sudah berlangganan dengan produk pertaniannya.

“Saat pandemi, kebutuhan akan makanan sehat sangat tinggi. Orang tidak peduli dengan harganya. Orang-orang butuh makanan yang sehat supaya imun tubuh terjaga,” sebutnya.

Selain mengonsumsi produk organik, Gesti berharap bahwa pertanian organik harus digandrungi di kalangan petani. Karena itu ia tidak pelit ilmu dan sedapat mungkin berbagi ilmu dengan para petani lain.

“Saya terima siapa saja yang mau belajar di tempat saya. Kalau diundang seminar, saya memberikan yang saya punya, supaya orang bisa belajar dan buat,” jelasnya.

Kini, setiap tahun ia menerima para mahasiswa yang melakukan praktik lapangan di tempatnya. Kepada mereka, Gesti berbagi pengalaman dan mengajak untuk menjadi petani. Bukan saja petani, tetapi menjadi petani organik.

“Sekarang beberapa anak yang pernah praktik di sini sudah buat di kampung halaman mereka. Mereka kontak saya bilang terima kasih karena sudah bisa kembangkan pertanian sendiri. Saya sangat senang,” kata Gesti.

Teranyar Gesti ikut memberikan pendampingan kepada Kelompok Tani (Poktan) Kaifo Ingu, Oesao, Kabupaten Kupang yang membudidayakan padi organik. Melalui GS Organik, Gesti pun membantu memasarkan besar organik yang dihasilkan oleh kelompok tani ini.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA