Bajawa, Ekorantt.com – Tatapan mata Yohanes Bosko Ono, 65 tahun, serius melihat ikan bandeng ke dalam tambaknya. Meski terik matahari menyengat, namun tak mengurungkan niat Yohanes untuk tetap konsentrasi berdiri di pematang tambak sambil memegang jala yang sudah usang termakan usia.
Ada beberapa barisan tali dari jala berwarna putih itu sudah tak serapi dulu. Beberapa bagiannya tampak disambung kembali dengan ikatan sederhana.
Berbekal jala sederhana, ia sibuk memanen ikan bandeng yang dirawatnya selama tiga bulan terakhir.
Yohanes berencana hasil tangkapannya akan dijual demi membeli beras dan kebutuhan pokok.
“Begini sudah kerja kami, jangan takut panas, intinya dapat rezeki, bisa beli beras,” ujarnya sembari tertawa saat berbincang-bincang dengan Ekora NTT pada Sabtu, 20 Juni 2026 siang.
Sudah belasan tahun lamanya, Yohanes mengurus tambak seluas 40×40 meter di Desa Lekosambi Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Ia menjadi petani ikan bandeng sejak 2017, setelah menyadari adanya potensi bandeng di desanya.

Saat merintis usahanya, Yohanes tidak mengeluarkan biaya karena dibantu keluarga dan kerabatnya. Ia hanya berbekal pacul dan alat seadanya.
“Waktu buka awal ukuran tidak terlalu besar, saya lupa luasnya, tapi lumayan, itu hanya modal tenaga saja,” tutur Yohanes.
Menjadi petani bandeng, kata dia, bukan pekerjaan mudah. Apalagi Yohanes tidak memiliki pengetahuan khusus untuk melakukan budi daya ikan bandeng.
Ia belajar dan bertanya kepada petani lain yang usahanya lebih dulu. Konsultasinya ini tentu saja untuk menambah wawasan bagaimana membudidaya ikan bandeng.
Ia mengaku bisa meraup jutaan rupiah per bulan dari usaha ikan bandeng. Uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian menabung.
“Saya tidak hitung berapa jumlahnya, tapi sekitar 15-20 juta per tahun, cukup buat makan dan urusan adat,” katanya.
Kini, pikiran Yohanes selalu terganggu dengan harga pakan yang terus meroket. Ia pun kesulitan mendapatkan pakan berkualitas karena harganya mahal.
Yohanes kemudian tak kehilangan akal untuk mendapatkan pakan. Ia kerap mencampur pakan tersebut dengan bahan baku yang ada di sekitar tempat tinggalnya seperti kelapa dan dedak padi.
“Kalau tidak begitu, kita kuat berapa, satu kilo(gram) pakan harga 15 ribu, mau beli pakan atau beras,” katanya.
Budi daya ikan bandeng juga membawa berkah bagi petani lain, Romanus Munde, 40 tahun. Selain peningkatan ekonomi, menurut Romanus, perawatan ikan bandeng lebih mudah dan cepat mendapatkan uang.
“Karena kita lepas saja, pas ada yang butuh kita tinggal tangkap,” katanya.
Romanus juga senada dengan Yohanes mengeluhkan harga pakan yang tinggi. Para petani pun kesulitan untuk membeli pakan.
“Sehingga kita berharap ke depan pakan ini menjadi perhatian pemerintah,” ujar Romanus.
Untuk biaya pakan selama dua hari, ia terpaksa merogoh kocek sebesar Rp500 ribu per karung.
Romanus juga menyampaikan terima kasih atas perhatian Pemerintah Kabupaten Ngada atas penataan tambak pada tahun 2025. Penataan tambak tentu saja bermanfaat untuk peningkatan pendapatan petani.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Ngada, Dominikus Bobi Isu berkata, pemerintah berkomitmen memberi bantuan kepada petani ikan bandeng yang ada di wilayah utara. Salah satunya, kata dia, melalui program penataan tambak yang sudah dilaksanakan.
“Anggaran ini dari APBD dengan total mencapai 200 juta lebih,” katanya.
Menurut Dominikus, dengan penataan itu, ia berharap produktivitas ikan bandeng meningkat dan memberikan keuntungan bagi petani.
Ia bilang, luas tambak petani sangat bervariasi. Dominikus berharap agar masyarakat ikut menjaga tambak yang sudah dibangun.
“Tahun ini kita juga ada bantuan pakan bandeng untuk petani bandeng,” tutupnya.













