Yakin Terima Uang Pengganti, Penyintas Lewotobi Inisiatif Bangun Rumah Sendiri

Theresia yang berasal dari Desa Klatanlo membangun hunian di Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, lokasi yang awalnya dijadikan pos pengungsian oleh warga Desa Hokeng Jaya dan Klatanlo.

Larantuka, Ekorantt.com – Sejumlah warga penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, membangun hunian tetap (Huntap) mandiri dengan uang pribadi. Mereka sudah menempatinya dan memulai kehidupan di tempat tinggal baru.

Mereka berani mendirikan rumah karena percaya dengan kabar akan ada biaya pengganti senilai Rp60 juta. Keputusan ini dilakukan akibat lambatnya pelaksanaan relokasi yang dilakukan pemerintah.

Theresia Anjela Leba termasuk penyintas yang telah mendirikan hunian tetap secara mandiri. Ia menyampaikan hal itu saat berdialog dengan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto pada Jumat, 17 Juli 2026.

Ia mengaku arahan soal uang pengganti sempat disampaikan langsung oleh pemerintah daerah. “Dari arahan pemerintah daerah, hunian tetap mandiri yang dibangun sendiri akan dikembalikan uangnya sebesar Rp60 juta. Akhirnya, uang yang kami sembunyi selama ini kami sudah gunakan. Uang ini sebetulnya kami simpan buat biaya anak sekolah,” kata Theresia.

Theresia yang berasal dari Desa Klatanlo membangun hunian di Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, lokasi yang awalnya dijadikan pos pengungsian oleh warga Desa Hokeng Jaya dan Klatanlo. Perkiraan biaya pembangunan melebihi nominal Rp60 juta

“Bukannya saya meminta harus dikembalikan sesuai dengan pengeluaran yang kami keluarkan, tetapi soal nilai yang disampaikan (Rp60 juta) itu ditepati,” ujarnya.

Ia memilih opsi tersebut, selain percaya pada penyampaian pemerintah, juga mau menjalani hidup nyaman dan tenang bersama keluarga.

“Jadi kami sangat berharap, karena uang yang selama ini kami simpan sudah terpakai,” tandasnya.

Penyintas lain, Francois Yomans Jefri Patal Ngala (35), membangun rumah berukuran 7×6 meter persegi di Desa Boru Kedang, Kecamatan Wulanggitang. Total biaya yang dikeluarkan termasuk tanah dan upah tukang mencapai lebih dari Rp100 juta.

“Kami sudah tempati hampir dua bulan. Kami memilih di sini karena dekat dengan tempat kerja istri saya, mengajar di SMK Negeri 1 Wulanggitang,” ujarnya.

Menanggapi cerita penyintas, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto berkata relokasi yang dilakukan Theresia sebetulnya tak sesuai dengan prosedur. Menurut aturan, skema bantuan disalurkan dalam bentuk pembangunan fisik rumah, bukan uang tunai.

Suharyanto bilang akan berkoordinasi dengan Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen untuk meninjau kembali kebijakan tersebut mengingat sudah ada warga yang membangun hunian secara mandiri.

Ia meminta Bupati Anton mengeluarkan surat resmi yang menyatakan pembangunan mandiri oleh penyintas, disertai data kerusakan, estimasi biaya, dan dokumen pendukung lainnya. Langkah ini dilakukan demi memperjuangkan penggantian biaya pembangunan Rp60 juta.

“Saya akan kerja sama dengan bupati dan wakil bupati, jadi ditinjau, apakah rumah itu betul-betul dibangun oleh yang bersangkutan. Pengakuan ibu bilang lebih dari Rp60 juta, ya sesuai dengan kita ganti Rp60 juta,” kata Suharyanto.

Suharyanto menegaskan bahwa huntap mandiri maupun terpusat dibangun oleh pemerintah, bukan dengan skema kemauan masyarakat itu sendiri.

“Karena ini sudah terlanjur, pemerintah tidak melupakan. Yang lain diminta agar melapor dulu,” pesannya.

Ia menyatakan BNPB sudah selesai membangun 12 rumah huntap dan kini sudah ditempati. Dalam waktu dekat, pihaknya juga membangun rumah untuk 238 kepala keluarga.

Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA