Soe, Ekorantt.com – Sejumlah warga, organisasi kemanusiaan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan mengikuti Simulasi Aktivasi Tindakan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) dan Respons Tanggap Darurat Banjir Bandang di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada 27–29 Juli 2026.
Selama tiga hari, peserta mempraktikkan seluruh tahapan penanganan bencana, mulai dari pemantauan prakiraan cuaca, penyebaran informasi peringatan dini, pelaksanaan aksi antisipatif sebelum banjir terjadi, hingga respons tanggap darurat berupa evakuasi warga, pencarian dan penyelamatan, layanan kesehatan darurat, distribusi bantuan logistik, pengelolaan pengungsian, serta koordinasi lintas sektor. Simulasi juga memastikan penerapan prinsip Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam setiap tahapan respons.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan CIS Timor Indonesia bersama Penabulu–Oxfam melalui Program Asia Community Transformation (ACT) Phase 2, sebagai upaya memperkuat sistem kesiapsiagaan berbasis masyarakat dan mendorong aksi lebih cepat sejak peringatan dini diterima dalam menghadapi ancaman banjir bandang yang semakin sering terjadi akibat risiko hidrometeorologi.
ACT Phase 2 merupakan program penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana melalui pendekatan berbasis komunitas yang dilaksanakan pada Januari 2024–Desember 2026. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan CIS Timor Indonesia bersama Penabulu–Oxfam untuk memperkuat sistem peringatan dini, aksi merespons peringatan dini, pengurangan risiko bencana, penguatan kapasitas kelembagaan desa, serta koordinasi multipihak agar masyarakat mampu merespons ancaman bencana secara lebih cepat, tepat, inklusif, dan berkelanjutan.
Direktur Yayasan CIS Timor Indonesia, Haris Oematan, mengatakan bahwa kesiapsiagaan hanya dapat dibangun apabila seluruh pihak memahami peran masing-masing dan berlatih secara berkala.
“Kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui dokumen perencanaan. Yang terpenting adalah memastikan masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan memahami perannya masing-masing dan mampu bekerja secara terkoordinasi ketika situasi darurat terjadi. Simulasi ini menjadi ruang belajar bersama untuk menguji sekaligus memperkuat sistem yang telah dibangun.”
Kecamatan Amanuban Selatan dipilih karena menjadi salah satu wilayah yang berulang kali terdampak banjir akibat luapan Sungai Noelmina dan Daerah Aliran Sungai Panite. Selain merusak infrastruktur, banjir juga memutus akses layanan kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, serta mengisolasi permukiman warga.

Direktur Program Penabulu–Oxfam, Rini Devianti Nasution menyebut, simulasi ini merupakan bagian dari pendekatan Locally Led Humanitarian Action, yaitu menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam kesiapsiagaan dan respons bencana.
Pengalaman menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan sejak fase peringatan dini mampu mengurangi risiko, mempercepat respons, dan memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi krisis. Pendekatan ini juga mendorong sistem kemanusiaan yang lebih efektif, berbasis bukti, akuntabel, dan dipimpin oleh aktor lokal.
Kata dia, masyarakat tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima bantuan.
“Kami percaya masyarakat adalah pelaku utama dalam aksi kemanusiaan. Melalui simulasi ini kami ingin memastikan masyarakat memiliki pengetahuan, kepercayaan diri, dan mekanisme yang dibutuhkan untuk bertindak segera ketika peringatan dini diterima. Ketika kapasitas lokal semakin kuat, respons terhadap bencana akan menjadi lebih cepat, lebih tepat, dan lebih bermartabat,” ujarnya.
CIS Timor dan Penabulu–Oxfam berharap berbagai pembelajaran yang diperoleh dapat memperkuat Protokol Aksi Merespons Peringatan Dini, Rencana Kontinjensi Desa, mekanisme koordinasi lintas sektor, serta sistem kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penguatan kapasitas pemerintah daerah dan komunitas dalam membangun sistem kemanusiaan Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan dipimpin oleh aktor lokal.













