UMKM Berbasis Kewirausahaan Hijau: Langkah Kecil dari Pelosok Flores yang Menapaki Pasar Daring

Mereka juga belajar mandiri demi mengasah keterampilan menghasilkan produk UMKM yang layak untuk dijual ke pasar

Larantuka, Ekorantt.com – Perempuan berusia 36 tahun itu dikenal teman-temannya di kampung sebagai penggerak lokal. Namanya Maria Mone Soge, akrab disapa Shindy.

Sembilan tahun lamanya mengajar Matematika pada sekolah menengah pertama di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), lalu pada 2024, Shindy memutuskan meninggalkan profesi guru.

Keputusan itu bukan karena kehilangan kecintaan pada dunia pendidikan. Justru dari proses belajar bersama orang muda di desanya, Shindy menemukan persoalan lain yang menurutnya tidak kalah penting: pangan lokal, lingkungan, dan perubahan iklim.

Pada Desember 2021 bersama sejumlah anak muda, ia terlibat dalam kelompok pemuda peduli perubahan iklim yang kemudian menjadi komunitas bernama Wetan Helero.

Dalam bahasa setempat, wetan dan helero merujuk pada tanaman jewawut dan pangan lokal yang tumbuh di Desa Hewa. Komunitas ini bergerak mendokumentasikan pangan lokal sekaligus melakukan konservasi mata air di desa.

Dari kegiatan memetakan kampung itulah pandangan Shindy terhadap desanya berubah. Ia menemukan begitu banyak pangan lokal dan kearifan yang selama ini tumbuh bersama masyarakat, tetapi perlahan mulai ditinggalkan.

“Pangan lokal kami perlahan hilang. Kami mesti buat sesuatu,” ujarnya saat ditemui Ekora NTT di kediamannya pada pertengahan Agustus lalu.

Pemetaan itu membawa Shindy pada satu kesadaran: ketahanan pangan tidak harus selalu berarti beras. Kondisi Flores yang kering, masih ada berbagai pangan lokal yang mampu tumbuh dan menjadi sumber pangan masyarakat. Ada ubi, pisang, jagung, jewawut, sorgum hingga berbagai jenis padi lokal. Namun, perubahan pola konsumsi membuat sebagian pangan tersebut semakin jarang ditemui.

Belum lagi anggapan bahwa makan ubi, jagung atau pisang identik dengan kemiskinan ikut mengubah kebiasaan masyarakat. Di sisi lain, program cetak sawah yang berlangsung di desanya juga menghadapi persoalan klasik: ketersediaan air.

“Flores iklimnya kering. Tapi ada pangan lokal yang tahan iklim kering. Kenapa tidak itu yang kita manfaatkan.”

Shindy dan teman-temanya menanam kembali pangan lokal. Ubi, pisang, jagung, jewawut, sorgum dan sejumlah jenis padi lokal seperti nalu mitan, nalu gete, nalu mune dan nalu blutuk kembali ditanam di ladang-ladang warga. Nama-nama padi lokal itu merujuk pada jenis beras hitam, beras merah dan beras putih yang telah lama dikenal masyarakat di desanya.

Mereka juga membuat bank benih sederhana. Benih-benih pangan lokal dikumpulkan dan dipajang dalam etalase di rumah. Tetapi ketika benih kembali tersedia dan ladang menghasilkan panenan, muncul pertanyaan baru. Setelah dipanen, mau dikemanakan?

Shindy melihat persoalan itu tidak sesederhana menyimpan benih untuk musim tanam berikutnya. Baginya, pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan. Ia juga berkaitan dengan adat, bahasa dan identitas masyarakat.

“Pangan lokal harus ada karena upacara adat di kampung yang pangannya harus lokal. Itu ada kaitan dengan bahasa. Bisa jadi karena ketiadaan pangan tertentu, kosa kata dalam bahasa daerah ikut hilang”.

Ia khawatir hilangnya pangan lokal perlahan akan diikuti hilangnya bagian dari kebudayaan masyarakat. “Gejalanya pelan saja, tapi pada generasi tertentu hilang”.

Kekhawatiran berikutnya lebih sederhana, menyangkut keberlangsungan usaha. Jika hasil panen bertambah, tetapi hanya disimpan atau kembali dijadikan benih, lalu siapa yang akan membeli hasil panen lainnya?

Dari pertanyaan itulah, keputusan sederhana lahir. Shindy dan teman komunitasnya sepakat mengolah hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi.

 UMKM Berbasis Kewirausahaan Hijau

Shindy bersama anggota komunitas memulai usaha kecil-kecilan. Mereka pertama kali memproduksi keripik pisang dan ubi ungu. Mulanya, dipasarkan ke kios-kios dan kantin sekolah.

Produksinya pun belum banyak. Dalam sekali produksi, paling banyak sekitar 30 bungkus dengan harga berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, tergantung ukuran kemasan.

Setiap anggota komunitas juga ikut memasarkan produk tersebut melalui jaringan pertemanan WhatsApp. Mereka mendapatkan respons yang positif dari situ. Sejumlah orang langsung memesan demi mencicipi olahan pangan lokal tersebut.

Shindy sangat percaya diri dengan konsep kewirausahaan hijau yang diusung oleh Komunitas Wetan Helero dalam mengembangkan usahanya. Kewirausahaan hijau sendiri menggabungkan semangat keberlanjutan lingkungan sembari tetap menjanjikan secara ekonomi.

“Kami di sini bikin produk UMKM sambil buatkan konservasi. Kami juga mendapatkan bahan baku dari yang kami tanam. Kami melestasikan pangan lokal sambil mendatang untung untuk komunitas.”

Betul saja. Shindy dan kawan-kawannya memiliki kebun komunal, lahan di mana ditanam bahan baku untuk produk UMKM. Mereka juga memberdayakan petani-petani desa untuk menyiapkan bahan baku sesuai dengan standar yang ditentukan komunitas.

“Kami bantu edukasi petani di sini supaya bisa hasilkan bahan baku organik sebagaimana yang diwarikan oleh nenek moyang kami di sini,” ujarnya.

Para anggota komunitas secara bergiliran mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah maupun pihak lain. Mereka juga belajar mandiri demi mengasah keterampilan menghasilkan produk UMKM yang layak untuk dijual ke pasar.

Alhasil, usaha komunitas Wetan Helero berkembang. Mereka tidak lagi sekadar menanam dan mendokumentasikan pangan lokal. Hasil kebun diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual. Dalam prosesnya, petani, perempuan, dan warga desa ikut terlibat.

Produk mereka kini tidak lagi hanya keripik pisang dan ubi ungu. Ada beras hitam, beras merah, cake sorgum dan jewawut justru menjadi produk yang banyak dipesan.

Jika sebelumnya produk hanya ditawarkan dari mulut ke mulut dan melalui kios-kios sekitar desa, kini media sosial membantu memperkenalkannya kepada konsumen di luar Flores Timur. Pesanan datang dari Jakarta, Kupang, Labuan Bajo, Larantuka dan Maumere. Bahkan, ada pesanan pernah sampai ke Thailand.

“Kami biasa ikut festival yang dibuat oleh pemerintah kabupaten. Mereka siapkan stan untuk kami bisa jual di sana. Kami juga sudah mulai jual di media sosial,” kata Shindy.

Perjalanan menuju pasar digital kini sedang ditapaki. Tahun 2025 Shindy mengikuti pelatihan pemasaran produk dari Bhakti E-Community Jakarta. Pelatihan ini bagian dari dukungan pemerintah untuk mempercepat pengembangan pelaku usaha melalui digitalisasi.

“Pelatihan ini agar produk kami masuk digitalisasi. Kalau sampai masuk Shopee sih, impian kami,” ujarnya dengan bangga.

Pasar Digital: Pilihan yang Relevan

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Nipa Maumere, Paulus Libu Lamawitak mengemukakan pilihan Shindy dalam aktivitas bisnis tidak hanya mendapatkan keuntungan tetapi ada aspek sosial dan budaya.

Menurutnya langkah mengembangkan pangan lokal untuk produk UMKM adaptif terhadap berbagai kemungkinan pasar yang bisa memengaruhi pola konsumsi. Kerja Shindy dan komunitasnya bukan hanya perjuangan pelaku UMKM tetapi perjuangan untuk mitigasi resiko perubahan iklum.

“Ini perlu dijadikan sebagai contoh bagaimana mengembangkan bisnis dengan perpaduan antara yang tradisional dengan dunia digital, dari aktivitas menanam pangan lokal ke distribusi spirit menjaga alam untuk keberlangsungan hidup. Keberlangsungan ekonomi dan keberlangsungan alam, mendapatkan porsi yang seimbang”.

Menurut Paulus, Shindy dan komunitasnya wajib masuk ke pemasaran dengan media digital karena menjadi sebuah pilihan yang relevan.

Daniel Hurint, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Kabupaten Flores Timur menyebutkan semangat orang muda di Flores sedang bertumbuh cukup baik untuk menghasilkan produk UMKM berdasarkan potensi lokal yang ada di kampung-kampung.

“Selain Shindy kembangkan pangan lokal, ada juga orang muda di sini kembangkan kopi dan ikan”.

Ia menyebutkan pihaknya terus membangun koordinasi dengan para pelaku UMKM untuk terlibat dalam pelatihan-pelatihan.

Keseimbangan Bisnis dan Lingkungan

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman bilang, UMKM telah berkontribusi bagi kelangsungan hidup jutaan keluarga di Indonesia. Namun, kontribusi terhadap lingkungan menjadi hal yang mesti diperhatikan ke depan.

“Fakta ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dan kelangsungan bisnis yang seimbang dengan kelestarian lingkungan, merupakan cerminan tantangan besar yang harus dihadapi para pengusaha UMKM,” ujar Maman dalam keterangan pers sebagaimana yang dilansir umkm.go.id.

Menurutnya, daya saing UMKM terkendala pada literasi lingkungan yang rendah, terbatasnya akses pembiyaan hijau, penggunaan teknologi yang minim, hingga terbatasnya pemahaman prinsip keberlanjutan dalam bisnis. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri di tengah perubahan iklim dengan kemendesakan ekonomi yang mesti berorietasi pada prinsip keberlanjutan.

“Untuk dapat bertransformasi menjadi UMKM Hijau, diperlukan dukungan dari seluruh stakeholder. Misalnya penciptaan teknologi produksi ramah lingkungan yang dapat dijangkau oleh UMKM, pendampingan dalam pemenuhan sertifikasi, instalasi pengolahan limbah bersama, serta insentif keuangan dan ekonomi,” ujar Maman.

Hal inilah yang diharapkan oleh Shindy, sebagap pelaku UMKM yang hidup di wilayah pedesaan. Ia berharap pemerintah membuka ruang yang luas bagi berbagai pelaku UMKM dan komunitas di daerah, untuk bersama memikirkan solusi menghadapi perubahan iklim sesuai kebutuhan lokal.

Dukungan tidak cukup hanya pelatihan. Komunitas dan pelaku usaha di tingkat lokal juga membutuhkan akses pendanaan, peningkatan kapasitas, pendampingan usaha serta akses pasar.

Bagi Shindy, pengalaman di Desa Hewa menunjukkan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang bisa dimulai dari sesuatu yang sudah lama tumbuh di halaman rumah, di ladang, atau tersimpan dalam benih yang hampir dilupakan. Dari sana, masyarakat bisa menanam kembali. Mengolahnya, menjualnya dan membawanya ke pasar yang lebih jauh.

“Kami di desa hidup dari apa yang kami tanam. Kami bisa mengolahnya untuk dirasakan oleh orang yang jauh di sana,” pungkasnya.

TERKINI
BACA JUGA