Mbay, Ekorantt.com – Pada dasarnya, gagasan adalah dasar segala aksi. Gagasan itu pun ada yang direncanakan dengan berbagai cara, tergesa-gesa maupun ditempa hingga matang sebelum semua dieksekusi dengan baik yang akhirnya tidak menjadi sebuah wacana semata.
Hal itu yang dialami secara umum oleh Pondok Baca Mataleza, dan secara khusus oleh dua orang teman saya pada sebuah kesempatan. Gagasan itu muncul sepulang dari perjalanan menuju sebuah tempat yang bernama Munde, ketika kedua teman saya ini sedang menikmati moke, minuman beralkohol khas Flores, NTT.
Di Munde, sebuah tempat yang letak geografisnya jauh dari keramaian, mengapa bisa ada rumah baca?
Saya coba mengingat kembali apa yang pernah diceritakan oleh teman saya ini.
Kita harus mencari orang yang sudah terbiasa dengan buku dan tentunya bisa dengan hal-hal begini. Ya, setidaknya ada bukti begitu kalau yang kita ajak ini sudah diketahui oleh orang lain. Kalau macam kita dua yang duduk minum moke dan nyanyi-nyanyi sampai tengah malam ini, orang mungkin sulit percaya.
Saya masih mencoba mengingat kembali awal-awal perjuangan kami sampai pada titik ini, saat ini.
Kedua teman saya ini menemui saya, menemui orang yang belum tentu tepat. Jujur, saya sendiri tidak melek literasi. Semua juga serba baru bagi saya. Bermodalkan nekat, dan beberapa koleksi buku saat kuliah dulu dan, saya menerima ajakan mereka.
Dari titik ini, Pondok baca Mataleza kami bangun. Tepat di tanggal 11 Maret 2020, Pondok Baca Mataleza kami dirikan; pondok yang kelak akan menjadi tempat bermain yang edukatif. Meski masih menggunakan ruang tamu rumah orang tua, kami tidak pernah menyurutkan niat. Pertama-tama, kami kerjakan rak dinding. Ruang tamu yang awalnya hanya susunan batu merah, kini dipenuhi rak-rak buku.
Wale pay, kami tidak enak dengan orang rumah ni. Takut bapa mama mereka marah la?
Ya, saya tidak mau pay berdua dengar jawaban dari saya. Saya mau pay berdua tanya langsung di bapa dan mama dan dengar sendiri jawabannya.
Bapa mama, mae no kami pakai ruang tamu untuk tau rak buku nge? (Bapak dan mama, jangan marah, kami gunakan ruang tamu untuk kami jadikan rak buku).
Ema, ngaza miu tau ta molo, ke mona apa-apa, kema bholo. (Kalau kamu buat untuk kebaikan, itu tidak apa-apa, silakan gunakan)
Ada rasa lega ketika mendengar jawaban demikian.
Ke pelosok mana lagi kita akan melangkah?
Rencana-rencana kecil disusun. Beberapa waktu setelah pondok baca ini berdiri, kabar baiknya, ada respon positif dari teman-teman lain. Satu dua teman perempuan mulai bergabung, berbagi dan menukar ide.
Hingga pada Maret 2020, semua aktivitas di sekolah dan tempat-tempat keramaian lainnya, sesuai imbauan pemerintah, mulai dibatasi. Kami menganggap hal ini sebagai pemantik untuk menunjukkan kreativitas.
Karena tidak bisa mengumpulkan banyak orang pada sebuah tempat, kami mulai membenahi Pondok Baca Mataleza, mulai dari bangku, meja, dan rak buku; mengecat tembok dan lebih banyak duduk-rembuk mendiskusikan rencana selama masa pandemi ini. Kami membaca situasi ini sebagai saat terbaik membentuk dan menggali kreativitas.
Kami ada dan hadir sebagai sebuah bentuk kecintaan kami terhadap hal-hal kecil yang mungkin akan terus disepelekan. Sebab, kemajuan teknologi bisa jadi melemahkan kreativitas manusia dalam mengeksplorasi kemampuan untuk sebuah kebaikan bersama.
Sebagai wadah yang menyiapkan dan mendedikasikan diri ke dalam dunia literasi, terkhusus baca dan tulis, kami membuka ruang kepada anak-anak dan masyarakat pada umumnya untuk boleh dan tetap mengenal baca-tulis selama di rumah.
Kami membebaskan anak-anak dari ruang kelas formal dengan aturan yang mengekang kebebasan kreativitas anak-anak, kepada ruang bermain yang edukatif dan membangun jiwa kreativitas, serta kecintaan terhadap membaca dan menulis.
Mengingat tradisi di kampung kami, Pogopeo-Olakile-Boawae-Nagekeo-NTT yang adalah petani, maka kami berusaha untuk menyediakan ruang bagi anak-anak untuk bisa belajar bersama dan dibimbing agar tidak dibiarkan begitu saja setelah kembalinya dari sekolah.
Dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan, kami memberi ruang sebebas-bebasnya kepada anak-anak untuk tetap belajar dan berbagi bersama dalam nuansa kekeluargaan.
Kemana mimpi anak-anak Ini akan bertebaran?
Pernah sekali waktu, ketika teman-teman pendamping yang lain belum mampir ke Pondok Baca Mataleza, anak-anak datang dan mendekati saya lalu bertanya, Ka Fian, tidak ada buku-buku bacaan yang baru lagi ko? Soalnya setiap kali kami datang ke sini, bukunya sama semua.
Saya terdiam. Meski belum tentu paham isi buku yang mereka baca, betapa anak-anak ini sangat mempunyai kerinduan untuk melihat dan membaca banyak buku. Pertanyaan anak-anak itu, saya sampaikan kepada teman-teman, dan kami hanya berusaha untuk melakukan kombinasi dalam proses belajar bersama anak-anak, antara bermain, membaca dan menulis.
Anak-anak yang ada di pondok baca ini rentang usianya antara SD hingga SMP. Tentu, anak-anak lebih memilih belajar sambil bermain dan buku-buku pendukungnya adalah buku-buku anak.
Kami bercita-cita agar bisa menyediakan ensiklopedia anak agar pengetahuan anak-anak lebih luas lagi. Keterbatasan akses di masa Pandemi ini, tentu sedikit membatasi semua keinginan ini.
Kunjungan Bupati Nagekeo
Tanggal 4 Agustus 2020 adalah tanggal di mana Pondok Baca Mataleza dikunjungi oleh Bupati Nagekeo, Bapak dr. Don. Kunjungan dadakan ini menandakan bahwa beliau sangat peduli dengan keberadaan Pondok baca Mataleza.
Kamu sudah mulai, ingat jaga bara api itu. Beberapa rumah baca yang ada di kabupaten ini, kini tidak ada kegiatan yang dilakukan, itu karena mereka sudah terlebih dahulu menyiapkan alang-alang dan bensin, habis dibakar, tinggal debu hitam.
Pesan itu, tentu memberi kekuatan yang sekaligus tantangan bagi kami. Apakah mampu bertahan di tengah situasi yang serba tidak menentu ini?
Doa dan dukungan dari semua pihak adalah jawaban atas pertanyaan di atas. Lantas kami berharap, api semangat yang telah dinyalakan terus memberikan kehangatan kepada siapa saja seperti nama kami, Mataleza yang berarti matahari.
Kontributor: Fian N












