Ruteng, Ekorantt.com – Angka kehamilan remaja usia 15-19 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 20,4 persen per tahun.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTT, Marianus Mau Kuru, menyampaikan hal itu saat menghadiri kegiatan Konsolidasi dengan Pemangku Kebijakan Tingkat Daerah tentang PRO PN Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) yang berlangsung di Aula Asumpta Ruteng, Senin, 10 Oktober 2022.
“Di setiap tahun itu, ada potensi anak remaja putri itu bisa hamil 20,4 per 1000. Itu artinya setiap 1000 anak perempuan yang berusia 15 sampai 19 tahun itu terdapat 20 orang yang hamil,” sebutnya.
Salah satu penyebabnya, menurut Mau Kuru, ketidakpahaman remaja tentang risiko kehamilan usia remaja. Karena itu, para remaja mesti diberikan pemahaman secara berkelanjutan.
Persiapan untuk hidup berkeluarga bagi remaja, ujar dia, kini dijadikan sebagai program prioritas nasional, karena negara memandang bahwa demi meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) ke depan, hulunya ada pada remaja.
“Remaja sebagai generasi penerus bangsa yang harus kita bina, tetapi juga remaja harus dipersiapkan, sehingga dia sehat. Baik jasmani, maupun secara produksi untuk melanjutkan keturunan yang berkualitas,” terangnya.
Dengan terus memberikan pemahaman kepada para remaja di hulu, maka ke depan kita menghasilkan generasi yang berkualitas.
“Kita sedang menetapkan supaya tahun 2045 harus mencapai Indonesia emas berarti kita harus menyiapkan generasi emas,” katanya.
Ada tiga masalah yang mesti dihindari para remaja, kata Mau Kuru. Yakni seks bebas di luar nikah, pernikahan dini, dan napza narkoba.
Seks pranikah, menurutnya, diawali hubungan pacaran. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang berpacaran, 300 persen berpotensi untuk melakukan seks pranikah dibandingkan dengan orang yang tidak berpacaran.
“Pacaran itu betul. Ketika pertama bertemu itu baik-baik saja. Tapi kalau bertemu secara terus menerus,” ujarnya.
Ia berharap, kalau bisa anak-anak tidak harus berpacaran. Belajar kelompok saja. Sebab konotasi pacaran adalah dua insan manusia yang saling memiliki.
“Akhirnya tidak boleh orang ganggu, merasa bisa berbuat apa saja. Itu kita harus jaga,” tegasnya.
“Sehingga misalnya remaja hamil dan melahirkan, dampaknya akan melahirkan stunting baru. Karena ketika hamil, asupan gizi kurang, apalagi dengan orang yang tidak ada pekerjaan,” tambahnya.
Senada, Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit menggarisbawahi bahwa stunting terjadi karena kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.
Sehingga, kata dia, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.
“Kita punya pertumbuhan tidak bagus mulai dari fisik, tinggi, berat badan, dan lingkar kepala. Itu hanya tanda-tanda saja,” katanya.
“Yang paling buruk dari stunting adalah kita punya otak tidak bisa berkembang karena kurang gizi,” sambungnya.
Menurutnya, stunting terjadi karena asupan gizi yang tidak memadai sejak usia dini. Untuk mencegahnya, dibutuhkan makan yang bergizi seperti buah-buahan dan sayur lokal sejak dalam kandungan.
“Diperlukan juga asupan gizi bagi remaja perempuan, sehingga ketika dia mengandung ketika menginjak dewasa, tidak kekurangan gizi,” tutupnya.
Kolaborasi
Plt Kepala Dinas DP2KB Kabupaten Manggarai, Yustina Jut mengemukakan bahwa untuk memberikan pemahaman bagi para remaja dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Kita butuh kerja sama dan bergandengan tangan dengan stakeholder lain. Karena semakin banyak orang yang memberikan pemahaman, maka akan semakin lebih baik,” jelasnya.
Yustina mengemukakan bahwa pernikahan itu minimal usia wanita adalah 21 tahun. Sebab dengan usia itu, remaja telah siapkan mental dan fisik.
“Lalu dampak dari pernikahan dini ini adalah sangat besar. Karena itu, kita melakukan peningkatan sosialisasi untuk pemahaman tentang persiapan pernikahan dini,” terangnya.
Yustina meminta para remaja yang hadir dalam kegiatan ini menjadi corong bagi remaja lain, sehingga mendapatkan pemahaman yang sama.
“Pada prinsipnya dari remaja itu sendiri juga harus bergerak agar dia menghindar dari hal itu,” pungkasnya.













