Kupang, Ekorantt.com – Perayaan Festival dan Pawai Paskah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) tahun 2026 akan berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Panitia menyiapkan tiga prosesi utama yang sarat pesan iman dan perdamaian, salah satunya prosesi Obor Perdamaian yang akan dibawa dari Kabupaten Belu hingga berakhir di Pulau Rote.
Ketua Panitia Festival Paskah 2026, Simson Polin mengatakan, rangkaian kegiatan tahun ini dirancang bukan sekadar perayaan iman umat Kristen, tetapi juga menjadi momentum untuk menyampaikan pesan perdamaian dari Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada dunia.
“Tahun ini ada tiga prosesi penting yang akan dilaksanakan yaitu prosesi damai, prosesi Paskah Gloria, dan pawai Paskah,” kata Simson kepada wartawan di Kupang pada Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, prosesi damai diawali dengan pengambilan Obor Perdamaian dari Atambua, Kabupaten Belu. Obor tersebut kemudian akan dibawa melintasi sejumlah wilayah di Pulau Timor sebelum akhirnya tiba di Kota Kupang.
Dalam perjalanan menuju Kota Kupang, obor perdamaian akan melewati beberapa kabupaten di Pulau Timor hingga tiba di Kota Kupang. Pada 6 April 2026, obor tersebut akan diarak dalam Pawai Paskah yang dimulai dari Bundaran PU di Kota Kupang hingga titik akhir yang sudah ditentukan panitia.
Selain prosesi damai, panitia juga menyiapkan prosesi Paskah Gloria yang terinspirasi dari kisah Alkitab ketika Yesus memanggil murid-murid pertama di tepi pantai.
Konsep tersebut akan diwujudkan melalui prosesi perahu nelayan yang berangkat dari sejumlah wilayah pesisir seperti Lasiana, Sulamu, dan Semau. Perahu-perahu tersebut akan berlayar menuju Pantai Tedis, Kota Kupang.
“Konsepnya agar masyarakat melihat kembali peristiwa ketika Tuhan memanggil murid-murid pertama di pantai. Semua perahu akan berkumpul dan menuju Pantai Tedis,” jelas Simson.
Di Pantai Tedis, Ketua Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie bersama para pengurus akan turun dari kapal dan bergabung dengan masyarakat dalam ibadah serta perjamuan Paskah sederhana berupa makan ikan dan roti bersama.
Kegiatan tersebut juga akan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mendukung perputaran ekonomi masyarakat. Hingga saat ini, panitia mencatat hampir 200 pelaku UMKM telah mendaftar untuk berpartisipasi dalam festival tersebut.
“Bukan hanya perayaan Paskah, tetapi kita ingin masyarakat kecil juga merasakan perputaran ekonomi melalui kegiatan UMKM,” ujarnya.
Simson menambahkan, rangkaian Festival Paskah GMIT 2026 akan melibatkan sekitar 35 hingga 40 klasis dari total sekitar 50 klasis yang ada di GMIT. Sejumlah klasis dari berbagai wilayah, termasuk dari Alor, juga telah menyatakan kesiapan untuk terlibat.
Rangkaian kegiatan festival dijadwalkan dimulai pada 28 Maret 2026 dan akan berakhir di Pulau Rote pada 10 April 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Rote Ndao.
Di Rote, Obor Perdamaian akan disimpan sebagai simbol dan situs sejarah gereja mula-mula di wilayah tersebut. Ke depan, obor tersebut direncanakan akan dibawa secara bergilir ke berbagai pulau di NTT seperti Sabu, Alor, Sumba, dan Flores sebagai pesan perdamaian dari daerah ini.
“Pesannya sangat kuat, bahwa dari NTT kita menyampaikan pesan damai kepada dunia. Di tengah berbagai konflik yang terjadi, kita ingin menunjukkan bahwa masyarakat bisa hidup dalam damai,” pungkasnya.












