Larantuka, Ekorantt.com – Hawa sejuk dengan riak kicauan burung menyambut pengunjung di pintu masuk wisata Air Terjun Keton Toa di Desa Blepanawa, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT, Selasa, 24 Maret 2026 siang.
Deru air yang mengalir deras ke bantaran kali terdengar samar-samar. Sebelum melangkahkan kaki ke Keton Toa, pengunjung wajib diberi arahan. Pesan untuk menjaga kelestarian alam kali ini disampaikan langsung oleh Ketua Karang Taruna Nelo Lewo, Marianus Lein (28).
Marianus bersama puluhan anggota karang taruna bersikap ramah kepada pengunjung. Mereka bertugas menjaga dan merawat kawasan wisata yang di dalamnya terdapat mata air.
Sumber air yang dilengkapi jaringan pipa-pipa besar itu dikelola Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Ina Gelekat Larantuka. Dahaga ribuan jiwa di pusat kota terpenuhi berkat mata air di Desa Blepanawa.
“Tolong jaga keasrian lingkungan, sumber mata air di sini juga untuk kehidupan seluruh warga di Larantuka, mohon kerja samanya,” pesan Marianus.
Tidak ada pungutan yang wajib dibayar pengunjung saat berwisata ke sana. Dari tempat parkir hingga toilet, biayanya hanya seikhlas hati pengunjung. Hal paling utama adalah tetap berperilaku bijak terhadap kelestarian alam.
“Kalau mau kasih juga nanti simpan saja di kotak sukarela, nominalnya seikhlasnya saja,” katanya. Kotak berbahan kardus tersebut diletakkan di pintu masuk wisata.
Di pos itu disediakan makanan ringan seperti mi instan dan minuman hangat. Karang taruna juga menyediakan lilin dengan harga yang terjangkau.
Belasan pengunjung kemudian dipandu dua anggota Karang Taruna Nelo Lewo menjajal jalanan tanah sejauh 500 meter. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Kondisi jalan berlumpur, licin, dan berbatu. Harus ekstra hati-hati.

Yopi Lein (26), pemandu di posisi paling depan, mengawali perjalanan ke Gua Maria. Pengunjung menyalahkan lilin lalu berdoa di antara patung Bunda Maria dan Yesus. Suhu dingin terasa lebih menusuk.
Di sana terdapat pipa-pipa besar yang ditarik langsung dari mata air Leto Matan. Pengunjung tak dibolehkan masuk ke kawasan mata air. Sementara lokasi air terjun tersisa 250 meter, namun dengan medan yang lebih ekstrem.
Keasrian hutannya yang lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi membuat pengunjung terpukau. Medan ekstrem tak membuat napas pengunjung ngos-ngosan.

“Udaranya segar sekali. Sedikit lagi kita sudah sampai,” celetuk salah seorang pengunjung, Suzana Epivania Wanda (28). Ia berhenti sejenak saat melihat badan air yang jatuh dari ketinggian.
Pengunjung bergegas mengambil gambar ke arah tebing. Suara gemuruh air yang jatuh dari atas ketinggian sekitar 75 meter terdengar menakjubkan.
Celah-celah bebatuan membentuk kolam kecil dijadikan tempat pemandian. Airnya sangat sejuk dibalut hutan rimbun. Pengunjung bergembira menikmati air terjun yang kini viral di media sosial itu.
Suzana Wanda menuturkan, tempat ini jadi rekomendasi bagi wisatawan luar yang ingin menikmati pemandangan alam air terjun. Selain di Keton Toa, air terjun eksotis juga bisa dijumpai di Desa Boru Kedang, Kecamatan Wulanggitang.
Air Terjun Keton Toa semakin sering dikunjungi. Lebih banyak saat libur lebaran. Akses ke tempat wisata ini sangat mudah dengan alat transportasi yang lancar.
“Tempat ini semakin viral di media sosial, banyak orang suka kesini,” ujar Suzana.

Jarak Air Terjun Keton Toa dengan Kota Larantuka sekitar 20 kilometer. Sementara dari Desa Boru, perbatasan Flores Timur dan Sikka sekitar 38 kilometer. Jalannya beraspal hotmix.
Dari pertigaan Blepanawa yang berada di pinggir Jalan Trans Larantuka-Maumere, pengunjung hanya lanjut 1 kilometer ke pos jaga pertama. Tersedia tempat parkir untuk sepeda motor dan mobil. Kendaraan dijaga pemuda karang taruna.
Pengunjung mengapresiasi Karang Taruna Nelo Lewo yang berkomitmen merawat mata air dan air terjun. Pengunjung tetap tertib selama berada di sana. Sampah tidak dibuang ke sembarang tempat. Mereka tak melontarkan kata-kata umpatan yang dilarang keras oleh pihak karang taruna.
Penulis: Paul Kabelen












