Maumere, Ekorantt.com – Siswa-siswi SMP Susila Koting di Desa Koting B, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengolah limbah kakao menjadi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomi.
Limbah yang sebelumnya dibuang dan membusuk itu kini disulap menjadi perahu mini, miniatur pohon kakao, sandal jepit, tempat tisu, bunga, asbak rokok, hingga hiasan dinding.
Selama ini, kulit buah kakao dan sisa daun kakao di Desa Koting hanya dibuang begitu saja hingga menimbulkan bau tak sedap di sekitar perkebunan. Limbah tersebut dianggap tidak memiliki nilai guna.
Andreas, salah satu siswa SMP Susila Koting berkata, ide memanfaatkan limbah kakao muncul setelah mereka melihat banyak sisa kulit buah dan daun kakao yang terbuang di lingkungan sekitar.
“Batang, tali dan rantingnya juga. Kami coba jemur ternyata kalau kering teksturnya bagus,” kata Andreas saat mengikuti pameran dalam acara Hari Lapang Petani di Lapangan Golden Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Selasa, 5 Mei 2026.
Kepala SMP Susila Koting, Damianus berkata, inisiatif siswa mengubah limbah kakao menjadi kerajinan tangan merupakan upaya menumbuhkan kreativitas sekaligus kepedulian lingkungan sejak dini.
Menurut dia, sekolah bangga karena para siswa mampu menunjukkan bahwa limbah kakao dapat diolah menjadi karya seni yang bernilai.
Ia menyebut kreativitas tersebut tidak terlepas dari dukungan guru pendamping di sekolah.
“Mereka berinovasi dan mengembangkan bakat minatnya melalui seni merangkai, serta membuktikan bahwa limbah tersebut mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi,” ujar Damianus.
Damianus mengatakan, inovasi siswa itu mendorong sekolah menjadikannya sebagai salah satu program unggulan.
Melalui program tersebut, kata dia, siswa diarahkan untuk mengolah limbah kakao dan barang bekas menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Ia menilai pengembangan kegiatan ekstrakurikuler perlu didukung dengan peningkatan kapasitas pendamping maupun peserta didik. Selain itu, sekolah juga membutuhkan dukungan anggaran untuk pengadaan peralatan kerajinan.
“Selain itu, diperlukan intervensi dana untuk pengadaan peralatan kerajinan limbah kakao demi mengembangkan minat dan bakat siswa,” ujar Damianus.
Menurut Damianus, kegiatan tersebut juga menjadi sarana promosi kepada masyarakat bahwa limbah kakao memiliki potensi ekonomi bagi keluarga, tidak hanya buah kakaonya saja.
Ia berharap inovasi para siswa terus dilanjutkan agar kreativitas anak-anak dapat berkembang dan diwujudkan dalam berbagai karya yang bernilai jual.













