Disperindag Ngada Rencana Mobilisasi ASN Belanja di Pasar Bobou

“Mau bagaimana, kondisi Pasar Bobou seperti kuburan begini. Intinya dapat modal dan putar lagi,” ujarnya.

Bajawa, Ekorantt.com – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada, Johanes Rodja, mengatakan pemerintah terus berupaya mengarahkan pembeli untuk belanja di Pasar Bobou. Salah satunya ialah menyiapkan bus milik pemda bagi aparatur sipil negara (ASN) yang ingin belanja di pasar tersebut.

Langkah ini diambil pemerintah setempat menyikapi keluhan para pedagang karena sepi pembeli.

“Kita juga ada kerja bakti bersama para ASN di bawah (Bobou) setiap hari Jumat sambil belanja,” kata Johanes di Bajawa, Senin, 18 Mei 2026.

Ia mengatakan sepinya pembeli di Pasar Bobou bukan karena keberadaan pedagang dalam kota, melainkan sejumlah pedagang sudah menggunakan kendaraan berjualan hingga ke pelosok desa.

“Tapi pada dasarnya pasar resmi milik pemerintah hanya di Pasar Bobou,” kata dia.

Kepala Satpol PP Ngada, Johanes Andreas Bake Meo menambahkan pihaknya terus berupaya menertibkan dengan mengikuti pola pedagang.

“Kita terus melakukan pendekatan kepada pedagang untuk pindah ke Pasar Bobou,” kata Johanes.

Johanes mengaku ada persoalan yang kompleks bagi pedagang dalam kota yang membutuhkan dukungan dan peran seluruh pihak.

“Seperti di belakang Carmel, itu kita butuh koordinasi dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum. Karena yang mereka jual itu di atas bahu jalan dan status jalan negara,” ujar dia.

Pasar Seperti Kuburan

Iva Wonga duduk dengan tatapan kosong di atas lapaknya di Pasar Bobou, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada pada Sabtu. Di hadapannya, tertata barang jualan seperti cabai, wortel, kentang, dan aneka sayuran.

Setiap hari, Iva biasa berjualan dari pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita, sejak pertama kali berdagang di Pasar Bobou di tahun 2016.

“Dulu kami di Pasar Inpres, tapi karena kebijakan pemerintah daerah terkait pemindahan pasar ke sini, akhirnya kami pindah ke sini,” ujarnya.

Dalam sehari, Iva hanya meraup pendapatan Rp60 ribu hingga Rp100 ribu. Pendapatan itu digunakan untuk membeli bahan jualan dari petani.

Ia menyadari, sejak berada di Pasar Bobou pada 2016 silam, hanya setahun saja merasakan lapaknya ramai dikunjungi pembeli. Setelah itu pendapatan kian merosot hingga sekarang.

“Dulu awal-awal lumayan pak, zaman bupati Pak Marianus Sae, saat itu kendaraan kota masuk sampai di sini dan tidak ada pedagang di dalam Kota Bajawa,” ujarnya.

Sepinya pembeli membuat Iva lesu. Barang dagangan yang tidak laku terjual dibuang begitu saja. Tak heran ia terus merugi.

“Mau bagaimana, kondisi Pasar Bobou seperti kuburan begini. Intinya dapat modal dan putar lagi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pedagang lain Fina Ewa (50) yang mengaku memilih tetap bertahan meskipun sepi pembeli. Ia menaati arahan pemerintah walaupun rugi yang ia dapatkan.

“Pemerintah tidak ada ketegasan urus pedagang dalam kota, pagi tertibkan, sore dibiarkan, wajar kalau di sini sepi,” ujarnya.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan, ia mengusulkan pemerintah untuk merelokasi seluruh pedagang ada dalam kota ke Pasar Bobou.

TERKINI
BACA JUGA