Labuan Bajo, Ekorantt.com – Program Positif Bajo bersama PTTEP Indonesia dan PT. INGRAM menghadirkan Youth Workshop Campaign bertajuk “From Waste to Action” pada 21 – 22 Mei 2026 di Kampus Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Kegiatan yang dihadiri oleh 200 peserta tersebut menjadi ruang kolaborasi, pembelajaran, dan aksi bagi generasi muda Manggarai Barat untuk menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo.
Workshop ini juga menjadi bagian dari penguatan Program Positif Bajo yang telah berjalan sejak 2024 melalui pendekatan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Direktur Politeknik eLBajo Commodus, Prof. I Nengah Dasi Astawa, saat membuka kegiatan menyebut, lembaganya fokus terhadap pelestarian lingkungan, khususnya terhadap penanganan sampah.
“eLBajo ini tiap hari kerja bakti. Kampus ini suatu Lembaga yang tiap hari kerjanya juga urus sampah. Sampah kita bersihkan terus. Lembaga ini kecil barangnya, tapi besar ide dan kemajuannya,” kata Astawa.
Politeknik eLBajo Commodus juga melakukan kerja sama lewat penandatanganan Memmorandum of Understanding (MoU) bersama Direktur PT INGRAM, Fey Febri sebagai upaya penanganan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Labuan Bajo.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (Kadis LHP) Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande menyebutkan, timbunan sampah di Kabupaten Manggarai Barat mencapai 157,31 ton perhari. Sampah yang dirproduksi individu mencapai 0,5 kg per hari.
“Kondisi ini membuat Kabupaten Manggarai Barat masuk kategori daerah sedang,” kata Vinsensius.
Vinsensius mengklaim, sampah yang mampu dikelola rata-rata 84,21 ton per hari atau 57,16 persen, sementara yang lainnya dibuang ke lingkungan, yakni sebesar 62,27 ton atau 42,84 persen. Kata dia, penanganan sampah di Kabupaten Manggarai Barat tidak sedang baik-baik saja, walaupun hal itu telah menjadi indikator utama pembangunan yang ditetapkan pemerintah.
“Salah satu pihak yang berperan dalam upaya penanganan pengurangan sampah adalah PT INGRAM,” sebutnya
Direktur PT INGRAM, Fey Febri saat Youth Talk: From Waste To Action Positif Bajo (B+) mendorong para mahasiswa dan pelajar di Manggarai Barat untuk memilah dan mengolah sampah secara inovatif, mengingat banyak daerah wisata ditinggalkan wisatawan karena persoalan sampah.
Febry menyebut, masalah sampah masih sulit penyelesaiannya karena kurangnya kesadaran dalam mengelola. Mestinya sampah bisa dikelola. Jika tidak, sampah bisa menimbulkan risiko masa depan dalam aspek ekonomi, kesehatan, dan menjadi warisan buruk bagi keberlanjutan.
PTTEP Indonesia dan PT INGRAM, kata Fey Febri, menghadirkan solusi penanganan sampah melalui program Positif Bajo. Program ini dilakukan dengan tujuan edukasi bahwa setiap sampah yang dihasilkan adalah tanggung jawab yang bersangkutan.
“Jadi sampah yang kita hasilkan haruslah menjadi tanggung jawang kita. Ingat bahwa sampahku tanggungjawanku. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kita. Saya ajak teman-teman muda di Labuan Bajo untuk wujudkan ide kreatif menjaga lingkungan,” ajak Fey Febri.
Program Positif Bajo percaya bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan penggerak kampanye publik. Dengan kreativitas, semangat kolaborasi, dan kepedulian sosial yang dimiliki, anak muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan perilaku lingkungan di Labuan Bajo dan Manggarai Barat.
Sementara itu, Direktur Destinasi Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLF), Konstant Mardinandus dalam pemaparannya dengan topik, “Labuan Bajo Berkelanjutan, Tantangan Sampah dan Peran Strategis Pemuda” mengklaim pihaknya merupakan Lembaga dibawah Kementerian Pariwisata dengan tujuan menciptakan Labuan Bajo menjadi destinasi pariwisata kelas dunia dan sustainable/berkelanjutan.
Menurut dia, berbicara tentang sampah tidak bisa bicara personal, tapi butuh kolaborasi dan kolaboraksi. Labuan Bajo sejak tahun 1999 sampai hari ini, tidak ada gerakan besar untuk penanganan sampah dari hulu.
“Karena itu, butuh kesadaran kita semua, terutama generasi muda,” katanya.
Peran generasi muda penting sebagai agen perubahan, sebagai inovator dan creative leader, juga mitra strategis. Hal ini penting guna menjadikan Labuan Bajo Lestari.
“Kita harus terus mengampanyekan kesadaran mengelola sampah dari anak-anak. Sampah harus dipilih dan dipilah mulai dari rumah tangga,” pesannya. (Adv)













