Ruteng, Ekorantt.com – Akademisi, Marselus Ruben Payong menegaskan, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Kampus mesti menghadirkan pengalaman belajar yang autentik, kontekstual, dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Marselus mengemukakan itu saat kegiatan Lokakarya Integrasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Pembelajaran yang diselenggarakan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Dalam pemaparannya yang bertajuk ‘Integrasi Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Pembelajaran’, Marselus menegaskan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembelajaran harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling terhubung dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ia menjelaskan, integrasi penelitian dan pengabdian ke dalam pembelajaran, memiliki manfaat yang strategis bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
“Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses pencarian, pengolahan, dan penerapan pengetahuan,” kata dia.
Marselus mengemukakan, integrasi tersebut mampu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar melalui pengalaman yang nyata dan bermakna.
“Integrasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat meningkatkan student engagement melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam pengalaman belajar yang autentik,” jelasnya.
Selain itu, pendekatan tersebut juga berkontribusi terhadap penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills, seperti kemampuan menganalisis, mengevaluasi, menyintesis informasi, hingga menghasilkan solusi yang inovatif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Marselus menegaskan, integrasi Tri Dharma bukan sekadar pilihan pedagogis, melainkan amanat berbagai regulasi dan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia.
Ia mengutip Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi harus didasarkan pada integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) yang menekankan keterkaitan antara capaian pembelajaran, penelitian, dan pengabdian sebagai bagian dari penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Selain itu, kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Berdampak (MBKB) juga mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
“Pembelajaran harus mampu menghubungkan proses akademik di kelas dengan dinamika pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat,” tegasnya.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan Marselus adalah perlunya mengubah paradigma pembelajaran dari yang bersifat reproduktif menjadi produktif.
Menurutnya, mahasiswa harus ditempatkan sebagai subjek yang aktif membangun pengetahuan, bukan sekadar menerima informasi dari dosen.
Melalui pendekatan research-based learning atau pembelajaran berbasis riset, mahasiswa didorong untuk terlibat langsung dalam proses ilmiah mulai dari merumuskan masalah, menyusun pertanyaan penelitian, mengumpulkan data, menganalisis temuan, hingga menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh.
“Mahasiswa tidak hanya mempelajari hasil penelitian sebagai konten pengetahuan, tetapi juga terlibat aktif dalam proses ilmiah itu sendiri,” ujarnya.
Pendekatan tersebut, lanjut Marselus, akan membantu mahasiswa mengembangkan pola pikir ilmiah, sikap kritis, serta kemampuan untuk menguji kebenaran suatu informasi secara sistematis.
Selain penelitian, Marselus juga menekankan pentingnya mengintegrasikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ke dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, masyarakat harus dipandang sebagai laboratorium sosial yang menyediakan ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan kehidupan.
Melalui pendekatan service learning atau pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa dapat belajar secara langsung dengan mengidentifikasi masalah, memahami konteks sosial, serta berkontribusi dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat bukanlah kegiatan tambahan di luar pembelajaran, melainkan bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri,” tegasnya.
Dengan cara tersebut, teori yang dipelajari di ruang kuliah dapat diuji, dikembangkan, dan disesuaikan dengan realitas yang dihadapi masyarakat.
Dalam sesi lokakarya, Marselus juga menguraikan berbagai strategi implementasi integrasi Tri Dharma dalam pembelajaran.
Salah satu aspek penting yang perlu dilakukan adalah penyelarasan capaian pembelajaran lulusan (CPL) dengan kompetensi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menekankan bahwa kompetensi lulusan tidak boleh hanya berfokus pada aspek pengetahuan, tetapi juga harus mencakup kemampuan berpikir kritis, keterampilan penelitian, kepekaan sosial, dan tanggung jawab profesional.
Karena itu, dosen didorong untuk merancang Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang mampu menghubungkan materi kuliah dengan aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
“RPS harus mencerminkan keterkaitan antara materi pembelajaran, metode, aktivitas mahasiswa, dan asesmen yang berbasis penelitian serta pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, asesmen pembelajaran juga perlu mengalami transformasi. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil ujian tertulis, tetapi juga mencakup proses, produk, dan dampak dari aktivitas penelitian maupun pengabdian yang dilakukan mahasiswa.
Melalui integrasi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembelajaran, Marselus meyakini perguruan tinggi dapat membangun budaya akademik yang lebih produktif, kolaboratif, dan berdampak.
Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan mutu lulusan, tetapi juga mendukung pencapaian berbagai Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi serta memperkuat kontribusi kampus dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Di hadapan para dosen peserta lokakarya, Marselus mengajak seluruh sivitas akademika Unika Santu Paulus Ruteng untuk menjadikan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, peka terhadap persoalan sosial, dan siap menghadirkan solusi bagi masyarakat.













