Marius Hidup dari Tuak Bakok: Menjaga Tradisi, Membiayai Pendidikan Anak

Proses mengambil arak atau tuak bakok ala Marius merupakan tradisi turun temurun yang tentu saja membutuhkan teknik khusus.

Borong, Ekorantt.com – Jam 6 setiap paginya, Hilarus Marus, 59 tahun, harus sudah keluar dari rumahnya. Dengan pakaian lusuh sembari menggantung beberapa jeriken di dua sisi bahunya, ia bergegas menuju beberapa lokasi yang tumbuh beragam pohon enau.

Jaraknya lumayan jauh dari rumah warga Kampung Lompong, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Lima tahun lalu, berawal dari coba-coba, pria yang karib disapa Marius itu mulai belajar serius menjadi petani arak. Di wilayahnya, arak kerap disebut ‘tuak bakok’.

“Jam 6 pagi saya sudah harus keluar rumah, kemudian siangnya saya isi dengan pekerjaan lain sebagai petani, dan sore jam setengah tujuh sore saya baru sampai rumah,” kata Marius ditemui, Jumat malam, 20 Mei 2026.

Proses mengambil arak atau tuak bakok ala Marius merupakan tradisi turun temurun yang tentu saja membutuhkan teknik khusus. Ia bilang, petani harus dengan sabar mempersiapkan pohon enau, pemotongan tangkai, serta penampungan dengan wadah.

“Yang paling sulit saat proses merakit tenda dan mengeluarkan ijuk dari pohon enau,” kata Marius.

Meski sulit, pria kelahiran 1967 itu tetap ulet. Sebab, hasil kerja kerasnya biasa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, termasuk biaya pendidikan anaknya.

Hilarus Marus, 59 tahun (Foto: Ardy Abba/ Ekora NTT)

“Hasil dari kerja ini, puji Tuhan saya bisa ongkos tiga anak saya yang kuliah,” aku dia.

“Ketiganya sudah tamat kuliah, satu tamat dari Bali, satu dari Surabaya dan satu dari Makassar, sedangkan yang bungsu masih mau kuliah di Unika St. Paulus Ruteng.”

Marius menjual dua jenis arak ke pelanggannya yang adalah warga sesama kampung. Tuak Bakok dijualnya dengan harga Rp30.000 per jeriken ukuran 9 botol dan Sopi dijual seharga Rp25.000 per botol.

“Dalam sebulan saya bisa dapat tiga juta. Selain menjaga tradisi orang tua zaman dulu, kerja saya menjadi petani arak sangat membantu untuk biaya pendidikan anak-anak.”

Sejak Mei 2026, penjualan tuak bakok dan sopi milik Marius sangat laris, sebab banyak acara adat. Sebelumnya, penghasilan Marius pas-pasan tergantung banyaknya acara adat yang membutuhkan minuman alkohol tradisional ini.

“Kadang hasilnya meningkat, kadang menurun.”

Sejauh ini, Marius bekerja sendiri dalam menjalani usaha menyadap arak. Kadang-kadang, istrinya Yuliana Nelci, 54 tahun, membantu saat proses pembuatan sopi.

Ia menjelaskan, dalam proses pembuatan Sopi ada fermentasi, di mana air tuak bakok didiamkan dalam wadah selama 2-3 hari hingga kadar alkoholnya rendah. Selanjutnya tuak dimasukkan ke dalam periuk berukuran besar dan dipanaskan di atas tungku kayu bakar.

Uap alkohol dialirkan melalui pipa bambu menuju wadah penampung. Lalu, uap didinginkan menggunakan air hingga menetes menjadi cairan sopi yang jernih dengan kadar alkohol tinggi.

“Dulu saya pakai bambu untuk penyulingan, tapi sekarang saya pakai pipa karet karena bambu cepat dimakan rayap,” jelas Marius.

Marius sadar betul tuak bakok atau sopi sangat dibutuhkan bagi masyarakat Manggarai dalam setiap ritus adat. Saat menerima tamu, misalnya, minuman ini disuguhkan sebagai tanda penghormatan.

Dalam ritus adat pun, tuak bakok atau sopi sebagai lambang kebersamaan dan keterbukaan. Bahkan dalam upacara adat tertentu, keduanya digunakan dalam ritual persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

“Ini (tuak) sangat dibutuhkan masyarakat adat,” timpal Marius.

Ia pun berharap agar ada aturan semacam peraturan daerah yang melindungi arak tradisional, sebab sangat dibutuhkan masyarakat baik dari sisi adat maupun membantu meningkatkan ekonomi keluarga.

Marius juga kaget kala mendengar informasi ada penangkapan pengusaha moke di mana-mana oleh polisi. Padahal, menurutnya, warga butuh aturan untuk melindungi  minuman tradisional mereka.

Baca berita lengkap, mendalam, dan terbaru seputar Moke di Nusa Tenggara Timur hasil Liputan Ekora NTT di Teras.id. Liputan ini merupakan hasil Program Independent Media Accelerator (IMA) 2.0 batch 2, inisiatif strategis oleh Tempo Institute, Teras.id, dan AMSI. Klik di sini!

TERKINI
BACA JUGA