Ruteng, Ekorantt.com – Polres Manggarai melaksanakan terapi USEFT (Ultimate The Source Body, Mind and Soul Emotional Freedom Tecnique) atau layanan kesehatan mental massal bagi seluruh warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ruteng, pada Rabu, 24 Juni 2026. Kegiatan ini dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80.
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Manggarai, Orlando menjelaskan, kegiatan terapi kesehatan mental ini merupakan program langsung dari Kapolda Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan psikologis masyarakat maupun anggota kepolisian
Ia berkata, terapi tersebut dihadirkan sebagai langkah nyata kepolisian dalam membantu masyarakat memperoleh ketenangan pikiran dan kesehatan mental yang lebih baik.
Tidak sekadar kegiatan musiman, namun program ini menjadi agenda rutin yang akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami akan sosialisasikan kepada masyarakat maupun yayasan-yayasan yang membutuhkan ini. Kami akan datangkan semua di situ,” ungkapnya.
Orlando menambahkan, program terapi yang menyasar warga binaan bertujuan membantu mereka memperoleh pemulihan psikologis secara optimal sebagai bekal saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Sementara, Martine, petugas Sidokkes Polres Manggarai menyebut, USEFT ini telah dikembangkan Institut SBMS atau The Source Body, Mind, Soul pada tahun 2010.
Dengan adanya program ini dapat membantu mengatasi kecemasan, depresi, nyeri, stres, hingga gangguan stres pascatrauma.
“Jadi metode USEFT ini sebenarnya adalah metode yang berorientasi pada sistem energi tubuh untuk melepaskan individu dari gangguan emosional dan fisik,” kata Martine.
Dalam pelaksanaannya, terapi USEFT dilakukan melalui enam tahapan, mulai dari kualifikasi, latihan titik sore spot dan 17 tapping, pelepasan emosi negatif, pemeriksaan hasil terapi, pemberian energi positif, hingga penguncian emosi positif.
“Biasanya di titik sore spot kita lakukan pelepasan emosi negatifnya sebanyak tiga kali. Habis itu, setelah itu kita cek hasil dari terapi. Setelah itu kita masukkan energi positifnya. Nah, pada tahap yang terakhir itu look and selling, jadi kita kunci. Setelah kita berikan, kita masukkan emosi positifnya, yang terakhir itu kita kunci emosi positif tersebut,” ucapnya
Ia bilang, terapi USEFT ini dilaksanakan dalam empat periode, meskipun dalam banyak kasus, satu kali terapi sudah memberikan dampak yang cukup signifikan apabila peserta benar-benar berniat melepaskan emosi negatif yang dirasakan.
Siprianus, salah seorang warga binaan yang mengalami fobia terhadap jarum suntik mengaku tidak lagi merasa takut setelah mengikuti terapi.
Untuk memastikan hal tersebut, personel Polres Manggarai melakukan simulasi dengan menyuntikkan jarum ke tangannya.
Namun, Siprianus tampak tenang dan tidak menunjukkan rasa takut seperti sebelumnya. Hal tersebut menjadi salah satu indikator efektivitas metode USEFT tersebut dalam membantu pemulihan kondisi psikologis peserta.
Ke depan, Polres Manggarai berencana memperluas sosialisasi terapi USEFT imi dengan melibatkan berbagai yayasan, sekolah, pesantren, gereja, hingga kelompok masyarakat lainnya guna menciptakan lingkungan Manggarai yang aman, kondusif dan sehat secara mental.













