Larantuka, Ekorantt.com – Ratusan warga rela berjemur di bawah matahari demi setetes Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 01 Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Senin, 29 Juni 2026.
Beberapa pekan terakhir, warga mengalami kelangkaan pertalite, solar, dan minyak tanah. Warga desa yang jauh dengan tiga SPBU di Larantuka bahkan membeli pertalite eceran Rp30.000 dari sebelumnya Rp20.000 per botol.
Dari pelataran dalam hingga luar, SPBU 01 Larantuka dibanjiri kendaraan bermotor, roda empat, dan roda enam. Antrean padat terjadi di pompa BBM bersubsidi. Sementara non-subsidi tidak lebih dari tiga atau empat kendaraan.
Antrian kali ini cukup parah, panjangnya mencapai lebih dari 400 meter ke arah timur kota tersebut. Letak SPBU di ruas jalan utama yang padat kendaraan itu mengganggu arus transportasi
Petrus Riyanto (25), mendorong sepeda motornya dari tengah antrian. Sudah dua jam ia panas-panasan bersama ratusan orang, di antaranya datang dari pelosok desa.
“Saya datang dari Pukul 7.30 Wita, mau isi pertalite. Iya, sekarang ini BBM semakin susah,” katanya kepada Ekora NTT.
Riyanto turut merasakan dampak ikutan pasca kelangkaan BBM subsidi dan kenaikan pertamax. Harga bahan pokok, termasuk ikan semakin mahal di pasar. Riyanto khawatir bakal terjadi lonjakan harga yang lebih tinggi pada waktu mendatang.
Riyanto tak tahu alasan wilayah itu selalu mengalami kelangkaan BBM subsidi. Ia menduga kelangkaan dipicu praktik jual beli BBM lewat jeriken di SPBU oleh banyak pihak. Ia meminta pemerintah dan Pertamina melakukan pembenahan demi pendistribusian BBM secara teratur.
“Kalau begini, masyarakat yang rugi, semoga diatur lebih baik,” harapnya.
Pemilik SPBU 01 Larantuka, Linda Monteiro, mengatakan kuota BBM sedang dibatasi oleh Pertamina. Kebijakan yang berlaku nasional itu berlaku sejak 1 Juni 2026. Ia juga tidak merinci kuota yang dikurangi dari jumlah sebelumnya.
“Sampai hari ini, (kuotanya) masih yang sama. Jadi kita dikasih sekian untuk beberapa hari. Jadi pembatasan dan efisiensi ini berlaku secara nasional,” ujarnya.
Selain pertalite untuk kendaraan, banyak nelayan juga mengalami kesulitan mendapatkan solar. Di sejumlah wilayah pesisir, kapal nelayan terpaksa berhenti beroperasi sementara lantaran ketiadaan bahan bakar.
Akibat hasil tangkap berkurang, harga ikan di tangan tengkulak dan pejual merangkak naik. Di Pasar Larantuka, harga empat ekor ikan dijual Rp20.000, dari sebelumnya Rp20.000 per enam sampai tujuh ekor.
Kondisi ini cukup mengganggu stabilitas rantai ekonomi dari hulu ke hilir, begitu pula pedagang kecil yang pembelinya dari kalangan kelas menengah dan kelas bawah.
Nelayan sejak beberapa pekan tak beroperasi. Puluhan kapal mesin besar seperti Flotim dan Nelayan Bhakti (NB) disediakan BBM solar di Pelabuhan Pendararan Ikan (PPI) Amagarapati.
Beberapa pekan ini, banyak dari mereka tidak kebagian jatah. Ironisnya, solar justru dibeli dari pengecer dengan harga tinggi yakni Rp10.000 sampai Rp11.000 per liter.
“Solar lagi susah jadi sementara kami tidak melaut dulu,” ujar seorang anak buah kapal (ABK), meminta namanya tak disebutkan.
Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong, yang membidangi BBM belum memberikan penjelasan saat dikonfirmasi. Tarsi mengaku sedang mengikuti agenda penting.
“Nanti saya hubungi kembali,” katanya lewat sambungan telepon.
Kelangkaan BBM membuat warta membatasi aktivitas. Di wilayah yang jauh dengan SPBU, tak terlihat lagi pengecer BBM berdagang. Stok pertalite sulit diperoleh. Beberapa pekan tanpa aktivitas jual beli.
Meski demikian, terdapat sejumlah pihak menjual pertalite dengan harga tinggi, yakni Rp25.000 sampai Rp30.000 per botol. Isi BBM juga dikurangi hampir setengah badan botol.
Penulis: Paul Kebelen













