Kupang, Ekorantt.com – Raut wajah Guglif E. Nubatonis tampak antusias Ekora NTT menjumpainya di Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Kamis, 17 Juli 2026.
Ekora NTT ke sana, ditemani Ketua Komite Kopdit Pintu Air Cabang Oesao, Andreas L. Takaeb dan Manajer Cabang, Alexander Reghu.
Bapak Siu, sapaan karibnya, terbilang sukses setelah menjadi anggota Kopdit Pintu Air. Semula ia mengikuti jejak sang ayah sebagai petani. Namun usai menikah dengan istrinya, Denri Natalia Natun beban hidup Bapak Siu semakin berat. Itulah sebabnya ia berani keluar dari situasi yang dihadapinya.
Ia kemudian bergabung menjadi anggota Kopdit Pintu Air di kelompok Buraen pada 2013 usai mendengar cerita dari kerabatnya.
Bapak Siu bersama istrinya menempuh perjalanan 10 kilometer dari Kotabes ke Buraen hanya untuk mendaftarkan diri menjadi anggota Kopdit Pintu Air.
Setelah menjadi anggota, ia tidak terburu-buru mengajukan pinjaman. Dengan penuh kesadaran, Bapak Siu memilih menabung terlebih dahulu sebagai langkah untuk membangun modal usaha yang lebih kuat.
“Selama empat tahun saya menyimpan, tabungan saya hampir sepuluh juta. Kemudian saya beranikan diri untuk pinjam,” jelas Bapak Siu.
Pinjaman pertamanya digunakan untuk usaha jual beli kayu. Selama menjalani usaha jual beli kayu, Bapak Siu pandai mengatur pendapatan mingguan dan harian. Hasilnya pun terus meningkat.
Pada 2017, ia kembali mengakses modal dari Kopdit Pintu Air untuk membeli mobil pikap. Mimpinya kali ini justru bernasib lain. Tak ada uang yang dihasilkan dari mobil pikap, Bapak Siu justru terus merogoh kocek untuk membeli bahan bakar.
Akibatnya, ia pun kewalahan. Pada 2020 mobil yang dibelinya dijual kembali untuk menjaga kepercayaan serta citra diri dan mengembalikan pinjaman.
Sebagian uangnya dipakai untuk melunasi sisa pinjamannya dan sebagian lagi mulai menekuni usaha baru.
“Saya petarung pak, kegagalan yang saya rasakan bukan buat saya mati langkah, justru jadi motivasi kuat yang buat saya semangat,” kata Bapak Siu.
Bapak Siu lantas menekuni usaha baru yakni jual beli ternak. Pelan namun pasti, dari usaha yang digelutinya memperlihatkan tanda-tanda positif. Keuntungan yang diperoleh terus bertambah dan bahkan berlipat ganda.
Bapak Siu kembali mengakses modal di Kopdit Pintu Air untuk memperbesar skala usaha itu. Ia mulai berjejaring dengan beberapa pengusaha besar yang dapat menampung dan menjual ternak sapi ke berbagai daerah di luar NTT.
Bapak Siu berani mengumpulkan sapi dalam jumlah banyak kemudian dikirim ke Jakarta dan Kalimantan.
Dari usaha itu, kini ia sudah dapat membangun rumah permanen menggantikan gubuk tuanya yang berdinding gebang dan beratapkan daun lontar. Bukan hanya itu, ia juga membeli sebuah mobil truk dan sejumlah bidang tanah.
Bapak Siu juga telah membuka tabungan untuk masa depan ketiga anaknya: Dede Nubatonis, Yosua Nubatonis, Mahesa Nubatonis.
Meski kehidupan keluarganya telah berkecukupan, Bapak Siu tetap memilih bekerja keras. Baginya, usaha yang telah dibangun dengan susah payah belum sepenuhnya bisa dipercayakan kepada orang lain. Karena itu, ia masih terlibat langsung mengelola usahanya setiap hari, dibantu seorang sopir dan anaknya.
Kini Bapak Siu melebarkan sayap usahanya dengan memelihara ternak ayam potong dan ayam petelur. “Kalau selama ini punya pendapatan mingguan setiap hari pasar, saya berjuang lagi supaya dapat menghasilkan harian dari telur ayam,” kata Bapak Siu.

