Lewoleba, Ekorantt.com – Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat (LAM) menyadari pentingnya melestarikan cerita-cerita rakyat di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Lewat program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Balai Pelestarian Kebudayaan NTT, LAM pun menyelenggarakan Lomba Bertutur Cerita Rakyat Lembata tingkat SD dan MI.
Kegiatan yang diselenggara di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata pada Sabtu, 1 Agustus 2026 itu menjadi salah satu bentuk melestarikan warisan budaya tak benda yang memiliki nilai strategis dalam kehidupan masyarakat.
LAM memandang lomba bertutur cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi menjadi media transmisi tentang nilai-nilai moral, sejarah, adat istiadat, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Cerita rakyat juga dipandang memiliki peranan penting dalam membentuk karakter bangsa, memperkuat identitas budaya, serta menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur.
Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, menekankan tiga hal penting. Pertama, lomba bertutur merupakan literasi yang sejalan dengan visi maupun misi bupati dan wakil bupati Lembata. Kedua, sebagai ajang menanamkan rasa cinta kepada pelestarian budaya dan aktivitas literasi. Ketiga, menjadi sarana bagi anak-anak untuk membentuk karakter.
Ketua Yayasan LAM, Midun Husein Ratuloli, menuturkan lomba bertutur cerita rakyat sengaja dirancang sebagai ruang partisipatif yang mendorong generasi muda untuk mengenal, memahami, serta mengembangkan kembali cerita rakyat dalam bentuk yang kreatif, komunikatif, dan kontekstual.
“Kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana dokumentasi budaya guna memastikan keberlanjutan cerita rakyat sebagai bagian dari identitas masyarakat,” katanya.
Menurutnya, Lembata adalah daerah yang memiliki kekayaan budaya yang beragam dan menyimpan potensi besar dalam bentuk cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat.
Cerita-cerita tersebut, menurut Midun, mencerminkan pandangan hidup masyarakat, relasi dengan alam dan leluhur, dan sistem nilai yang menjadi dasar kehidupan sosial.
Nilai-nilai di dalamnya seperti kejujuran, keberanian, kerja keras, semangat kebersamaan, dan memiliki relevansi yang tinggi dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan arus globalisasi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap eksistensi cerita rakyat. Generasi muda saat ini cenderung lebih terpapar pada budaya populer dan media digital, sehingga minat terhadap tradisi lisan mengalami penurunan,” katanya.
Midun berkata, output dari lomba bertutur cerita rakyat yakni pembuatan buku cerita rakyat Lembata. Buku itu nantinya dibagikan kepada sekolah-sekolah yang telah mengutus peserta didiknya untuk ikut dalam lomba.
Bagi Midun, Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata sebagai pusat literasi juga memiliki posisi strategis dalam mengintegrasikan fungsi edukasi, pelestarian budaya, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Perpustakaan tak hanya berperan sebagai penyedia informasi, tetapi sebagai ruang publik yang mengakomodasi aktivitas budaya yang inovatif dan partisipatif.
Penulis: Paul Kabelen













