Larantuka, Ekorantt.com – Masyarakat adat bersama para petani Desa Konga, Desa Kobasoma, dan Desa Lewolaga di Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, menggelar ritual adat mengusir hama tikus di kampung lama Konga pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Setahun belakangan, hama tikus dalam jumlah besar menyerang tanaman padi membuat produktivitas pertanian menurun. Para petani kewalahan mengatasi hama tikus yang terus menerus menyerang tanaman padi.
Tidak hanya memakan padi di sawah, mamalia pengerat itu bahkan menyerang dan merambah makanan warga pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Konga.
Ketua Lembaga Adat Desa Konga, Martinus Juang Lewar (60), mengatakan ritus yang digelar yakni tolak bala atau mengusir marabahaya termasuk hama tikus. Ritual itu dilaksanakan pasca-upaya pencegahan oleh dinas terkait dan swadaya warga belum membuahkan hasil.
Dalam upacara adat itu, masyarakat adat menyediakan sejumlah sesajen pada batu mesbah atau dalam bahasa setempat menyebut Merang. Mereka memohon kepada leluhur agar menjauhkan sawah dari serangan hama.
Martinus menyebut, masyarakat setempat menaruh kepercayaan bahwa kedatangan hama juga disebabkan perilaku manusia yang menyimpang dengan alam.
“Secara budaya, torang (kami) berpikir tikus ini bukan selamanya alami, tetapi mungkin kiriman leluhur karena tidak suka dengan perilaku kita, jadi dikirim dalam bentuk hama. Kami semua satukan pandangan untuk menggelar seremonial di kampung lama,” kata Martinus.
Ia mengungkapkan, ritual tolak bala biasa digelar setiap tiga tahun, namun waktunya bisa digeser lebih cepat jika terjadi peristiwa genting. Serangan hama berlangsung sejak tahun 2025 dan masih berlanjut hingga sekarang. Hal ini dipandang sebagai peristiwa darurat yang mesti disikapi serius dari kacamata budaya.
Setelah seremonial pembuka, kata Martinus, warga bersama-sama menangkap tikus lalu dikurung ke dalam tempat khusus yang disebut Hurung, kemudian dibawa dengan perahu ke tengah laut. Sebelum dilepaskan, sesepuh melantunkan harapan agar hama jangan kembali menyerang tanaman.
“Tadi malam sudah selesai, jadi kami perlakukan dia (tikus) dengan baik, kami lepas dengan baik-baik sambil minta supaya jangan datang lagi. Dalam perjalanan pulang, tidak boleh menoleh,” tuturnya.
“Semua orang termasuk pengungsi berpartisipasi dengan baik sampai dengan selesai seremonial,” tambah Martinus.
Ketua Kelompok Tani Peten Lewo Poe Pore di Desa Konga, Yosef Ratu Lewar, berkata pencegahan telah diupayakan secara swadaya serta pendampingan penyuluh pertanian namun hama masih belum terkendali.
Yosef berujar, populasi tikus yang semakin tak terkendali melahap padi hanya dalam sekejap mata dengan total kerusakan mencapai 20 hektar.
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur, Yoseph Sadi Open, memaparkan serangan tikus di irigasi Desa Konga telah diidentifikasi. Hasilnya ada 18 hektar rusak ringan, 1,65 hektar rusak sedang, 0,35 hektar rusak berat, dan 0,60 hektar gagal panen atau Puso.
Dinas Pertanian setempat yang didukung personel lapangan kewalahan untuk bagaimana mengatasi masalah hama. Stok pestisida atau obat pembasmi tikus pada dinas itu sedang kosong.
Penulis: Paul Kabelen













