Bajawa, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Ngada bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, didukung INFLORES GeF United Nations Development Programme (UNDP) mengadakan Festival Komodo Riung di Pantai Watulajar, Desa Lengkosambi Utara, Riung selama tiga hari, 11-13 Agustus 2026.
Festival ini merupakan komitmen pemerintah menjaga dan melindungi spesies langka Komodo Riung dan satwa lain yang dilindungi.
Ketua Panitia Nikolaus Noywuli, mengatakan bahwa Festival Komodo Riung merupakan cara pemerintah untuk mempromosikan pariwisata Riung. Pihaknya ingin memperkenalkan Mbou atau Komodo Riung sebagai spesies endemik yang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Riung.
Untuk memikat daya tarik wisatawan, pemerintah setempat ingin membangun semangat konservasi bagi masyarakat lokal yang ada di sekitar 17 pulau Riung.
“Festival ini untuk memperkenalkan konsep konservasi, memasarkan produk UMKM dan kelompok tani hutan, hingga kekayaan budaya Riung yang harus kita angkat ke dalam ekosistem pariwisata,” kata Nikolaus di Riung pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Festival Komodo Riung juga mendorong ekonomi masyarakat tumbuh, lewat pelibatan puluhan pelaku UMKM dan kelompok tani hutan dalam event itu.
“Sejumlah stan pameran menampilkan berbagai produk lokal, seperti makanan khas Riung, tenunan tradisional, dan produk pertanian,” tutur Nikolaus.
Panitia juga menyiapkan sejumlah pertunjukan dan perlombaan seperti bazar UMKM, lomba dayung perahu, lomba hias perahu hingga konser musik dan pentas kesenian.
Jumainta, usia 30 tahun, seorang ibu rumah tangga asal Desa Tadho, Kecamatan Riung, ikut merasakan dampak dari Festival Komodo Riung.
Di hari pertama, ia mengaku mendapatkan keuntungan dari jualan aneka kue dan es. “Lumayan pak kemarin hari pertama saja dapat Rp300 ribu.”
Menurut Jumainta, keuntungan tersebut cukup membantu kebutuhan rumah tangga. Ia berharap pemerintah terus melaksanakan kegiatan serupa untuk mendukung peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar pesisir.
Hal yang sama dialami Badri (30) pedagang kopi asal Desa Kota Raja, Kecamatan Riung. Badri sendiri berhasil meraup keuntungan hingga Rp500 ribu di hari pertama.
“Lumayan hari pertama, dari pembukaan pendapatan saya lumayan,” ujarnya.
Sebelum adanya festival, Badri biasa menjual kopi kepada wisatawan di Riung. Di sana ia memperoleh keuntungan jauh lebih rendah.
“Kalau hari biasa hanya Rp100-200 ribu dalam sehari,” kata Badri.
Bandri berharap pemerintah perlu memperkuat promosi agar destinasi wisata Riung lebih dikenal dan mengundang banyak wisatawan.













