Mbay, Ekorantt.com – Pemerintah Desa Degalea, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, mencatat lebih dari 80 rumah warga dan bangunan fasilitas umum rusak akibat gempa bumi pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
“Itu data setelah gempa 15 Agustus. Sementara dampak gempa susulan belum terdata,” ujar Sekretaris Desa Degalea, Yohanes Baptista Lion lewat telepon, Selasa.
Ia merincikan dari jumlah itu, sebanyak 60 unit rumah warga rusak berat dan sisanya rusak ringan.
Selanjutnya, fasilitas umum yang mengalami rusak berat ialah bangunan SDI Lea dan SDK Wolofeo, dua bangunan TK serta dua tempat ibadah dan kantor desa rusak berat, kata dia.
“Tidak ada korban jiwa. Tapi yang luka berat ibu dan anak sudah dirujuk di RSUD Bajawa. Luka ringan sudah ditangani nakes desa,” terang Yohanes.
Ia menambahkan, warga terdampak sekarang berpusat di empat kamp pengungsi yang ditentukan oleh pemerintah desa. Adapun warga yang secara sukarela membangun tenda darutat di halaman rumah masing-masing.
Sementara bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo berupa beras, telur dan air mineral sedang disalurkan ke warga.
“Bantuan ini kami (Pemdes) ambil di posko utama di Mbay. Kendaraan kami siap sendiri,” kata dia.
Yohanes menjelaskan kesulitan yang dialami ialah keadaan topografi dan akses jalan yang kurang memadai. Proses penyaluran ke warga terdampak terlambat karena akses jalan yang harus menjangkau warga dengan jarak 12 kilo meter.
“Kesulitan lain ialah kebutuhan dasar perempuan, ibu hamil, dan anak-anak seperti pempers dan pembalut yang masih kurang,” kata Yohanes.
Meski demikian ia berharap masyarakat bersabar dan tetap waspada dari gempa susulan yang masih terus mengguncang hingga Selasa pagi.
Yohanes mengimbau warga agar menghindar dari bangunan retak dan tetap berada di kamp pengungsian.
Romaldus Laki, 36 tahun, warga RT 07, Desa Degalea merupakan salah satu korban terdampak berat dengan kerugian yang dialami mencapai Rp250 juta.
Bangunan rumah yang dalam proses finishing mengalami rusak berat dampak gempa bumi berskala magnitudo 7,7. Beberapa bagian tembok rumahnya roboh.
“Saya terpukul dan saya merasa sedih sekali,” ujar dia secara terpisah, Selasa.
Romaldus merasa kehilangan dan sia-sia atas jerih payah yang diperjuangkan selama ini. Namun, ia masih bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Tapi mental saya down karena (rumah) tidak dimungkinkan untuk rehab. Harus kerja keras dan bangun baru lagi,” ucap Romaldus.













