Mbay, Ekorantt.com – Basarnas Maumere mencatat delapan orang korban jiwa di Kabupaten Nagekeo sejak gempa bumi bermagnitudo 7,7 melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Data ini dirilis Basarnas pada Senin, 17 Agustus 2026 pukul 16.40 Wita. Adapun korban luka ringan tercatat sebanyak empat orang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo sejauh ini belum merilis dampak gempa, baik jumlah korban jiwa maupun kerusakan rumah warga dan fasilitas umum.
Media Ekora NTT telah melakukan konfirmasi kepada Kepala Pelaksana BPBD Nagekeo, Remigius Jago, namun belum ada tanggapan.
Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, menuturkan, Tim SAR sedang meninjau wilayah terdampak di Nagekeo yakni Kelurahan Mbay, Desa Tungurambang, Desa Nangadhero, dan Desa Marpokot.
Berdasarkan penyisiran darat Tim SAR pada hari kedua pasca-gempa di tujuh kabupaten, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan meningkat menjadi 63 orang.
Sementara sebanyak 132 orang mengalami luka berat maupun luka ringan.
Fathur mengatakan pihaknya kini memperluas operasi SAR ke tiga wilayah yang paling terdampak, yakni Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo.
Operasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dan didukung helikopter Basarnas untuk mendukung proses evakuasi medis lewat udara.
“Penyisiran dilakukan hingga radius 6,3 kilometer dengan menyasar wilayah Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, serta Kelurahan Mbay, Desa Tungurambang, Desa Nangadhero, dan Desa Marpokot di Kabupaten Nagekeo,” kata Fathur.
Untuk diketahui, setelah gempa dahsyat berskala M 7,7 pada 15 Agustus, terjadi gempa susulan sebanyak 1.642 kali mengacu data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Senin sore. Gempa susulan terbesar kekuatan magnitudo 6,2.
Gempa Flores meninggalkan rasa trauma bagi warga Nagekeo. Banyak warga pesisir mengungsi di dataran tinggi khawatir terjadi tsunami.
Mereka membangun tenda darurat seadanya lalu tinggal menetap hingga ada imbauan pemerintah.
“Kami masih di bukit. Kami sangat trauma dengan kondisi ini,” kata Petrus Mere Ari melalui sambungan telepon dari Mbay, Senin sore.
Sementara Urbanus Bali, warga Ndora, Desa Ulupulu 1, harus membangun tenda di halaman rumah karena bangunan rumah seluruhnya rusak.
Ia bersama keluarganya khawatir bila sewaktu-waktu terjadi gempa susulan yang berpotensi mengakibatkan korban jiwa.
“Rumah sudah tidak layak tinggal karena semua rusak. Tadi gempa besar lagi dan beberapa dinding roboh dan retak besar,” pungkasnya.













