Larantuka, Ekorantt.com – Keputusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur mengalokasikan Rp5 miliar lewat dana bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk belanja dua unit eksavator menuai pro dan kontra.
Ada pihak mendukung Bupati Antonius Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignasius Boli Uran karena dianggap tepat menyikapi ancaman banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-laki yang memutus sejumlah jalan vital penghubung Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang, serta Jalan Trans Larantuka-Maumere.
Di lain pihak, keputusan itu dianggap tidak tepat karena banjir nyatanya sudah terjadi berulang-ulang kali selama lebih dari satu tahun terakhir. Pemkab diminta menyewa lewat pihak ketiga tanpa pengadaan baru. Apalagi berkaca dengan alat berat lama yang kini rusak dan menjadi aset terbengkalai.
Yohanes Nandri Bean (30), pengungsi Lewotobi Laki-laki, menilai keputusan bupati dan wakil bupati bisa menjawab keresahan ribuan jiwa atas masalah banjir yang memutus jalan dan menghambat akselerasi ekonomi di Ile Bura dan Wulanggitang.
“Kondisinya parah sekali saat hujan. Ada empat bahkan lima titik banjir yang bikin jalan putus. Ini masalah besar dan menjadi hambatan serius. Alat berat harus standby di sana supaya ada apa-apa langsung bergerak,” kata Yohanes.
Menurutnya, perhatian terhadap penyintas juga harus tertuju ke warga desa yang tak diungsikan, yakni Desa Nurabelen, Desa Riangrita, Desa Lewotobi, Desa Riang Baring, Desa Lewoawan, Desa Pantai Oa, Waiula, Desa Hewa, dan Desa Ojan Detun.
Kepala Desa Hewa, Maria Hereng Geka Niron mengatakan kondisi jalur di Kali Waiuring penghubung lima desa ke pusat ibu kota kecamatan di Desa Boru masih tertimbun material selama hampir dua tahun terakhir.
Maria berkata kendaraan roda dua dan roda empat masih bisa melintas pada tumpukan material yang mengeras di musim panas saat ini. Jika hujan, medan itu berubah seram hingga jadi langganan material terbaru bersamaan dengan eskalasi banjir lahar.
Ketika akses terputus di Waimuring hingga Ile Bura, kata Maria, warga hanya pasrah. Di sana tak ada jalur evakuasi kala terjadi erupsi eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok melonjak drastis lantaran terganggunya aliran distribusi.
“Saat banjir datang, akses kami ke fasilitas kesehatan, rantai ekonomi, hingga transportasi jadi lumpuh total. Jadi kami mendukung dengan keputusan daerah mengadakan alat berat untuk disiagakan di lokasi banjir,” katanya.
Kepala Desa Nurabelen di Kecamatan Ile Bura, Lambertus Bura Puka, punya pandangan berbeda. Ia meminta Pemkab tetap menyewa lewat pihak swasta, seperti yang dilakukan selama penanganan banjir lahar gunung.
“Dengan kondisi jalan yang seperti sekarang ini, belanja alat berat tidak tepat. Sebaiknya anggaran itu untuk pembersihan. Kondisi jalan dari Nobo terus ke Nurabelen ke sana sudah sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Ia berkata ketebalan material bisa mencapai satu meter. Aktivitas warganya hingga beberapa desa di Ile Bura masih terganggu akibat tumpukan material yang berdebu dan mengancam kesehatan pernapasan.
Bupati Antonius Doni Dihen sebelumnya mengonfirmasi dana sebesar Rp20 miliar telah diterima daerah. Pihaknya kemudian melakukan sejumlah tahapan hingga menanti persetujuan oleh pemerintah pusat sebelum digunakan sesuai kebutuhan warga.
“Dana sudah masuk. Sudah rinci pengaturannya, sudah dikonsultasikan dengan pimpinan DPRD, sudah dilaporkan ke Jakarta, dan saat ini masih menunggu verifikasi serta persetujuan,” ujar Anton Doni Dihen.
Anton Doni merincikan anggaran itu akan digunakan untuk kebutuhan dasar senilai Rp6,3 miliar, pelayanan kesehatan dan pendidikan Rp827 juta, sarana dan prasarana sebesar Rp6,7 miliar, dan bansos yang tidak direncanakan Rp6,039 miliar.
Khusus sarana, Pemkab Flores Timur berencana membeli dua unit eksavator dengan alokasi dana Rp5 miliar untuk membuka jalur terisolasi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, termasuk membuka jalur evakuasi bagi ribuan warga di sejumlah desa ketika terjadi erupsi eksplosif susulan.
Penulis: Paul Kabelen













