Kelurahan Kayu Putih Dorong Pembentukan Bank Sampah Berbasis Masyarakat

Dengan pendekatan tersebut, warga diharapkan tidak perlu berulang kali datang ke kantor kelurahan hanya karena persyaratan administrasi belum lengkap.

Kupang, Ekorantt.com –  Lurah Kayu Putih, Kayu Putih, Gunther Y. N. Beo mengatakan pihaknya mulai mendorong pembentukan bank sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan publik sekaligus membangun kesadaran warga dalam mengelola sampah dari rumah.

Pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan sebelum sampah dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).

“Sampah dipilah dari rumah tangga. Itu kata kuncinya,” kata Gunther kepada Ekora NTT pada Selasa, 23 September 2026.

Menurut dia, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi seharusnya dipisahkan dan dimanfaatkan, sedangkan sampah yang tidak lagi memiliki nilai baru dibuang ke TPS.

Kelurahan Kayu Putih mulai berkolaborasi dengan salah satu warga yang selama ini aktif sebagai penggiat pengelolaan sampah. Gunther berharap kolaborasi tersebut dapat berkembang menjadi bank sampah di tingkat kelurahan.

“Tidak muluk-muluk, minimal ada Bank Sampah Kayu Putih, sebagai bagian dari pendekatan pelayanan publik yang dikembangkan Kelurahan Kayu Putih,” ujarnya.

Gunther mengatakan pelayanan di kelurahan tidak hanya berkaitan dengan administrasi kependudukan, tetapi juga bagaimana pemerintah hadir menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan lingkungan.

Pendekatan itu dirangkum dalam tagline “PUTIH”, yang diambil dari kata terakhir nama Kelurahan Kayu Putih. PUTIH merupakan akronim dari Profesional, Ulet, Transparan, Inovatif, dan Humanis.

Gunther mengatakan lima prinsip tersebut menjadi pedoman baginya dan seluruh staf atau pegawai kelurahan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Setiap masyarakat yang datang di sini tidak bisa kita pilah. Kita harus profesional, transparan, berinovasi dan humanis,” katanya.

Prinsip inovatif, kata dia, juga diterapkan melalui sejumlah gagasan untuk mempercepat pelayanan warga. Salah satunya adalah pengembangan aplikasi pelayanan kelurahan yang memungkinkan masyarakat mengetahui persyaratan administrasi dan mengirimkan dokumen dari rumah.

Dengan pendekatan tersebut, warga diharapkan tidak perlu berulang kali datang ke kantor kelurahan hanya karena persyaratan administrasi belum lengkap.

Bagi Gunther, semangat “PUTIH” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi harus diterjemahkan dalam pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.

Salah satunya melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju terbentuknya Bank Sampah Kayu Putih. (Adv)

TERKINI
BACA JUGA