Pekerjaan Jalan ke Huntap Lewotobi Belum Rampung Meski Masa Kontrak Berakhir

Pengawas Proyek Jalan ke Huntap, Rahmat Saleh, berkata pekerjaan jalan diperpanjang selama 32 hari hingga 14 Oktober 2026. Ia mendorong rekanan agar bekerja cepat dengan tetap mengutamakan kualitas.

Larantuka, Ekorantt.com – Proyek jalan ke salah satu calon lokasi hunian tetap (Huntap) Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, belum rampung meski waktu pengerjaan telah selesai pada 12 September 2026.

PT Dewi Graha Indah selaku kontraktor diberi waktu tambahan menyelesaikan jalan sepanjang 10,24 kilometer yakni dari Desa Pululera menuju Kuhe. Kuhe menjadi salah satu dari tiga titik relokasi warga terdampak erupsi.

Pada Minggu, 27 September 2026, proyek yang menelan dana senilai Rp41 miliar itu baru melaku pengaspalan sekitar 8 kilometer, tersisa 2 kilometer lagi agar terhubung ke Kuhe. PT Dewi Graha Indah diberi keringanan tanpa konsekuensi denda.

Pengawas Proyek Jalan ke Huntap, Rahmat Saleh, berkata pekerjaan jalan diperpanjang selama 32 hari hingga 14 Oktober 2026. Ia mendorong rekanan agar bekerja cepat dengan tetap mengutamakan kualitas.

Menurut Rahmat, progres jalan untuk percepatan huntap telah mencapai 91 persen. Pekerjaan besar kini tersisa pengaspalan. Tujuh armada angkut aspal terus bergerak dari Maumere ke lokasi proyek.

Dengan waktu dan penambahan armada angkutan, Rahmat optimis proyek dapat rampung sebelum Provisional Hand Over (PHO) pada 14 Oktober 2026 nanti.

“Kami sudah dorong agar armadanya ditambah jadi 14 biar pekerjaan lebih cepat selesainya,” kata dia di Larantuka, Senin 28 September 2026 siang.

Rahmat menyebut proyek itu sebenarnya bisa selesai tepat waktu tanpa diperpanjang. Namun, selama satu bulan aktivitas angkutan material terhambat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki hingga gempa Flores.

Erupsi dan gempa, jelasnya, menjadi alasan yang dimaklumi sehingga PT Dewi Graha Indah luput dari beban denda proyek.

“Kuari (galian C) tempat angkut material pasir dan batu itu berada dekat dengan gunung. Jaraknya itu kurang lebih 2,7 kilometer jadi saat erupsi kita hentikan dulu, jadi itu yang menjadi pertimbangan,” ungkapnya.

“Sementara sopir yang bawa aspal tinggal di Maumere, mereka dan keluarga mengungsi. Hampir satu Minggu kita alami kendala.”

Dengan pengawasan rutin dan keseriusan dalam menyelesaikan pengaspalan, pekerjaan ringan seperti jalan dan lampu jalan bisa dimulai pada awal Oktober.

Sementara itu, Pemkab Flores Timur melalui Dinas Perumahan mengklaim tiga lokasi yakni Kuhe, Todo, dan Walang sedang dalam proses penerbitan sertifikat untuk selanjutnya dijadikan lokasi huntap.

Di sisi lain, penyintas Lewotobi Laki-laki masih ragu lantaran dua tahun terakhir lahan untuk relokasi terpadu selalu berpindah-pindah hingga berujung dibatalkan.

Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA