Yosep Finus Olah Singkong Jadi Tepung Mocaf Adonara

Ketua SPPG Waiwadan, Wilfridus Kabelen mengatakan, pihaknya membeli Mocaf Adonara untuk diolah menjadi beragam menu masakan.

Larantuka, Ekorantt.com – Tepung Mocaf Adonara. Demikianlah nama jenama tepung mocaf yang dikembangkan Yosep Finus, 38 tahun, pemuda asal Desa Oringbele, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Usaha ini baru berjalan tiga bulan, setelah Yosep tak melanjutkan usaha keripik singkong. Baginya, olahan berbahan baku ubi singkong masih sebatas keripik, gorengan, dan putu. Belum ada pilihan lain.

Itulah kenapa Yosep mengembangkan tepung mocaf. Tepung hasil fermentasi singkong ini bisa menjadi bahan baku bagi sejumlah produk turunan seperti kue nextar, bolu, lumpia, dan menu makan lainnya.

Mocaf berbeda dengan tepung tapioka yang sama-sama berbahan baku singkong. Tapioka dihasilkan dengan cara memarut singkong, lalu memerasnya dan mengendapkan cairan itu. Hasil endapan akan dikeringkan hingga menghasilkan tepung.

Pembuatan mocaf, kata Yosep, melewati proses fermentasi. Singkong dicuci bersih, diiris tipis kemudian menjalani proses fermentasi antara satu sampa tiga hari.

“Hasil fermentasi dibilas lagi dengan air, dijemur tiga hari hingga benar-benar kering, digiling halus dan diayak. Tepung jadi dipanaskan pada suhu terukur sebelum pengemasan,” kata Yosep kepada Ekora NTT pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Berdasarkan pengalaman, Yosep bilang, proses pembuatan tepung mocaf memakan waktu kurang lebih satu minggu.

Sarjana farmasi ini bisa mengolah mocaf setelah membaca beberapa buku, jurnal, dan menonton video tutorial. Ia memberikan diri untuk mulai melakukan proses fermentasi sederhana hingga kemudian ketagihan dan menjadikan hal ini sebagi usaha yang bisa mendatangkan uang.

“Awal-awalnya sulit. Tapi kemudian karena sudah terbiasa, saya bisa buat dengan lancar.”

Usaha yang masih terbilang baru ini sudah bisa menghasilkan uang. Ia membanderol 500 gram mocaf seharga Rp20 ribu rupiah. Kata dia, harga ini masih relatif murah dan mudah dijangkau pembeli.

“Selama tiga bulan sudah laku 500 bungkus. Masyarakat yang beli responsnya positif,” kata Yosep.

Kendati berjalan bagus, menurut Yosep, usahanya berhadapan dengan kendala persediaan bahan baku. Terutama di musim hujan, persediaan singkong menurun dan kualitasnya pun menyusut.  Untuk itu, ia menghasilkan banyak stok mocaf sebelum memasuki musim hujan nanti.

“Saya siapkan banyak. Ya, lumayan juga penerimaan dari jualan mocaf. Saya masih terus berusaha agar usaha ini semakin berkembang,” ujarnya.

Yosep cukup berbangga karena produk itu sudah memperoleh izin usaha berbasis risiko dan terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Produk ini dianggap lebih tepat karena bisa bertahan selama satu tahun.

Selain itu, Tepung Mocaf Adonara sudah masuk dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni SPPG Fortuna Waiwadan di Adonara dan SPPG Fortuna di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Ketua SPPG Waiwadan, Wilfridus Kabelen mengatakan, pihaknya membeli Mocaf Adonara untuk diolah menjadi beragam menu masakan.

“Baru-baru ini kami pesan 25 bungkus. Ini produk yang layak sebagai pengganti tepung, bisa untuk buat ayam goreng krispi, tempe goreng, dan perkedel tahu,” tuturnya.

Wilfrid berkata, SPPG Waiwadan yang sudah beroperasi selama satu tahun terus menyediakan tempat bagi pelaku UMKM lokal. Kehadiran program MBG dapat mendukung geliat ekonomi masyarakat lokal.

“Kami bukan peluang bagi pelaku UMKM seperti Yosef untuk memasok bahan baku di dapur. Semoga masih ada yang lain bisa memanfaatkan peluang ini,” pungkasnya.


Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA