Uskup Labuan Bajo Tahbiskan 13 Imam di Ledalero, Tekankan Kehadiran bagi Umat

Tidak boleh hanya berdiri di depan altar dan hanya berkhotbah. Juga tidak boleh hanya bersujud di ruang doa, tetapi berjalanlah bersama umat, peduli, hadir, dan bertindak.

Maumere, Ekorantt.com – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus menahbiskan 13 imam baru di Ledalero, Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Uskup Maks berpesan kepada ketigabelas imam baru untuk manjadi imam yang senantiasa hadir di tengah umat dan merasakan penderitaan mereka.

Ia bilang, imamat yang baru diterima oleh pada imam baru  harus manjadi imamat yang berdampak. Imamat bukan untuk diri sendiri,  tetapi menjadi saluran kasih dan sukacita bagi orang lain. Karena itu, umat mesti dilayani dengan hati dan hati-hati.

Mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus tentang makna kehadiran, Uskup Maks menegaskan, kehadiran seorang imam bukan sekadar berada di tengah umat, melainkan sungguh-sungguh hidup bersama, mendengarkan, dan mendampingi umat serta mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.

Menurutnya, kehadiran merupakan salah satu jalan menuju kesucian. Karena itu, para imam yang baru ditahbiskan diharapkan menyadari tanggung jawab panggilan mereka dengan senantiasa hadir di tengah umat, baik dalam suka maupun duka, serta menjadi gembala yang dekat dengan kehidupan dan kebutuhan umat.

”Hadir di mana tempat seharusnya kita hadir, bukan ada di tempat yang seharusnya kita tidak perlu ada, atau ada terus di tempat yang sama. Jadi kita hadir membawa kehadiran yang berdampak,” ujar Uskup kelahiran Todo Manggarai itu.

Profinsial SVD Ende, Pater Enan Enbu, SVD dalam sambutannya mengatakan, imamat merupakan anugera Allah. “Karena itu kita patut menaikan syukur atas anugerah istimewa  ini.”

Ia berkata, “kita bersyukur karena Tuhan masih berkenan memanggil dan memimilih orang-orang muda untuk menyerahkan hidup kepadaNya  dan kepada gereja sebagai imam religius misionaris Sabda Allah.”

Tahbisan imam dan perayaan kaul kekal 15 Agustus lalu,  menurut Pater Eman, terasa berbeda dari tabisan imam-imam baru tahun sebelumnya.

Kaul kekal saat itu di tengah situasi gempa bumi dengan magditudo besar yang memporakporandakan Flores.  Tahbisan imam pun dirayakan dalam suasana yang belum sepenuhnya pulih dari bencana gempa tersebut.

“Masih begitu banyak saudara-saudara kita yang kerusakan  harta benda, kehilangan rumah bahkan masih merasa takut dan trauma akibat bencana tersebut,” ujar Pater Eman.

Menurutnya, tahbisan imam kali ini terjadi di tengah luka umat. Kata dia, imamat tidak dapat dipisahkan dari penderitaan, kesulitan dan luka umat. Seorang imam dipanggil untuk tidak jauh dari realitas kehidupan umat.

“Dalam situasi bencana seperti sekarang kita semakin memahami arti kehadiran seorang imam abdi solidaritas,” katanya.

Menurutnya, imam baru ditahbiskan sebagai pelayan utama kehidupan. Tidak boleh hanya memberkati rumah-rumah yang baru dibangun, tetapi harus hadir bersama dengan mereka yang rumah-rumahnya runtuh.

Tidak boleh hanya berdiri di depan altar dan hanya berkhotbah.  Juga tidak boleh hanya bersujud di ruang doa, tetapi berjalanlah bersama umat, peduli, hadir, dan bertindak.

TERKINI
BACA JUGA