Nasib Tak Menentu Penjual Ikan dan Pedagang Sayur di Tengah Wabah Corona

Maumere, Ekorantt.com – Jeny Waan, perempuan berusia 31 tahun, adalah seorang penjual ikan keliling di Kota Maumere. Setiap hari perempuan asal Alor ini beradu dengan waktu, menyusuri lorong-lorong rumah warga, menjunjung baskom. Ia setia menjajakan ikan yang dibelinya dari pasar ikan di Kota Maumere.

Beberapa waktu belakangan, rutinitasnya menjual ikan terganggu akibat wabah corona. Nasib Jeni dan beberapa pedagang kecil yang lain terkatung-katung.

“Pemerintah larang jangan keluar rumah, kerja dari rumah tapi mau bagaimana, nasib penjual ikan harus keluar rumah, kalau tidak keluar rumah tidak dapat uang,” demikian kata Jeny.

Jeny menjelaskan, dirinya dan sang suami bekerja sebagai penjual ikan untuk membiayai pendidikan empat anak mereka dan juga untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga setiap hari.

Jika Jeny harus menyusuri gang-gang perumahan warga di Kota Maumere maka sang suami berjualan ikan dengan sepeda motor beberapa wiayah yang mengitari Kota Maumere.

“Kami kerja keras, karena harus tiap bulan mengangsur di koperasi kredit. Kami sudah pinjam untuk modal, untuk biaya sekolah anak-anak. Kami juga mesti tertib mengangsur setiap bulan,” demikian ujar Jeny.

Jeny pun mengakui kalau keluar rumah ia dan sang suami mengenakan masker dan selalu setia mencuci tangan. Meskipun keluar rumah setiap hari, Jeny mengakui kalau anjuran untuk menjaga jarak dari pembeli juga ia lakukan.

Wabah virus corona cukup mempengaruhi pendapatan mereka dari menjual ikan.  Ia berharap wabah corona segera berakhir, kehidupan kembali normal seperti biasanya.

“Kalau kondisi begini terus, kami penjual ikan keliling hidup akan semakin sulit,” katanya.

Sementara Ansemia Nurak penjual sayur skala kecil-kecilan asal Nirangkliung, Kecamatan Nita mengatakan, sejak pemerintah mengeluarkan aturan tinggal di rumah, pembeli yang datang ke pasar Alok turun drastis. Dampaknya juga bagi penjual sayur. Sayur tidak laku.

“Kalau sudah satu atau dua hari berarti sayur layu atau rusak. Kalau ada yang membeli untuk makanan babi ya dijual murah,” kisah ibu yang sudah 13 tahun menjanda ini lirih.

Ia mengaku, yang datang belanja di Pasar Alok hanya warga kota Maumere. Sementara warga dari kampung-kampung takut wabah corona. Terbukti tiap hari Selasa, Pasar Alok yang dulunya ramai sekarang sepi.

Ibu dua anak ini mengeluh uang simpanannya di rumah habis diambil untuk beli kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras.

“Kalau harapkan hasil jualan sekarang ini aduh setengah mati. Kadang mau pesan teh satu gelas untuk minum pun tidak bisa bayar,” keluhnya.

Anselmia juga mengatakan ketika petugas koperasi harian datang untuk tagihan, dirinya selalu berkeluh kesah dan minta tunda bayar.

“Saya pinjam di koperasi harian, baru-baru ini mereka datang tagih. Saya bilang sayur tidak laku terus ini karena efek corona. Syukur sekali petugasnya bisa maklumi keadaan saya,” demikian cerita Anselmia.

Yuven Fernandez

TERKINI
BACA JUGA