Dhake, Raksasa Pemikul Megalit di Kampung Adat Bena

Bajawa, Ekora NTT – Saat Ekora NTT mengunjungi Kampung Adat Bena, Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Selasa, 27 Desember 2018, masyarakat adat di sana sedang menyiapkan diri menggelar ritual adat Reba.

Seperti yang sudah kita ketahui, Bena adalah kampung pertama penyelenggara ritual adat Reba pada setiap tanggal 27 Desember sebelum kampung-kampung adat lainnya di Ngada melakukan ritual yang sama.

Walau demikian, suasana di Bena pagi itu tampak lengang. Petugas penerima karcis duduk di pendopo melayani para wisatawan. Bapak-bapak duduk merokok dan bercerita di beranda Sa’o, rumah adat.

Mama-mama dan nenek-nenek tua duduk bercerita di beranda yang sama. Anak-anak kecil bermain riang di pelataran kampung, tempat ngadhu, simbol keturunan laki-laki pertama, dan bhaga, simbol keturunan perempuan, bertahkta.

Para wisatawan sibuk melihat dan mengambil gambar.

iklan

Setelah mendaftarkan diri di buku pengunjung, membayar karcis Rp40.000,00 untuk dua orang, menerima selendang tenun ikat Bena, membaca papan informasi, Ekora NTT pun mulai menjejakkan kaki di setiap tapak tanah adat Bena.

Hawa dingin menusuk pori-pori tubuh. Tapi tidak surutkan semangat untuk melihat, berdecak kagum, bertanya, dan mengabadikan momen melalui kamera Android.

Setelah puas menikmati pesona Bena, Ekora NTT berbincang dengan penduduk asli, pengelola, dan para wisatawan.

Setiap liputan tentang kampung adat Bena hampir selalu menyinggung keberadaan megalit. Batu besar peninggalan masa prasejarah itu tersusun rapi di sekitar area kampung adat Bena yang pada 1995 lalu dicalonkan menjadi situs warisan dunia UNESCO itu.

Akan tetapi, sependek penelusuran Ekora NTT, tak satu pun liputan itu menyinggung mitos tentang Dhake si manusia raksasa pemikul megalit di kampung adat Bena.

Oleh karena itu, walau akan terlampau ringkas, liputan Ekora NTT kali ini akan mulai dengan membagi cerita tentang Dhake untuk selanjutnya menceritakan dampak ekonomi politik kampung adat Bena bagi masyarakat adat Bena.

Mitos tentang Dhake si manusia raksasa pemikul megalit diceritakan oleh Kepala Desa Tiworiwu, Sirilus Waso (39).

Sirilus mengisahkan, dahulu nian, ada seorang manusia raksasa. Penduduk setempat percaya, raksasa itu adalah orang yang memikul batu yang besar dan tinggi, megalit, ke tengah kampung.

Ia memikul batu besar itu sendirian. Ia tidak membutuhkan bantuan orang banyak. Akan tetapi, ia hanya mampu memikul batu-batu yang besar dan tidak bisa memikul batu-batu yang kecil.

Ia meninggalkan sebuah jejak berupa bekas tapak kaki pada salah satu megalit yang dipikulnya. Nama raksasa itu Dhake.

“Entah benar atau tidak, itulah cerita yang kami dengar turun temurun dari orang tua,” ungkap Sirilus.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tentang Dhake, masyarakat Bena sangat menghargai situs Kampung Adat Bena. Mereka sudah terlampau kuat terikat pada budaya dan tradisi.

Menghilangkan situs ini akan menimbulkan dampak dan risiko yang tinggi. Maka, perlu dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan adat dan budaya di tempat ini.

“Misalnya, hari ini, akan dimulai perayaan Reba yang akan berlangsung selama tiga hari mulai dari tanggal 27 Desember 2018 hingga 29 Desember 2018,” katanya.

Bagi penduduk, Bena bukan sekadar situs rumah adat tradisional yang eksotis, tetapi juga sudah dianggap sebagai tempat tinggal, tempat lahir, dan tempat kandungan orang tua.

Generasi penerus bertugas merawat dan melakukan ritual sesuai dengan prakarsa dan petunjuk nenek moyang.

Kampung Adat Bena sudah didirikan sejak dahulu kala sekalipun masyarakat tidak bisa memprediksi waktu pendiriannya secara akurat. Beberapa sumber menyebut, kampung dengan arsitektur kuno berbentuk perahu ini sudah berusia 1.200 tahun.

Hingga 2019, jumlah Sa’o, rumah adat tertua di Flores ini sudah mencapai 48 buah, termasuk di Kampung Tololela.

“Omong kapan didirikan, kita tanya ke orang tua, mereka bilang ini sudah dari orang tua. Kita tanya ke nenek, ini sudah dari kami punya orang tua,” tutur Sirilus.

“Kita tidak bisa prediksi tahun berapa didirikan. Kecuali insinyiur yang buat penelitian selama bertahun-tahun. Kira-kira batu ini dibangun tahun berapa. Kita tidak bisa prediksi tahun berapa,” tambahnya.

Inilah megalit di rumah adat Bena. Gambar diambil, Selasa (27/12).

Kunjungan Wisatawan

Walau tanggal kelahirannya tak pernah jelas, setiap hari, selalu ada kunjungan wisatawan di Bena. Biasanya, wisatawan domestik lebih banyak dari pada wisatawan mancanegara.

Para wisatawan mancanegara yang biasanya datang secara berkelompok sering inap di rumah-rumah penduduk.

Para wisatawan ramai mengunjungi Bena pada saat musim liburan tiba pada Juli dan Agustus. Kunjungan wisatawan akan berkurang kalau ada bencana seperti yang baru-baru ini terjadi di Kampung Adat Gurusina.

Kalau ada bencana, para wisatawan biasanya tinggal sementara di Labuan Bajo sebelum berkunjung ke Bena.

Kampung Adat Bena mendulang rupiah dari hasil penjualan tiket. Per Desember 2018, karcis wisatawan domestik Rp20.000,00, sedangkan karcis wisatawan mancanegara Rp25.000,00.

Dalam bulan-bulan yang ramai pengunjung, Bena bisa mendulang hingga Rp200 juta.

Pembagian penghasilan dari penjualan karcis dilakukan berdasarkan persentase. 40% untuk perawatan pembangunan rumah adat, lingkungan, dan perkampungan, 8% untuk Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, 17% untuk Desa Tiworiwu, 25% untuk pengelola, dan 10% untuk biaya pembersihan anak kampung setiap pagi dan sore hari.

Situs Rumah Adat Bena dikelola oleh tim khusus. Pengelola situs terdiri atas setiap utusan suku. Kampung Adat Bena sendiri ini memiliki 9 suku, yaitu Dizi Kae, Wato, Deru Solomai, Deru Lalulewa, Bena, Ago, Ngada, Dizi Aji, dan Kopa.

Keberadaan 9 suku itu dilambangkan dengan 9 ngadhu di tengah kampung. 9 ngadhu itu sendiri menunjuk pada 9 laki-laki pertama yang mendirikan suku. Di sini ada 9 suku, berarti ada 9 keturunan asli.

Setiap suku mengirim dua orang utusan. Ditambah dengan empat orang pengurus inti yang dipilih melalui organisasi, jumlah pengelola dan pengurus Kampung Adat Bena sebanyak 22 orang.

Dengan penghasilan ratusan juta rupiah, timbul pertanyaan, apakah Kampung Adat Bena tingkatkan kesejahteraan masyarakat?

Penduduk atau lebih tepatnya para pemilik Sa’o di Bena memperoleh penghasilan dari ongkos penginapan dan penjualan tenun ikat dan suvenir. Ongkos penginapan berkisar Rp100.000,00/orang/malam.

Selain itu, mereka menjual tenun ikat dan suvenir kepada para pengunjung. Suvenir terbuat dari bambu, tempurung kelapa, dan kayu-kayuan.

“Sovenir dari bambu menghasilkan gelas, tempurung kelapa, dari kayu-kayu. Gantungan-gantungan dari masing-masing rumah diambil dari biji Peteh hutan. Bisa dibuat palu atau gigi babi hutan dan babi biasa untuk dijual ke tamu,” ungkap Sirilus.

Seorang pengunjung dari Maumere, Martina mengaku bangga dengan keberadaan situs Kampung Adat Bena.

Ia mengunjungi Bena setelah menonton liputan tentangnya di media massa seperti Trans 7.

“Kami datang jauh-jauh dari Maumere hanya untuk menyaksikan langsung situs langka ini. Untuk daerah lain, kayaknya tidak ada, ya,” katanya.

Ia mengharapkan, pengelola memerhatikan kebersihan situs. Keberadaan WC dan kamar mandi umum tepat di pintu gerbang masuk sangat mengganggu kenyamanan pengunjung.

“Yah, aromanya tidak terlalu bagus. Apalagi pintunya terbuka,” katanya.

TERKINI
BACA JUGA