Museum Bikon Blewut Ledalero Koleksi Fosil Manusia Purba Flores Hingga Lukisan Jenderal Ahmad Yani

Maumere, Ekorantt.com – Bikon Blewut adalah nama salah satu museum kenamaan yang terkenal tidak hanya di Indonesia, tapi telah menjangkau seluruh dunia.

Terbukti dari banyak sekali para peneliti Eropa yang menjadikan rujukan dari koleksi-kolesi di museum ini untuk sumber riset tesis juga disertasi mereka.

Pada daftar buku tamu pengunjung museum dari tahun 1992 hingga saat ini kita dapat melihatnya.

Penjaga museum ini, Endi Paji (55) kepada Ekora NTT pada 26 April lalu mengemukakan, koleksi benda-benda di museum ini memang punya nilai sejarah juga daya pikatnya yang antik.

Museum Bikon Blewut Ledalero, Maumere, Flores

Menurut Endi, ada 92 ribu koleksi benda-benda yang tersimpan di museum ini. Mulai dari fosil manusia purba Flores, fosil gajah purba Flores, keris dongson, lukisan, sarung tenun, gading, dan aneka benda lainnya.

iklan

Museum milik Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero ini termasuk yang terbesar dan terlengkap di NTT.

Endi yang telah 35 tahun mengabdi di museum ini mengenal dengan baik semua benda koleksi Bikon Blewut. Berikut beberapa koleksi yang unik sekali dari museum ini.

Pertama, fosil manusia purba Flores. Ada tengkorak purba manusia Flores. Salah satu koleksi manusia purba Flores yang utuh saat ini masih berada di Museum Utrecht Belanda.

Fosil ini dibawa ke Belanda pada tahun 1960 dan sampai dengan saat ini masih tersimpan di sana. Pihak museum di Belanda mengakui bahwa koleksi utuh manusia purba Flores adalah milik museum Bikon Blewut.

Kedua, ada koleksi fosil gajah purba Flores. Menurut Endi Paji, ketika daratan masih menyatu diperkirakan gajah pernah hidup di Flores. Terbukti dari penemuan fosil gading gajah dan gigi gajah.

Di wilayah Watulemang, Kabupaten Sikka, pasca gempa 1992 dan dinding-dinding gua runtuh ditemukan banyaknya fosil gading dan gigi gajah.

Fosil Gajah Purba yang tersimpan di Museum Bikon Blewut Ledalero

Diperkirakan usia fosil gading gajah ini mencapai 80 ribu sampai dengan 300 ribu tahun lalu.

Di wilayah Tana Ai, Sikka masih terdapat gading gajah juga gigi gajah. Endi sendiri pernah mengambil gigi gajah di Werang, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka.

Ketiga, ada juga keris dongson, satu-satunya keris yang ada di Indonesia tersimpan di sini.

Kisah tentang keris ini dapat dijumpai pada beberapa prasasti di Indonesia. Salah satunya ada di wilayah Wolotolo, Kabupaten Ende pada sebuah batu besar bergambar keris ini.

Nama batu bergambar keris ini adalah Watu Weti.

Keris ini hanya ada satu di museum Blikon Blewut Ledalero dan di daerah asal keris ini di Indo-Cina, Vietnam Utara.

Keempat, koleksi lukisan Jendral Ahmad Yani dan lukisan Rendo. Dua lukisan ini punya nilai sejarah yang sangat unik dan berharga.

Lukisan Ahmad Yani, pahlawan revolusi Indonesia dilukis di Ledalero pada siang hari pada 30 September 1965.

Namun, pada malam harinya diperoleh kabar melalui radio bahwa Ahmad Yani mati terbunuh.

Sang pelukis, Frater Bosko Beding, SVD waktu itu langsung menurunkan lukisannya dan mengubah keterangan pada foto tersebut dengan menulis Jenderal Anumerta Ahmad Yani.

Ada juga lukisan seorang perempuan berdarah Portugis dan Flores bernama Rendo.

Dilukis oleh Ahmad Dean dari Pulau Ende pada tahun 1974. Lukisan ini menampakkan keanggunan Rendo berdasarkan sebuah buku dalam bahasa Portugis.

Ia menjadi rebutan para lelaki baik para lelaki Portugis maupun lelaki Pulau Ende.

Terjadi perang antara Portugis dan warga Pulau Ende selama sepuluh tahun, dari 1620-1630.

Karena ketakutan, Rendo lalu melarikan diri dari Pulau Ende dengan perahu. Tiba di pantai Ende karena kelelahan mendayung, Rendo akhirnya meninggal.

Kisah tentang Rendo ini pernah ditulis oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia dan dipentaskan pada saat pembuangannya di Ende.

 

 

 

TERKINI
BACA JUGA