Makna Lebaran bagi Nelayan di Wuring

Wuring, Ekorantt.com– Lebaran baru saja usai. Namun, maknanya senantiasa meninggalkan bekas dan jadi bekal bagi perjalanan hidup umat muslim yang merayakan. Terutama dialami oleh kalangan masyarakat kecil, seperti petani, buruh ataupun nelayan.

Di kampung Wuring misalnya, Ekora NTT sempat menjumpai seorang nelayan bernama Rusli (31), Jumat, (7/6/2019), yang rumahnya berada di kompleks paling ujung dari lanskap wilayah tersebut. Ditemani istrinya, Aisyah, Rusli sedang santai sore di beranda rumah. Dia lagi tak melaut dan sepertinya masih larut dalam perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1440 H.

Ekora NTT kemudian menanyakan makna Idul Fitri dan juga Lebaran bagi pria yang telah 7 tahun menjalani laku profesi sebagai nelayan itu. Dia bilang bahwa sebagai kepala keluarga, poin pertama dan utama yang dia lakukan ialah memohon maaf kepada istri dan anaknya.

Rusli juga bercerita bahwa pada momen Lebaran, beberapa anggota keluarganya datang bersilaturahmi ke rumah dan sebagaimana lazimnya tradisi Lebaran, mereka saling memaafkan satu sama lain. “Ini kebiasaan kami sejak dulu,” katanya.

Makna lain yang Rusli sampaikan terinspirasi dari khotbah waktu ikut salah Tarawih di halaman dermaga tengah Wuring. Imam pemimpin salat memberikan pesan agar umat muslim, terutama di Wuring, mesti memiliki pribadi yang baik, pandai menata pergaulan dan tak boleh terjerumus ke hal-hal serampangan. “Lebih ke sopan santun dalam bergaul. Hidup harus saling menghargai satu sama lain,” papar Rusli.

iklan

Selain itu, Rusli juga sempat menceritakan pengalaman ketika menjalankan ibadah puasa. Selama bulan puasa, Rusli tetap melaut seperti biasa dan taat berpuasa. Bahkan, momen sahurnya dia jalankan di tengah laut. “Ya, karena saya turun laut jam 1 dini hari sehingga sahurnya memang harus di laut. Bawa makanan untuk berbuka dari rumah.”

Rusli mengaku tak mengalami kendala ketika menjalankan ibadah puasa tersebut. Dia malah bersyukur sebab bisa menikmati peristiwa asyik macam itu. “Ada beberapa teman yang foto waktu sahur di laut,” jelasnya lebih lanjut.

Selain Rusli, figur lain yang Ekora NTT temui bernama Sahril (43) yang sehari-hari menjadi ABK di lempara-lempara atau kapal-kapal ikan kecil. Bagi Sahril, makna lebaran tahun ini menjadi refleksi dia agar selalu ingat Tuhan dalam laku aktivitasnya yang sehari-hari berada di tengah lautan luas. Ingat akan Tuhan ini tampak dalam beragam hal. Agar dia selalu bersyukur jika tangkapan ikannya  sedikit dan juga tentu saja mohon restu agar dia terhindarkan dari mara bahaya.

“Di laut, segala risiko pasti akan kita hadapi. Jadi harus selalu ingat dengan Yang di Atas,” beber Sahril.

TERKINI
BACA JUGA