Mahasiswa UNWIRA Adakan KKBM di Desa Watuliwung

Watuliwung, Ekorantt.com – Mahasiswa Program Studi (Progdi) Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Widya Mandiri (UNWIRA) Kupang melakukan Kegiatan Kemah Kerja Bakti Mahasiswa (KKBM) tahun 2019 di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Kedatangan mahasiswa KKBM UNWIRA mendapat sambutan meriah dari warga Desa Watuliwung pada Selasa (8/7/2019) di Kantor Desa Watuliwung.

Tampak penari Hegong, yang didominasi kaum ibu dan kaum bapak penabuh Gong Waning, serta warga Watuliwung antusias mengiringi para dosen beserta rombongan mahasiswa KKBM dari jalan menuju Aula Kantor Desa Watuliwung.

Sebelum memasuki pintu gerbang Kantor Desa Watuliwung, rombongan disapa oleh Petua Adat Desa Watuliwung, Petrus Daniel, dan mendapat percikan air ‘Huler Wair’.

Setelah itu, dua ibu yang mengenakan sarung dan baju tengge berwarnah putih memberikan pengalungan ‘selempang’ tenun ikat khas Watuliwung kepada para dosen pendamping.

iklan

Usai pengalungan selempang kepada dosen pendamping, mahasiswa KKBM dan para dosen pendamping bergegas menuju Aula Kantor Desa Watuliwung.

Mahasiswa KKBM itu didampingi oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Wilhelmus Mustari, SE, M.Acc, Kornelius K. Kroon, SE, MM, Yohanes Pemandi Lian, Leopald M.T.Dawu, SE, MM, dan Maria O.V.Moi, SE, M.Sc.

Adapun tema pada KKBM 2019 adalah “Membangun Kasih dan Kekeluargaan di Tengah Masyarakat”.

Kegiatan KKBM UNWIRA akan berlangsung selama satu minggu, dari Selasa (8/7) hingga (14/7).

Dosen Pendamping Lapangan, Kornelius K. Kroon, dalam sambutan, menjelaskan, di UNWIRA terdapat salah satu program studi, yakni program studi akuntansi.

Dan sesuai rencana kerja Himpunan Mahasiswa Program Akutansi, salah satu program kerja mereka adalah melaksanakan Kegiatan Kemah Kerja Bakti Mahasiswa (KKBM).

“Tahun 2018/2019 melalui rapat dan kesepakatan bersama panitia, akhirnya panitia memutuskan lokasi KKBM 2019 berlangsung di Kabupaten Sikka, ” ujar Kornelis.

Menurut Kornelis, berdasarkan hasil kesepakatan rapat itu, panitia kemudian melakukakn survei beberapa lokasi di Kabupaten Sikka.

Pertama lokasi yang disurvei adalah kecamatan Kewapante. Tetapi ada satu dan dua kendala, sehingga kegiatan itu belum bisa dilangsungkan di Kecamatan Kewapante.

Lalu di Kecamatan Kangae, khususnya di Desa Watuliwung, pihaknya mendapat respons baik dari Camat dan Kepala Desa bersama jajarannya yang bersedia menerima untuk pelaksanaan KKBM di tempat termaksud.

“Untuk itu, pada tempat pertama ini kita memberikan aplaus kepada Camat dan jajaran, Kepala Desa dan jajaran, karena telah berkenan menerima kehadiran kita untuk melaksanakan KKBM di lokasi ini, dari hari ini sampai hari Minggu nanti,” ungkapnya.

Dia juga tambahkan bahwa sejak tahun 2008 dalam melaksanakan KKBM, baik menyemat status sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen, dia belum pernah mengalami peristiwa penerimaan yang menggugah hati.

“Adik-adik bisa bayangkan, mama-mama dengan sukarela menjemput kita dengan tarian tanpa alas kaki. Itu mesti adik-adik ingat, hanya karena kita, seorang mama menjemput kita dibawah terik matahari tanpa alas kaki. Itu menunjukan kepada kita, keterbukaan untuk menerima kita.”

“Kalau seorang ibu sudah menerima kita, perilaku kita sebagai anak itu apa. Apa yang bisa kita buat. Kita, satu detik saja di aspal saja sudah lari. Coba bayangkan dari aspal menuju aula ini,” ungkap Kornelis sembari menitikkan air mata.

Kita datang belajar di masyarakat karena pendidikan tidak hanya di bangku pendidikan tetapi juga diperoleh lingkungan di masyarakat, demikian tegasnya.

Sembari meminta peserta KKBM untuk ikut kegiatan dengan sebaik-baiknya. Dan dengan [erasaan sebagai tunas bangsa dan generasi bangsa harus memberikan harapan dan contoh yang baik untuk banyak orang.

Sekretaris Camat (Sekcam) Kangae, Arkadius mewakili Camat Kangae, dalam sambutannya, menjelaskan di Kecamatan Kangae terdapat 9 desa dengan jumlah penduduk sebanyak 20 ribu orang.

“SMA ada sati. Baru tahun ini kita rintis untuk SMA Negeri. Kalau SMP, empat. Dua SMP Negeri, dan dua SMP Swasta. SD ada tujuh belas dan PAUD ada tiga belas,” terang Arka.

Ia mengatakan, Kecamatan Kangae seyogianya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, tetapi itu masih sangat jauh panggang dari apai.

Padahal menurut canangan progam pemerintah, pada tahun 2023 nanti, seluruh warga bercita-cita memiliki peningkatan indeks hidup bahagia.

Makanya, aku dia, kehadiran mahasiswa KKBM UNWIRA di Desa Watuliwung dapat merubah tren hidup masyarakat di Kecamatan Kangae yang masih banyak mengalami segala keterbatsan.

“Kami di Kangae ini masih mengalami keterbatasan, baik itu kemampuan dasar, kemampuan institusional, kemampuan ke-Indonesiaan, kemampuan global, dan kami juga kesulitan air,” kata Arka.

Meskipun begitu, dikatakan Sekcam Arka, yang menjadi kebanggaan mereka adalah UNWIRA menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang melaksanakan KKBM di Desa Watuliwung.

Kepala Desa (Kades) Watuliwung, Yulius Simprosius, dalam sambutan sekaligus membuka KKBM UNWIRA Kupang 2019, mengatakan, awalnya pihaknya menerima berita dari dosen UNWIRA bahwa akan ada KKBM di Desa Watuliwung.

Mendengar berita itu, mereka pun langsung berkoordinasi dengan BPD, LPM, Kepala Dusun, (Kadus) Ketua RT dan RW, dan warga Desa Watuliwung.

Dan, ternyata kami sepakat meskipun saat ini kami sedang sibuk dengan Pengelolaan Dana Desa, APBdes, dan RKPdes, pungkasnya.

“Kalau untuk kegiatan mahasiswa, tetap di hati, warga desa kami sangat terbuka menerima. Kami tidak akan tolak, karena mereka generasi penerus bangsa ini, ” ujar Kades Watuliwung.

Ia berharap, kehadiran dosen dan mahasiswa ini bisa memacu adik-adik yang masih SMA agar bisa mengetahui KKBM itu seperti apa.

Menurut Kades Yulius, kerja bakti adalah gotong royong, sebuah warisan leluhur. Sehingga dengan kehadiran para mahasiswa ini bisa menggugah kembali kebersamaan, dalam hal gotong royong.

“Kebahagiaan itu kalau dibagi akan bertambah. Penderitaan itu kalau dibagi akan berkurang,” tutup Kades Watuliwung.

Usai acara penerimaan para dosen dan rombongan mahasiswa KKBM UNWIRA Kupang 2019, para mahasiswa kemudian dibagi ke rumah-rumah warga.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA