Aksi Coret-moret Marak di Maumere

Maumere, Ekorantt.com – Hampir tidak ada tempat publik di Maumere yang bersih dari vandalisme alias aksi coret-moret di tempat umum.

Vandalisme membuat wajah kota Maumere tampak jorok dan kumuh.

Di samping itu, ia juga menimbulkan kerugian ekonomi. Sebab, coret-coret itu lebih banyak dibuat di tempat yang dikerjakan oleh orang profesional. Yang tentu saja ada biaya pengerjaannya.

Penilaian ini datang dari Vinsen Ditus. Kepada Ekora NTT, jebolan STFK Ledalero ini, mengatakan bahwa fenomena vandalisme adalah ekspresi mental masyarakat yang tidak tahu menghargai orang lain dan tidak paham akan keteraturan dan keindahan.

Untuk meminimalisasi hal ini, putra Manggarai ini menawarkan solusi berupa langkah jangka pendek, yakni larangan vandalisme dan pemberian hukum mulai dari tingkat RT/RW.

iklan

Sementara jangka panjangnya, berupa penyusunan Perda soal pelarangan vandalisme dan kegiatan pembiasaan menghargai orang, barang dan keindahan yang diwajibkan di masyarakat dan sekolah.

Senada dengan Vinsen, Yosef don Bosco Fernandes, warga Waioti-Maumere, mengatakan, vandalisme sebagai ekspresi agresivitas yang salah.

“Saya menilai vandalisme itu cikal bakal tumbuhnya perilaku tak tahu menghargai sesama dan realitas kelemahan orangtua dalam mendidik anaknya. Kekosongan hati anak akan pengakuan diri sebagai anak yang dikasihi. Narsisme anak yang menegasi nilai moral,” tandas jebolan Fakultas Filsafat Agama UNWIRA Kupang ini.

Dalam pengamatan Bosco, demikian ia biasa disapa, vandalisme di kota yang pernah dijamah Paus Yohanes Paulus II ini sudah parah.

Bahkan putra Kloangpopot ini agak keras mengatakan vandalisme sebagai bentuk ekspresi moral yang busuk.

Untuk itu, katanya lagi, semua pihak perlu duduk bersama untuk diskusi.

“Gereja, pemerintah dan pihak sekolah perlu mulai membunuh bibit perilaku kurang  baik ini untuk tahu menghargai milik orang lain sebagai bagian dari moralitas Kristiani untuk mencapai hidup ugahari lewat aturan yang disepakati bersama,” ujar Bosco.

Selama 1 jam, Ekora NTT memantau tenpat-tempat yang menjadi sasaran empuk para vandalis, yakni tembok belakang Pasar Alok, Jalan Litbang, Kompleks Pertokoan, Jalan Gajah Mada, Jalan Ahmad Yani, Kota Uneng, dan Kampung Beru.

“Pak, saya sudah cape untuk omong soal aksi coret-moret ini. Sehabis cat tembok pagar rumah saya, anak-anak mabuk selalu pilox dan tulis kata-kata jorok,” ujar ibu Maria yang rumahnya berlokasi di depan Jalan Ahmad Yani.

Sementara itu, pelukis realis-naturalis, Dany Wati, yang juga merupakan pemilik Galery Blok M Plaza Jakarta Selatan, ketika dimintai komentarnya, mengatakan, aksi coret-moret ini akibat tidak ada wadah untuk anak-anak menyalurkan bakat melukisnya.

 “Sebenarnya kalau Pemda Sikka mau, lewat Dinas Kebersihan, bisa menyelenggarakan lomba grafiting dengan ide tertentu. Semisal di Gelora Samador, ide sepak bola. Silakan mereka menyalurkan bakatnya dan harus dilombakan dan mendapatkan hadiah yang layak,” ujar Dany yang usahanya kini menempati sebuah kapling di Pusat Jajanan dan Cinderamata Pasar Bongkar Perumnas, Jalan Anggrek Kota Uneng Maumere.

Dany juga meminta Pemda Sikka untuk menyiapkan sebuah wadah untuk para seniman berekspresi.

“Banyak pelukis yang tercecer dan kalau dibina terus akan menghasilkan pelukis andal. Untuk itu Taman Tsunami itu cocok untuk para seniman. Di taman tersebut dibangun kios-kios kecil untuk para seniman dan bisa dipungut biaya,” pinta Dany.

(Yuven Fernandez)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA